Globalisasi dalam Sudut Pandang Para Penganut Globalisme (Globalists): Perkembangan Teknologi dan Dominasi Budaya Kapitalis

Tinggalkan komentar

o Latar Belakang
Neil Postman pernah memperingatkan, saat kehidupan kultural didefinisikan kembali sebagai arus hiburan tanpa henti, bila wacana serius publik, seperti agama, kemanusiaan, ketidakadilan, telah menjadi sebentuk ocehan bayi dan acara televisi telah menjadi substansi dari agama, maka sebuah bangsa akan berada ditepi jurang kematian kebudayaannya (Wibowo Fred:2007:11).
Suku-suku di Papua sedang mengalami geger budaya atau bukan tidak mungkin. Banyak studi atau penelitian membuktikan bahwa dibalik kemajuan pembangunan di Papua, pada saat yang sama, suku-suku di Papua yang tidak kuat dan kurang beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung cepat di wilayahnya, sedang mengalami geger budaya. Geger budaya sejak industri-industri masuk ke wilayah Papua, bahkan saat ini semakin intensif, menunjukkan sebuah perubahan sosial-budaya yang sangat drastis. Perubahan tersebut dapat terlihat dari bagaimana masyarakat Papua telah mengenal teknologi modern dalam kurun waktu tiga dekade. Teknologi modern memberikan sebuah perubahan baru dalam kehidupan masyarakat Papua dan fenomena ini, kini sedang menjadi sebuah pergulatan dalam masyarakat Papua, bahwa bagaimana mereka dapat menerima kebudayaan baru, yang datang dari luar lingkungannya, tanpa mengalami pergeseran nilai budaya asli, yang pastinya akan berdampak pada tatanan hidup mereka.
Budaya lokal berada pada posisi terancam. Budaya lokal bertahan atau bergeser tergantung pada legitimasi adat, komunitas/suku-suku yang berada di Papua sebagai penganut dan pelaksana budayanya. Komunitas adat yang lemah pastinya akan berdampak pada gegernya nilai-nilai baik dari komunitas local itu. Komunitas lokal yang kuat pasti akan mempertahankan nilai-nilai hidup baik sekali pun arus golobalisai atau indutrialisasi mengerogoti ketahanan budaya. Fenomena pergeseran nilai budaya asli tersebut dapat timbul akibat kebijakan-kebijakan pembangunan yang tidak berpihak kepada masyarakat Papua tanpa mempertimbangkan adanya hak-hak cultural warga negara yang harus dilindungi dan dihormati yang di dalamnya terdapat unsur legitimasi Adat. Misalnya, kehadiran dan keberadaan perusahaan-perusahaan lokal, nasional dan multiinternasional yang ada, misalnya; PT. Freeport Indonesia Mc moran, sebagai pihak yang mengelola pertambangan emas di wilayah kabupaten Timika. PT. British Petroleum yang mengelola gas dan minyak bumi di Bintuni. PT. Rajawali, PT.PN II Arso yang mengelola minyak kelapa sawit di Kabupaten Arso.
Keberadaan dan kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut telah mengeksploitasi sumber daya alam Papua secara besar-besaran. Ekplorasi itu mengakibatkan rusaknya ekosistem alam. Rusaknya ekosistem laut akibat pembuangan limbah, suku-suku asli kehilangan Hak Ulayat dan mata pencaharian akibat ilega loging, tambang, dan perusahaan kelapa sawit yang membabat habis hutan sagu. Fenomena ini semakin menjelaskan bahwa keberadaan industri memberi dampak semakin melemahnya legitimasi Adat-istiadat dan tradisi masyarakat Papua yang dengan mudah, dapat dimanfaatkan pada momen-momen tertentu untuk kepentingan beberapa pihak semata. Misalnya, kepentingan kaum pemodal dan politikus yang raskus kekayaan dan jabatan. Melemahnya legitimasi adat itu sangat terlihat lagi dari perilaku anak muda. Anak muda Papua tegelam dalam Budaya Massa. Kata mereka yang tegelaman itu “cuek is the best”. Cuek terhadap sorotan, tuduhan dan harapan kaum tua kepada kaum mudah sebagai generasi pewaris nilai-nilai budaya asli. Sikap cuek ini mengungkapkan bahwa globalisasi cukup memberikan potensi yang sangat signifikan dan mampu mempengaruhi kehidupan anak muda Papua dewasa ini. Kaum muda Papua mengikuti gaya selebritis media massa seperti, Televisi, Internet, Telepon Seluler (Hp), dan lain sebagainya.

o Permasalahan
Perkembangan teknologi yang terjadi di Papua tidak dapat dipungkiri lagi berjalan searah dengan masuknya globalisasi di Papua. Dengan adanya perkembangan teknologi yang digunakan oleh masyarakat Papua yang dahulu disebut primitif berubah menjadi masyarakat yang “melek teknologi” sehingga memunculkan interaksi budaya antara budaya lokal dengan buadaya luar Papua. Dalam artikel tersebut juga bahwa anak muda Papua saat ini tenggelam dalam Budaya Massa dan kaum muda Papua mengikuti gaya selebritis media massa layaknya di Televisi dan Internet.
Dalam kasus ini dapat kita lihat dampak dari perkembangan teknologi bagi masyarakat Papua sehingga terjadi interaksi budaya luar dengan budaya lokal. Namun bagaimanakah kasus yang terjadi di Papua ini dari sudut pandang para Globalists? Serta apa kritik untuk para globalist terhadap kasus yang terjadi di Papua tersebut?

o Pembahasan
Globalisasi adalah satu kata yang mungkin paling banyak dibicarakan orang selama lima tahun terakhir ini dengan pemahaman makna yang beragam. Namun, apa yang dipahami dengan istilah globalisasi akhirnya membawa kesadaran bagi manusia, bahwa semua penghuni planet ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan begitu saja satu sama lain walau ada rentang jarak yang secara fisik membentang. Dunia dipandang sebagai satu kesatuan dimana semua manusia di muka bumi ini terhubung satu sama lain dalam jaring-jaring kepentingan yang amat luas.Pembicaraan mengenai globalisasi adalah pembicaraan mengenai topik yang amat luas yang melingkupi aspek mendasar kehidupan manusia dari budaya, politik, ekonomi dan sosial.
Globalisasi juga merupakan fenomena sosial-budaya yang dengan cepat merubah pola hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Globalisasi pun menawarkan kepuasan individual dan golongan yang semakin menekan pengambilan keputusan dengan resiko yang sangat riskan. Keputusan tanpa pertimbangan matang, yang berdampak pada terancamnya keberadaan sebuah kebudayaan asli. Semisal, keputusan melalui kesombongan teknologi, ekonomi, politik, yang secara berangsur dapat dengan mudah menggeser nilai-nilai budaya atau tradisi asli. Globalisasi di bidang ekonomi barangkali kini menjadi kerangka acuan dan sekaligus contoh yang saat ini paling jelas menggambarkan bagaimana sebuah kebijakan global bisa berdampak pada banyak orang di tingkat lokal, sementara wacana globalisasi dalam hal yang lain mungkin tidak begitu mudah diamati secara jelas.
Dari sudut pandang para Globalists, globalisasi sebagai sebuah perkembangan yang tak terelakkan yang tidak dapat ditahan atau secara signifikan dipengaruhi oleh campur tangan manusia, khususnya melalui lembaga – lembaga politik tradisional, seperti negara – bangsa. Para Globalis neo-liberal beragumen bahwa globalisasi sebagai kemenangan otonomi individu, dan prinsip pasar atas kekuasaan negara. Mereka menekankan manfaat dari teknologi baru, komunikasi global dan kontak budaya meningkat.
Pada kasus di Papua ini dapat kita lihat bahwa Globalisasi yang terjadi di Papua ini merupakan fenomena transformasi dari teknologi lama beralih ke teknologi baru yang lebih canggih dan maju. Adanya penggunaan teknologi baru di Papua khususnya dalam bidang komunikasi dan informasi secara langsung atau tidak langsung teerjadi interaksi budaya antara budaya lokal Papua dengan budaya dari luar Papua. Selain itu dari sudut pandang para globalis neo-liberal yang melihat globalisasi sebagai kemenangan otonomi individu dan prinsip pasar atas kekuasaan negara, kasus yang terjadi di Papua ini juga salah satu kemenangan otonomi individu dan kekuasaan daerah untuk menentukan langkah – langkah nasib masyarakat Papua. Kebebasan individu masyarakat Papua seperti memperoleh pendidikan, keamanan, dan kehidupan yang layak mudah didapatkan dengan adanya globalisasi diseluruh aspek kehidupan bermasyarakat di Papua.
Sedangkan menurut para globalists Neo-Marxis yang menekankan globalisasi sebagai dominasi kepentingan ekonomi dan politik ini, melihat kasus yang terjadi di Papua ini merupakan dominasi dari kepentingan ekonomi yang mana banyaknya perusahaan tambang asing yang berdiri untuk memberikan investasinya di daerah – daerah di Papua untuk mengelola tambang yang ada di Papua. Dilain pihak, dominasi politik juga terjadi karena adanya kepentingan kelompok tertentu untuk menguasai sehingga dominasi ekonomi yang ada merupakan politik cost untuk kepentingan kelompok tertentu.
Antara negatif dan positif dampak yang terjadi pada Papua. Adanya pengenalan, penggunaan, serta perkembangan dari teknologi lama ke teknologi baru merupakan suatu kemajuan yang positif untuk masyarakat di Papua sehingga masyarakat Papua menjadi “melek teknologi”. Selain itu dampak positif yang diberikan oleh globalisasi di Papua ialah adanya kontak budaya antara budaya lokal dengan budaya diluar Papua sehingga menjadikan masyarakat Papua mengetahui keanekaragam budaya yang ada atau bahkan terjadi perkawinan budaya antara budaya asli Papua dengan budaya diluar Papua. Tidak hanya dampak positif saja yang didapat oleh masyarakat Papua tetapi dampak negatif juga yang diterima oleh masyarakat Papua. Adanya “melek teknologi” yang dialami masyarakat Papua juga memberikan dampak negatif yaitu dengan adanya perkembangan teknologi menjadikan perubahan gaya hidup atau pola konsumsi masyarakat Papua. Pergeseran nilai dan degradasi norma serta budaya merupakan akibat negatif dari globalisasi. Anak muda Papua saat ini dapat katanya “cuek” terhadap kelesatarian budaya leluhur mereka karena lebih memilih budaya populer atau budaya asing untuk diikuti perkembangannya.
Dari segi sosial, dampak negatif globalisasi di Papua ini adalah terpaan media massa luar yang memperlihatkan pola hidup yang berbeda di Papua sehingga masyarakat terpengaruh mengikuti pola hidup konsumtif dan hedonis. Selain itu dari segi SARA, memang dengan adanya globalisasi akan timbul toleransi yang tinggi tetapi tidak dapat dihindari pula gesekan – gesekan yang berbau SARA memberikan perpecahan konflik dan perang saudara yang ada di Papua.
Namun dampak yang sebenarnya buruk dari globalisasi itu sendiri ialah dominasi budaya kapitalis yang terjadi diseluruh bagian kehidupan di masyarakat. Hal ini dapat terjadi akibat dominasi kepentingan ekonomi yang timbul di daerah Papua. Dengan adanya sumberdaya tambang yang melimpah di Papua merupakan salah satu faktor kunci timbulnya dominasi kapitalis yang juga didasarkan adanya kepentingan ekonomi yang dibawa oleh suatu kelompok tertentu sebagai alasan politik cost mereka. Dalam kasus di Papua banyak sekali perusahaan asing yang berdiri misalnya PT. Freeport Indonesia Mc moran, sebagai pihak yang mengelola pertambangan emas di wilayah kabupaten Timika. PT. British Petroleum yang mengelola gas dan minyak bumi di Bintuni. PT. Rajawali, PT.PN II Arso yang mengelola minyak kelapa sawit di Kabupaten Arso. Secara tidak langsung perusahaan asing ini membawa budaya dari mana mereka berasal dan diasimilasikan atau akulturasikan dengan budaya lokal. Memang adanya asimilasi dan akulturasi budaya ini merupakan hal baik namun dibalik semua itu akan muncul dominasi budaya kapitalis melalui program – program CSR perusahaan asing tersebut yang diberikan kepada masyarakat setempat.
Dampak dominasi budaya kapitalis tidak hanya datang dari globalisasi yang menekankan kepentingan ekonomi saja tetapi perlu kita ingat juga bahwa dominasi budaya kapitalis yang muncul juga dari media massa. Dimana peranan media massa yang kuat apalagi dengan adanya perkembangan teknologi dibidang informasi dan komunikasi memberikan jalan mulus bagi medi untuk memberikan paradigma atau opini publik mereka. Dalam teori komunikasi massa dimana Teori Imperialisme Budaya berasumsi bahwa media massa barat menguasai seluruh media massa di dunia. Dengan kata lain media massa barat menguasai media massa negara ketiga. Kembali pada dominasi budaya kapitalis yang muncul oleh peranan media massa dengan menghadirkan acara – acara media massa yang berbau kapitalis melalui cara penyajian dan penyiaran yang menarik sehingga masyarakat lokal tertarik untuk melihat atau bahkan “membeli” acara tersebut. Hal inilah yang menjadikan Globalisasi sebagai fenomena dilema sosial – budaya yang kompleks karena memberikan efek yang dapat dikatakan untung tetapi rugi atau rugi tetapi untung bagi masyarakat luas pada umumnya dan masyarakat Papua pada khususnya yang terkena arus globalisasi ini.

o Penutup
Adanya pengenalan, penggunaan, serta perkembangan dari teknologi lama ke teknologi baru merupakan suatu kemajuan yang positif untuk masyarakat di Papua sehingga masyarakat Papua menjadi “melek teknologi”; adanya kontak budaya antara budaya lokal dengan budaya diluar Papua sehingga menjadikan masyarakat Papua mengetahui keanekaragam budaya yang ada atau bahkan terjadi perkawinan budaya antara budaya asli Papua dengan budaya diluar Papua; pergeseran nilai dan degradasi norma serta budaya merupakan akibat negatif dari globalisasi; gesekan – gesekan yang berbau SARA memberikan perpecahan konflik dan perang saudara yang ada di Papua; dan dominasi budaya kapitalis yang terjadi diseluruh bagian kehidupan di masyarakat itu semua merupakan sisi positif dan negatif yang terjadi pada globalisasi di daerah Papua.
Terlepas dari itu semua, globalisasi bagaikan fenomena dilema sosial – budaya yang kompleks. Banyak faktor yang saling mempengaruhi aspek satu dengan aspek yang lainnya. Dampak pun bagaikan dua mata pisau yang tajam. Namun yang terjadi pada proses globalisasi tersebut merupakan suatu cara bagaimana masyarakat untuk melangkah lebih dewasa dan baik lagi melalui adanya proses – proses yang positif atau pun negatif dalam setiap perubahan sosial bermasyarakat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://beritamanado.com/more/opini/globalisasi-mengancam-budaya-papua/117693/, (diunduh pada tanggal 30 Oktober 2012).

Servaes, J. 2008. Communication for Development and Social Change. Singapore: SAGE
Publications Asia-Pacific Pte Ltd.

MUSIK DAN GENDER: REPRESENTASI PERJUANGAN GENDER TERBALIK PADA LAGU FRAU I’M A SIR DAN THE PANASDALAM BAND CITA – CITAKU

Tinggalkan komentar

          Dunia musik tidak mengenal batas wilayah, usia, ras dan sebagainya. Musik bisa dinikmati oleh siapapun juga. Saat ini, musik berkembang mengikuti perkembangan pola pikir manusia. Ini yang menyebabkan jenis musik menjadi lebih beragam. Begitu pula perkembangan dunia musik di Indonesia yang menarik untuk diikuti. Karena perkembagan musik di Indonesia dewasa ini selalu mengikuti perkembangan waktu yang ada di Indonesia. Industri musik di Indonesia tidak bisa dipungkiri apabila dalam proses perkembangannya memiliki andil dalam perkembangan seni pula di Indonesia. Dari perkembangan musik ini muncul artis – artis atau penyanyi dan band yang menciptakan karya mereka. Tidak hanya artis, penyanyi, atau band saja yang muncul akibat pesat perkembangan musik, bahkan aliran musik pun menjadi lebih bervariasi dalam berkarya dari dangdut hingga jazz. Semua berkembang sesuai perkembangan kondisi dan waktu saat ini. Sebagai ungkapan rasa hati, musik juga digunakan sebagai arus perjuangan bagi minoritas kelompok untuk menyuarakan keberadaan mereka, tujuan, atau apa yang sedang terjadi di sekitar lingkungan kita. Penggunaan musik sebagai penyuara perjuangan atau penggambaran apa yang sedang terjadi di sekitar lingkungan kita ini diperlihatkan oleh dua seniman dibidang musik yaitu Frau dan The PanasDalam Band. Mereka ini menyuarakan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita melalui lirik dilagu – lagu mereka dengan balutan aliran musik dan keunikan cara mereka bermain musik. Satu lagu yang sangat menarik untuk dibahas dimana kedua seniman ini melihat perjuangan gender secara unik dengan sudut pandangan yang berbeda. Frau dengan lagu berjudul I’m a Sir sedangkan The PanasDalam Band dengan judul lagu Cita – citaku merupakan cara dua seniman ini menyuarakan gender dengan cara mereka masing.

Apa itu Musik, Gender, dan Bentuk Perjuangannya?

Secara harfiah kata musik berasal dari bahasa Yunani yaitu Mousal yang memiliki arti sembilan dewi yang menguasai seni, seni murni dan seni pengetahuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musik diartikan sebagai ilmu atau seni penyusunan nada atau suara di urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Musik merupakan bagian kesenian dan kesenian merupakan kebudayaan sehingga dapat dimaknai bahwa musik merupakan salah satu kebudayaan manusia dimana keterkaitan antara musik dan manusia selalu menjadi fokus kajian karena kebudayaan musik adalah produk konseptual (cognitive) dan perilaku (behavior) masyarakat. Terkadang musik merupakan sebuah gambaran dari kehidupan masyarakat pada saat itu seperti yang diungkapakan oleh Merriam pada buku “The Anthropology of Music” (1962: 32 – 33), musik merupakan suatu lambang yang berkaitan dengan hal – hal ide, maupun perilaku masyarakat. Pada hakikatnya musik merupakan sebuah bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya dan merupakan ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran dimana dalam pengungkapannya merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat pada saat tertentu.

Gender itu berasal dari bahasa latin “genus” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Menurut Ilmu Sosiologi dan Antropologi, gender itu sendiri adalah perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan. Misalnya laki-laki mempunyai penis, memproduksi sperma dan menghamili, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui dan menopause. Dalam beberapa teori, definisi gender sendiri memiliki banyak pemahaman, misalnya saja menurut teori kodrat alam yang mengungkapkan bahwa teori ini melihat perbedaan biologis yang membedakan jenis kelamin dalam memandang jender (Suryadi dan Idris, 2004). Teori ini dibagi menjadi dua yaitu:

  • Teori Nature:  Teori ini memandang perbedaan gender sebagai kodrat alam yang tidak perlu dipermasalahkan.
  • Teori Nurture: Teori ini lebih memandang perbedaan gender sebagai hasil rekayasa budaya dan bukan kodrati, sehingga perbedaan gender tidak berlaku universal dan dapat dipertukarkan.

Pada hakikatnya gender merupakan perbedaan – perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan bukan berdasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas.

Dalam konteks bentuk perjuangan gender, antara musik dan gender juga memiliki keterkaitan yang saling support. Musik yang notabene sebagai media apresiasi dan refleksi dari kehidupan setiap manusia dapat dijadikan sebagai media perjuangan atas apapun pada umumnya dan perjuangan gender pada khususnya. Melalui tulisan yang dijadikan lirik dalam sebuah lagu, perjuangan gender itu disuarakan. Terdapat makna dan filosofi tersirat bahkan ada yang terus terang mendukung perjuangan gender melalui musik dan lirik lagu. Contohnya saja dua seniman musik yang akan kita bahas yaitu Frau dan The PanasDalam Band ini. Dua seniman yang memilik cara unik menyampaikan perjuangan atas gender dengan sudut pandang yang unik pula. Kita sering mendengarkan musik dengan lagu – lagu pop cinta yang mana dalam lirik lagu tersebut digambarkan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta, patah hati, dan beberapa perasan hati mereka terhadap laki – laki. Hal tersebut menggambarkan dimana seorang perempuan terlihat inferioritas terhadap perasaan mereka dan menggambarkan bahwa laki – laki memiliki superioritas atas perasaan mereka. Gambaran seperti inilah yang sering kita dengar dibeberapa lirik lagu. Bukan sebuah perjuangan gender tetapi inferioritas perempuan terhadap laki – laki. Namun apabila kita melihat dua seniman unik yang akan kita bahas ini, maka kita akan melihat bagaimana seorang Frau yang berani lentangkan suara perjuangan gender dengan lagunya I’m A Sir dan The PanasDalam Band yang menyuarakan perjuang gendernya dalam lagu Cita – citaku, maka akan terlihat keunikkan tersendiri dalam apresiasi mereka berdua ini.

Siapakah Frau dan The PanasDalam Band?

Dalam dunia industri musik Indonesia kita sering mendengar penyanyi atau grup band seperti Ungu, Coklat, Andien, dan banyak lagi. Namun apabila kita ditanya siapa Frau dan The PanasDalam Band itu maka banyak dari kita jarang mendengar nama dua seniman ini. Sebenernya siapa kedua seniman musik ini? Dan seperti apa aliran musik mereka ini? Maka kita akan mengenal lebih dekat dengan kedua seniman musik ini.

Frau merupakan sebutan Nyonya atau panggilan Istri dalam bahasa Jerman. Kata yang dipilih oleh  Leilani Hermiasih yang merupakan lulusan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta yang saat ini duduk di bangku Jurusan Antropologi UGM. Setelah sempat mengenyam karir di Anggisluka, mencabik bass di Essen Und Blood dan menjadi kibordis ‘tambahan’ di Southern Beach Terror, mahasiswi ini diam-diam merangkai beberapa komposisi lagu yang dimainkan dan dinyanyikan sendirian. Beberapa lagunya mengadopsi jurus maut Regina Spektor dan sisanya punya rasa lebih manis dikecap di segala cuaca dan suasana layaknya musik pop ampuh pada umumnya. Frau muncul ditengah maraknya solois-solois perempuan muda yang leluasa memainkan alat musik sambil bersenandung menjeritkan imajinasi, perasaan atau lika-liku hidupnya didepan mikrofon dan kamera mungil yang tertanam di laptopnya. Sebuah aktivitas privat diluar rutinitas yang tak jarang tersiar di situs-situs dunia maya hingga ajakan ajaib untuk unjuk gigi diatas panggung. Leilani ini juga terinspirasi oleh banyak musikal yang diproduksi oleh Cameron Macintosh dan ditulis oleh Andrew Lloyd Webber. Dengan latar belakang pemain piano klasik, Frau merupakan duet antara Leilani dengan pianonya yang bernama Oskar. Kemunculannya pada di industri musik pada 2008 memberikan warna yang berbeda dalam dunia musik Indonesia. Frau dengan beraliran musik klasiknya secara tersirat memberitahukan bagaimana seorang Leilani memandang kehidupan bermasyarkat melalui lirik lagunya di album Starlit Carousel.

Tidak jauh beda dengan Frau, The PanasDalam Band merupakan Band beraliran ballad yang berdiri sejak tahun 1995 ini sangatlah unik. The PanasDalam Band yang didirikan oleh tujuh mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Desain – Institut Teknologi Bandung (FSRD – ITB) ini memiliki bahasa unik dalam menyebut personil atau instrumen dalam The PanasDalam Band. Perjalanan musik mereka sejak 1995 sehingga sekarang telah menerbitkan tiga album yaitu: Only Ninja Can Stop Me Now, Merunduk, dan Only Almarhum Ninja Can Stop My Tamborine. Keunikkan lain ialah mereka menganggap bahwa The PanasDalam Band ini adalah sebuah negara dan perangkatnya dengan menyebut Negara Kesatuan Republik The PanasDalam. Bukan bermaksud melenceng aturan yang ada di masyakarat, lirik The PanasDalam Band ini memiliki keberanian dalam menyuarakan hal yang marginal dalam masyarakat. Band yang dipersonili oleh Erwin, Nawa, Roy, Pidi, Alga Indria, dan Budi ini melalui lirik lagu mereka yang berani dan nakal, The PanasDalam Band yang menyukai Rolling Stone ini juga melihat bagaimana perjuangan gender tetapi dengan cara mereka sendiri.

Pejuangan Gender dan Perjuangan Gender Terbalik

Kita sering mendengar kata Gender di lingkungan kita. Banyak definisi akan kata Gender ini dimana pemahaman gender masih sangat kurang dan sering didiskusikan dalam berbagai forum. Lebih jauh dari itu, sebenarnya perjuangan gender di lingkungan kita sering kita jumpai walaupun terkadang masih ada perbedaan hak antara laki – laki maupun perempuan. Dalam konteks perjuangan gender dimana seorang perempuan memiliki hak sama tinggi dan sejajar dengan hak yang dimiliki oleh laki – laki. Tidak hanya hak saja yang menjadikan perjuangan pernyetaraan gender tetapi juga tugas atau kewajiban yang diberikan antara laki – laki dan perempuan haruslah sama. Namun di masa yang telah berkembang ini masih saja permasalahan gender yang belum terselesaikan secara tuntas walaupun memang ada pernyataan bahwa gender dibentuk oleh konstruksi sosial budaya. Tetapi hal itu tidak akan menghambat perjuangan gender yang dilakukan oleh para aktifis gender. Dalam lingkup yang luas, perjuangan gender sebenarnya sangat berkembang. Bahkan saat ini kita sering mendengar istilah Woman in Development, Woman and Development, dan Gender and Development dimana istilah – istilah ini merupakan perjuangan gender yang sedang dikembangkan diberbagai dunia. Lepas dari beberapa istilah tersebut masih banyak diskriminasi gender yang terjadi di sekitar kita seperti marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasaan terhadap perempuan. Memperjuangkan gender bukanlah berarti mempertentangkan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Tetapi, ini lebih kepada membangun hubungan (relasi) yang setara. Kesempatan harus terbuka sama luasnya bagi laki – laki dan perempuan.

Lalu apa yang dimaksud perjuangan gender terbalik? Seperti apa bentuk perjuangannya? Apakah pernah dilakukan? Pertanyaan seperti itu yang akan muncul ketika bertanya definisi perjuangan gender terbalik. Memang masih agak sulit memberikan pemaham akan perjuang gender terbalik ini. Melihat dari perjuangan gender pada umumnya dimana kebanyakaan memperjuangan hak dan kewajiban dari perempuan yang ingin sejajar dengan laki – laki. Namun beda dengan perjuangan gender terbalik ini, dimana perjuangan ini dilakukan oleh seorang laki – laki yang memiliki keinginan layaknya seorang perempuan. Apabila dikata seorang laki – laki ini sebagai transeksual mungkin belum bisa dikategorikan seperti itu melainkan dalam konteks perjuangan gender terbalik ini bagaimana seorang laki – laki yang memiliki peranan yang sama dilakukan layaknya perempuan (kecuali secara biologis) atau mungkin memiliki kesamaan dengan konsep Fatherhood. Dimana dalam konsep tersebut seorang laki – laki juga melakukan apa dilakukan perempuan pada umumnya (kecuali secara biologis).

Representasi Perjuangan Gender dan Gender Terbalik pada Lagu Frau – I’m A Sir dan The PanasDalam – Cita – Citaku

Layaknya perjuangan tanpa lelah, ini yang dilakukan oleh beberapa aktifis atau seseorang dalam memperjuangan gender. Frau menyuarakan perjuangan gendernya melalui lagu berbahasa inggris yang berjudul I’m A Sir. Sengaja atau tidak sengaja, Frau secara langsung ikut serta memperjuangkan gender dengan cara pandang Frau sendiri melalui musik klasik dan lirik lagu yang dibawakannya. Leilani yang dikenal sebagai Frau ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan berjuang dalam memperoleh pengakuan dari seluruh dunia. Dalam lirik lagu digambarkan oleh Frau bahwa perlu upaya yang kuat untuk seorang perempuan memperoleh pengakuan. Hal ini dapat kita lihat makna dari liriknya yaitu “I’d dress up like a sir, I’d dress up as asir, Stick on a mustache, a beard, and some speckles and put on a hat like a sir”. Perjuangan memperoleh pengakuan untuk seorang perempuan yang harus berpenampilan layaknya seorang Tuan (laki – laki). Representasi perjuangan ini tidak lepas bagaimana sosok perempuan yang masih dipandang sebagai yang kedua atau dimarginalkan akibat konstruksi struktur budaya dan sosial yang telah mendarah daging di masyarakat. Penggambaran perjuangan gender yang dilakukan oleh Frau tidak hanya pada lirik itu saja. Lirik berikutnya yaitu “ I’d step up like a sir, I’d step up as a sir, My queen shall lay her sword on my shoulders as I say my prayers to bless her”, dimana dapat digambarkan pula bahwa Frau ingin memberitahukan layaknya Sir (Tuan) seorang perempuan akan diakui lalu akan diberkati oleh Ratu layaknya Ratu memberkati seorang satria dengan meletakkan pedang dibahunya. Dalam realitas yang terjadi saat ini khususnya di budaya Jawa dimana Frau ini dibesarkan, sulit untuk perempuan mendapatkan kesetaraan yang sama dengan laki – laki. Bahkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi masih banyak perempuan di budaya Jawa yang di marginalkan. Hal ini juga representasi akan perjuangan Kartini pada saat penjajahan Belanda dimana Kartini berjuang untuk mendapatkan kesetaraan pendidikan dengan laki – laki namun apa dikata beliau harus berdiam diri dirumah dinikahkan oleh orang tuanya walaupun perjuang beliau tidak berhenti untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki – laki.

Belum selesai Frau menggambarkan perjuangan gendernya dilirik lagu I’m A Sir. Lirik berikutnya yaitu “The world would bloom as thye shout out my name loud and clear, The skies would cheer for my life and the cloud would appear to see me, just to see me, And I’d be quite a legend for the next hundred years, My life would never be ever so sad and no tears would trickle down my cheeks and my eyes”, dalam lirik ini digambarkan oleh Frau bahwa  kebahagiaan seorang perempuan yang sangat luar biasa ketika dia (perempuan) mendapatkan pengakuan dari lingkungannya bahkan dunia pun menyambut dengan ria gembira dan perempuan ini akan menjadi legenda atau dikenang hingga ratusan tahun. Dalam representasi perjuangan gender, apa yang digambarkan Frau pada bait lagu ini dapat kita lihat dalam kehidupan nyata dimana telah banyak perempuan yang meraih prestasi yang gemilang atau bahkan prestasi mereka (perempuan) lebih baik dibandingkan laki – laki. Inilah cara Frau menggambarkan perjuangan gender melalui musik klasiknya dan penggambaran lirik yang imajinatif. Seorang seniman musik yang memiliki cara tersendiri dalam merefleksikan apa yang terjadi pada dirinya atau pun masyarakat. Begitu pula Frau yang merefleksikan perjuangan gender ini sesuai apa yang dia rasa dan lihat di kehidupan sosial budaya Frau dibesarkan.

Berbeda pula cara pandang Frau (Leilani) melihat perjuangan gender dengan The PanasDalam Band ini. Bila Frau melihat perjuangan gender dari budaya jawa yang mengeduakan perempuan, The PanasDalam Band melihat perjuangan gender dari sisi laki – laki yang ingin menjadi sosok perempuan. Penggambaran yang unik dilakukan oleh The PanasDalam Band ketika dominasi laki – laki masih superior atas perempuan dimana muncul sosok laki – laki yang menginginkan dirinya terlahir sebagai perempuan. Penggambaran ini dapat kita bait lagu Cita – citaku.

Cita – cita ku ingin menjadi polwan

mana mungkin aku hanya lelaki
oh Tuhan…. , tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi bapak polwan

cita – citaku ingin jadi bu ahmad
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu…., jangan paksa aku
aku tak sudi jadi bapak ahmand

Reff:

sedih, hatiku sedih
terlahir sebagai seorang lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
terlahir sebagai seorang lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
ini bukan zaman siti nurbaya……

lagi….

seandainya…

aku boleh memilih sebelum dilahirkan,

betapa enak menjadi perempuan,
tinggal membuka aurat,

lelaki bekerja keras untuk mendapatkannya

cita – citaku ingin menjadi tomboy
mana mungkin aku hanya lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi lelaki tomboy

cita – citaku ingin jadi lesbian
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
aku tak sudi menjadi homo sex

ingat perjuangan belum selesai maka dari itu…..

dimana ada kemauan disana ada jalan
dimana ada kemaluan disini ada persoalan

 

Dari lirik tersebut dapat kita lihat bagaimana The PanasDalam Band menggambarkan suatu kejadian yang tidak biasa terjadi pada masyarakat umum yaitu seorang laki – laki yang mencita – citakan menjadi seorang perempuan. Bahkan laki – laki tersebut memohon pertolongan kepada Tuhan untuk laki – laki keperempuanan (seperti Bapak Polwan, Lelaki Tomboy). Dalam reff lagu Cita – citaku ini juga menggambarkan perasaan laki – laki tersebut yang sedih karena terlahir menjadi lelaki bahkan laki – laki ini tidak mau dipaksa menjadi laki – laki. Representasi perjuangan gender terbalik dari lirik ini ialah pada saat ini banyak perjuangan gender yang menyuarakan hak dan kewajiban perempuan harus setara dengan laki – laki, muncul sosok laki – laki yang menyuarakan bahwa laki – laki pun tidak salah apabila dapat melaksanakan hak dan kewajiban yang dibebankan kepada perempuan.

Melihat lebih dalam dan luas lagi dari lirik The PanasDalam Band yang berani dan nakal, kita dapat mengetahui pemaknaan perjuangan gender terbaliknya tidak hanya sekedar dalam hal hak dan kewajiban yang sama dibebankan kepada laki – laki, namun pemaknaannya juga menggambarkan sifat perempuan yang kelaki – lakian (Tomboy) dan penjalinan hubungan antar jenis kelamin. Sifat tomboy dapat dikaitan dengan perjuangan gender terbalik bahwa banyak penggambaran laki – laki menjadi Transeksual, namun laki – laki ini tidak ingin transeksual tetapi dia (laki – laki) menjadi perempuan yang maskulin bukan perempuan yang feminim. Untuk hubungan antar jenis kelamin masih terlalu sulit dimasukkan dalam kaitannya perjuangan gender dan perjuangan gender terbalik walaupun ada pendapat bahwa hubungan antar homosex atau heterosex itu tidak jadi permasalahan karena pandangan hubungan tersebut merupakan salah satu konstruksi sosial juga.

Lepas dari masalah tersebut, The PanasDalam secara jelas memberikan beberapa argumen yang agak kontrofersial namun dalam penggambaran kehidupan yang terjadi memang seperti hal tersebut yaitu perempuan dilihat hanya sebagai dalam lingkup jenis kelamin saja tetapi bukan karena peran dan tugas mereka (perempuan). The PanasDalam juga menambahkan bahwa perjuangan untuk melawan ketidaksamaan perilaku dalam gender belum berakhir walaupun dalam lirik tersebut terpotong sehingga memberikan yang multi-makna untk mengartikannya.

Melalui lirik yang berani dan aliran musik balladnya, The PanasDalam Band menyuarakan perjuangan gender terbalik mereka. Bahwa tidak hanya perempuan yang harus setara hak dan kewajibannya dengan laki – laki tetapi laki – laki juga memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan apa yang telah dibebankan kepada perempuan selama ini tanpa harus dipaksa kalau laki – laki hanya boleh melakukan apa yang dikatakan oleh konstruksi kategorikan sebagai laki – laki.

Dalam Bingkai Atribusi Sosial

Frau dan The PanasDalam Band merrupakan dua seniman musik yang unik dalam mengungkapan apa yang mereka rasa dan apa yang sedang terjadi pada sekitar mereka. Melalui bait – bait dalam lagu mereka, kita diberikan gambaran dengan sudut pandang yang tidak biasa sehingga terkadang terlihat aneh dan lucu. Lebih dari itu apa yang telah diungkapkan kedua seniman ini merupakan refleksi kehidupan sosial atau pun budaya yang telah dikonstruksi sebelumnya. Gambaran tersebut memberikan kepada kita cara pandang yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan.

Dalam bingkai atribusi sosial, dimana dalam definisinya bahwa memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu menjadikan kita dapat mengetahui alasan kedua seniman ini membuat lirik yang unik sehingga menimbulkan tafsir yang tidak umum tentang gender pada umumnya. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain atau kejadian. Atribusi juga merupakan posisi tanpa perlu disadari pada saat melakukan sesuatu menyebabkan orang-orang yang sedang menjalani sejumlah tes bisa memastikan apakah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang lain dapat merefleksikan sifat-sifat karakteristik yang tersembunyi dalam dirinya, atau hanya berupa reaksi-reaksi yang dipaksakan terhadap situasi tertentu. Dalam kerterkaitan perjuangan gender dan gender terbalik yang dilakukakn oleh Frau dan The PanasDalam Band, dimana suatu situasi yang tanpa disadari oleh kita sepenuhnya dijadikan oleh Frau dan The PanasDalam Band memberikan refleksi terhadap situasi gender melalui media musik sebagai tempat pengungkapannya. Tekanan situasi yang terjadi di sekitar Frau dan The PanasDalam terhadap gender secara langsung menyebabkan kedua seniman ini untuk bersuara dan mengungkapkan apa yang terjadi atau menkonter sosialkan kondisi yang terjadi.

Dari Bingkai Semiotika

Dari sudut pandang semiotika, dalam penyusunan teks atau kalimat yang  digunakan oleh Frau dan The PanasDalam memiliki makna tersendiri. Bahkan pilihan kata yang digunakan untuk menyusun teks dalam juga memiliki makna tersendiri. Menurut Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal) (Yusita Kusumarini,2006). Sejalan dengan oleh Barthes ini, dalam makna lirik dari Frau dapat dijelaskan bahwa apa yang dilukisan Frau dalam lirik I’m A Sir – perempuan berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari sekitarnya haurs berpenampilan layaknya laki – laki. Representasi yang hadir dalam lirik itu merupakan perjuangan gender di budaya Jawa dan pada saat zaman R.A. Kartini. Sedangkan makna yang muncul dalam lirik Cita – citaku ialah seorang laki – laki pada umumnya harus berperan sesuai apa yang disampaikan konstruksi sosial tentang laki – laki. Laki – laki tidak boleh berperan diluar konteks tersebut. Namun dibalik oleh The PanasDalam Band bahwa peran keibuaan yang dilakukan perempuan juga bisa dan layak dilakukan oleh laki – laki karena hal tersebut merupakan sebuah pilihan bukan paksaan sehingga muncul konsep FatherHood.

Kesimpulan

Setelah mengurai makna bait lagu Frau dan The PanasDalam Band, kita melihat bagaimana penggambaran yang dilakukan kedua seniman ini untuk gender. Frau merepresentasikan gender dengan sosok perempuan yang berdandan layaknya laki – laki untuk mendapatkan pengakuan. Hal ini tidak lepas dari kultur dan histori yang mengelilingi kehidupan Frau yaitu kebudayaan Jawa.  Kondisi tersebut menyebabkan Frau merefleksikan perjuangan gender yang sangat sulit untuk perempuan guna mendapatkan pengakuan atau kesetaraan.

Berbeda halnya dengan The PanasDalam Band walaupun sama – sama mengusung gender tetapi mereka melihat dari sisi yang terbalik dari umumnya yaitu laki – laki juga boleh peran layaknya peran keibuaan yang dilakukan oleh perempuan. Representasi seperti itu merupakan penyebab adanya kondisi konstruksi sosial dimana seorang laki – laki harus berperan layaknya konstruksi yang telah definisikan terhadap laki – laki. Sehingga apabila terjadi maka walaupun dia berkelamin laki – laki tetapi dia bukan laki – laki. Namun kondisi tersebut dilawan oleh The PanasDalam Band dengan menciptakan lagu Cita – citaku sebagai upaya bahwa laki – laki juga boleh berperan layaknya peran keibuan dari perempuan dengan mengusung konsep FatherHood.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://widagdosenimusik.blogspot.com/2009/07/pengertian-musik-musik-pada-

hakikatnya.html. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://cahisisolo.com/artikel/seni-musik/pengertian-seni-musik.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://carapedia.com/pengertian_definisi_musik_info2091.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://yunaysbloggerroom.blogspot.com/2011/02/arti-musik-menurut-para-ahli.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://ahli-definisi.blogspot.com/2011/02/definisi-musik.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://ochanbhancine.wordpress.com/2009/12/05/pengertian-musik/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://stiebanten.blogspot.com/2011/10/pengertian-musik-dari-berbagai-tokoh.htm

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://yudhie78.wordpress.com/2012/02/20/gender-adalah-definisi-pengertian-jender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://pramareola14.wordpress.com/2009/03/10/memahami-arti-gender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://paramadina.wordpress.com/2007/03/16/pengertian-gender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://id.shvoong.com/society-and-news/gender/2220358-pengertian-gender-menurut-para-

ahli/. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://aryabimantara.wordpress.com/2006/01/25/merekonstruksi-paradigma-gender-upaya-

meluruskan-pemahaman-tentang-gender1/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

https://www.facebook.com/notes/the-panasdalam/profil-the-panasdalam-band/473410631838

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://www.myspace.com/ffrau/blog (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://frau-bio.blogspot.com/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://idhamputra.wordpress.com/2008/10/21/pengantar-teori-representasi-sosial/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://teddykw1.wordpress.com/2008/03/07/teori-representasi-sosial/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://akhfa14.wordpress.com/2012/02/06/representasi-sosial/. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://kangarul.com/tiga-subyek-stuart-hall/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://susisitisapaah.blogspot.com/2011/09/atribusi-sosial.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://solehamini.blogspot.com/2010/05/atribusi-memahami-penyebab-perilaku.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://mbokmenik.wordpress.com/2011/11/12/tentang-semiotika-roland-barthes/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://junaedi2008.blogspot.com/2009/01/teori-semiotik.html (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

Tinggalkan komentar

FEMINISME EKSISTENSIALIS: EMPAT SRIKANDI PIMPIN KABUPATEN BANTUL

Apa itu Gender dan Seks?

    Apa yang dimaksud dengan gender? Mengapa selalu dikaitkan dengan isu emansipasi perempuan? Istilah gender sesungguhnya tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia tetapi dalam kamus bahasa Inggris, kata “gender” diartikan sebagai jenis kelamin yang sama artinya dengan “sex”. Sehingga perlu pemahaman yang jelas tentang kaitan antara konsep gender dan konsep sex yang memunculkan sistem ketidakadilan sosial secara luas serta kaitan antara konsep gender dengan kaum perempuan, dan hubungannya dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya.

    Pemahaman mengenai gender pada hakekatnya adalah pemahaman yang pekat dengan nuansa barat (western invention – Connnell, 1993). Konsep gender tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia secara mentah – mentah tanpa melihat esensi kebudayaan lokal mengenai dinamika relasi – relasi seksual. Pada dasarnya gender adalah suatu konsep yang bertumpu pada aspek biologis seperti yang dikatakan oleh Cucchiari (1994) bahwa gender memiliki dua kategoari biologis yang berbeda namun saling mengisi (laki – laki dan perempuan) yang keduanya memiliki pemahaman yang bervariasi dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain. Gender ini dibentuk oleh faktor – faktor sosial maupun budaya, sehingga muncul anggapan tentang peran sosial dan budaya atas laki – laki dan perempuan di masyarakat. Berbeda dengan gender, seks merupakan sebuah pembagian jenis kelamin yang diberikan oleh Tuhan secara biologis kepada laki –laki dan perempuan. Oleh sebab itu memiliki pemahaman yang berbeda antara gender dengan seks. Gender dibentuk oleh faktor – faktor sosial maupun budaya (kontruksi sosial) sedangkan seks merupakan hal kodrati pemberian dari Tuhan.

    Sebelum terjadinya perkembangan mengenai gender, perempuan selalu tersubordinasi atau menjadi hal yang kedua oleh faktor – faktor yang dikontruksikan secara sosial. Banyak mitos dan kepercayaan yang menjadikan kedudukan wanita lebih rendah dari laki – laki sehingga perempuan tidak memiliki nilai tawar. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa laki – laki merasa diri mereka sebagai subjek yang dapat berbuat apa saja terhadap objek (perempuan) tersebut sehingga perempuan hanya dilihat dari segi seks saja dan memunculkan ketidaksetaraan terhadap perempuan dari berbagai aspek.

Bagaimana Perkembangan Gender Saat ini?

    Perkembangan gender berawal pada abad 15 dimana Christine de Pizan menulis ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Pada tahun 1800-an Susan dan Elizabeth memperjuangkan hak – hak politik perempuan untuk memilih. Pergerakan gender terus dilakukan hingga pada abad ke – 20 (1949) lahir karya Simone de Beauvoir “Le Deuxieme Sexe” dan ditemukan isitilah kesetaraan antara laki – laki dan perempuan. Perjalanan pergerakan gender terus berkembang hingga pada tahun 1960 – 1980an menjadikan pergerakan gender sebagai isu penting untuk diberdebatkan di Amerika Latin, Asia, dan negara dunia ketiga pada umumnya. Perkembangan gender tidak berhenti begitu saja, sampai sekarang pergerakan gender masih dilakukan oleh para feminis – feminis di dunia untuk melawan konsep patriaki yang menindas kaum perempuan.

    Melalui beberapa tahapan gelombang pergerakan feminisme, tidak menjadikan para feminis ini patah semangatnya untuk berjuang. Hal tersebut menjadikan para feminis ini lebih baik lagi dan dapat menjadikan para feminist lebih memiliki pandangan yang luas serta sesuai kondisi yang ada untuk melakukan pergerakan. Seperti permasalahan yang diangkat yaitu EMPAT SRIKANDI PIMPIN KABUPATEN BANTUL salah satu dari bberapa pergerakan gender yang dilakukan oleh para perempuan. Dari artikel tersebut dapat kita lihat bahwa perempuan juga memiliki kemampuan yang sama seperti laki – laki untuk memimpin.

Empat Srikandi dari Sudut Pandang Eksistensialis

    Kemampuan perempuan saat ini telah memiliki harga tawar yang sama dengan laki – laki. Mungkin pernyataan tersebut dapat digunakan untuk empat srikandi yang memimpin sebuah kabupaten di daerah Yogyakarta ini. Empat srikandi ini merupakan Muspida Plus untuk daerah Kabupaten Bantul, bukan sebagai istri Muspida Plus melainkan unsur dari Muspida Plus tersebut. Beliau adalah Bupati Bantul (Hj. Sri Surya Widati), Kapolres Barntul (Dra. Sri Suari, M.Si), Kajari Bantul (Retno Harjantari Iriani, S.H), dan Ketua DPRD Bantul (Tustiyani, S.H.). Keempat srikandi tersebut dapat dikatakan sebagai perempuan yang luar biasa, karena beliau – beliau secara langsung menjadi orang nomor satu di intansi masing – masing serta menjadi orang – orang yang memimpin Kabupaten Bantul saat ini.

    Pada sudut pandang gender, usaha yang telah dilakukan oleh empat srikandi ini merupakan bentuk kesadaran perempuan bahwa mereka mampu bersaing dengan laki –laki. Emansipasi wanita yang sedang gencar – gencarnya disuarakan di Indonesia telah sedikit terjawab dengan adanya empat srikandi ini. Seperti yang telah diungkapkan tentang teori eksistensialis adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) dalam Being and Nothingness yang dalam Tong (1999:174) dijelaskan sebagai berikut:

  • Being (ada) terdiri dari:
  1. Being in it self : ada pada dirinya, keberadaan yang tidak berkesadaran, ada begitu saja, keberadaan yang utuh.
  2. Being for it self : ada untuk dirinya, keberadaan yang berkesadaran, kesadaran yang bercelah hingga ada kritisisme yang bisa meniadakan. Ada pada manusia yang mempunyai akal dan bisa melakukannya, karena kritisisme itu maka manusia dihadapi pilihan akibat dari kutukan kebebasannya.
  3. Being For other : ada untuk orang lain, keberadaan bersama orang lain, hubungan subjek-subjek yang penuh dengan konflik.

    Selain itu feminis yang merupakan murid, teman dekat, dan juga patner kerja Sartre adalah Simone Beauvoir dengan buku terkenalnya The Second Sex. Simone Beauvoir menjelaskan keberadaan perempuan adalah sebagai objek dalam hubungan dengan subjek. Didunia ini tidak ada perempuan yang bebas mengekspresikan dirinyatanpa tergantung pada subjek yaitu laki-laki. Perempuan digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki kesadara, yang tergantung pada manusia lain (laki-laki), tidak memiliki kebebasan sehingga disebut the other. Feminisme eksistensi menekankan agar perempuan itu ada dalam hubungannya dengan manusia lain (laki-laki). Menjadi subjek bukan objek.
Tidak ada cara yang mudah untuk menjauh dari pandangan Beauyoir itu. Untuk menuju proses trandensi, menurut Beauvoir ada empat strategi yang dapat dilancarkan oleh manusia, yaitu:

  • Perempuan dapat bekerja

    Meskipun berarti berperan ganda, tetapi perempuan akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki yang bekerja disektor publik. Kesempatan ini menjadi nilai tambah jika perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Karena dengan bekerja perempuan dapat merebut transendensinya dan secara konkret menegaskan status perempuan sebagai subjek yaitu sebagai seseorang yang aktif menentukan arah nasibnya sehingga tidak dilihat sebagai objek.

  • Perempuan dapat menjadi anggota intelektual

    Aktifis intelektual akan membawa perubahan pada perempuan. Perempuan akan menjadi subjek dan bukanlah nonaktivitas ketika seseorang objek pemikiran, pengamatan, dan pendefinisian.

  • Perempuan bekerja untuk mentransformasikan sosialis masyarakat.

    Self-Other di dalam hubungan manusia secara umum dan hubungan laki-laki dan perempuan secara khusus. Pendapat Sartre bahwa salah satu kunci membebaskan perempuan dari ketergantungan pada laki-laki adalah dengan kekuatan ekonomi.

  • Perempuan menolak untuk menginternalisasikan status other-nya dan mengidentifikasikan diri sendiri melalui pandangan kelompok dominan dalam masyarakat. Karena dengan menerima status other maka perempuan menerima sebagai objek.

    Pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul bahwa beliau – beliau ini telah menjadikan dirinya sebagai subjek dan bukan objek lagi sehingga kaum laki – laki yang ada disekitar mereka tidak bisa begitu saja menjadikan mereka sebagai objek. Walaupun memiliki peran ganda dalam kehidupan sehari –hari mereka, empat srikandi ini secara tidak langsung dapat melepaskan ketergantungan mereka pada kaum laki – laki dan tentunya beliau – beliau ini tetap memandang adanya kesetaraan antara perempuan dan laki – laki.

Masih Adakah Ketidaksetaraan?

    Melihat dari sejarahnya pembedaan antara laki – laki dan perempuan terjadi melalui kontruksi sosial dan budaya yang dibentuk oleh masyarakat tersebut. Seiring dengan berkembang zaman dan teknologi menjadikan adanya perubahan dari cara sikap memandang kesetaraan antara laki – laki dan perempuan melalui gender.

    Dalam kaitannya kedudukan perempuan dari berbagai sudut pandang mungkin masih banyak ketidaksetaraan yang terjadi antara laki – laki dan perempuan. Namun pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul ini, kita dapat melihat bahwa ketidaksetaraan perempuan atas laki – laki telah berkurang melalui adanya refleksi gender yang ada di masyarakat. Pada perspektif ekonomi dimana subordinasi perempuan di bawah laki – laki melalui ketergantungan ekonomi. Sedangkan yang terjadi pada saat ini ketergantungan perempuan terhadap laki – laki atas ekonomi mereka telah berkurang. Perempuan saat ini dapat bekerja untuk menghidupi kehidupannya sehari – hari. Kita lihat saja contoh pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul, dimana pada awal karier beliau – beliau ini dirintis sejak mereka lulus sekolah dan melanjutkan untuk bekerja sehingga seperti saat ini. Hal inilah yang membuat mereka mampu bersaing dengan laki – laki dari sudut pandang ekonomi dengan cara bekerja.

    Begitu pula pada sudut pandang politis, awalnya perempuan tidak memiliki hak suara untuk memilih namun dengan adanya pergerakan pada tahun 1800an menjadikan perempuan memiliki hak memilih. Lambat laun perempuan tidak hanya memiliki hak memilih tetapi juga memiliki hak dipilih. Contohnya saja pada Bupati Bantul (Hj. Sri Surya Widati) periode 2010 – 2015 dan Ketua DPRD Bantul (Tustiyani, S.H.) periode 2009 – 2014, beliau – beliau adalah contoh perempuan yang dipercaya dan dipilih masyarakat Bantul untuk memimpin mereka (masyarakat Bantul).

    Dalam perspektif budaya menurut Margaret L. Anderson (1983 : 47) bahwa budaya sebagai sebuah pola harapan tentang perilaku dan kepercayaan pada apa yang pantas bagi anggota masyarakat. Dari definisi tersebut dapat sedikit disimpulkan bahwa budaya menyedia sebuah struktur atau bentuk bagi perilaku sosial. Begitu pula gender, dimana gender tersebut merupakan sebuah produk dari konstruksi sosial dan budaya daripada produk biologis. Sistem kepercayaan, norma, dan peran yang berkembang membuat adanya stereotip untuk pembagian kerja antara laki – laki dengan perempuan. Seperti yang telah dituliskan pada persepktif ekonomi yang mana perempuan bergantung pada laki – laki atas ekonomi mereka, hal tersebut merupakan hal dari konstruksi budaya yang tumbuh di masyarakat. Namun sejalan dengan perkembangan gender, perspektif budaya mengenai perempuan telah berubah. Salah satu dari banyak contoh adalah beliau – beliau ini empat srikandi yang memimpin daerah Kabupaten Bantul. Anggapan masyarakat luas bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin dipatahkan mereka dengan menjadi pucuk pimpinan di intansi masing – masing. Ini merupakan satu dari beberapa contoh yang terjadi pada masyarakat dimana seorang perempuan yang dinilai tidak bisa, tidak layak, dan tidak mampu untuk melakukan suatu hal yang sering dilakukan oleh laki – laki ternyata dapat dilakukan dengan baik atau bahkan lebih baik dibanding laki – laki yang melakukannya.

Kesimpulan

    Walaupun mendapat kritik dari Lloyd bahwa transendensi dari feminisme eksistensialis ini merupakan gambaran ideal perempuan dari sudut pandang laki – laki sehingga menimbulkan anggapan bahwa merendahkan perempuan dan menghancurkan perempuan. Tetapi feminisme eksistensialis ini dapat memberikan dampak bagi para perempuan untuk dapat berkeselarasan dan berkesetaraan dengan menghilangkan anggapan Nothingness perempuan. Seorang perempuan yang pada umumnya dinilai kurang bisa oleh masyarakat ternyata dapat merubah penilaian tersebut dengan cara “dia” ada sebagai subjek bukan sebagai objek dari yang lain. Hal tersebutlah yang diangkat oleh para feminis eksistensialis dimana “kesadaran” dan “keberadaan” perempuan menjadi subjek dan bukan objek.

    Sesuai dengan artikel yang penulis analisis yaitu “Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul” dimana keberadaan empat sosok perempuan yang menjadi pucuk pimpinan di intansi masing – masing dan merupakan Muspida Plus dalam Kabupaten Bantul. Kemampuan beliau – beliau ini bukan berarti menyingkir secara langsung laki – laki yang ada di sekitar mereka tetapi harus dilihat bahwa perempuan layak di sejajarkan dengan laki – laki dan perempuan juga dapat melakukan apa yang dilakukan oleh laki – laki. Tidak terlepas dari peran ganda yang dimiliki oleh empat sosok srikandi ini, yaitu sebagai ibu untuk anak – anak, istri dari suami mereka, dan peran yang mereka miliki diluar peran di keluarga. Beliau – beliau ini memiliki keberadaan bagi dirinya, untuk dirinya, dan bagi orang lain layaknya Being yang dimaksudkan oleh Beauvoir. Beliau – beliau ini menjadi perempuan yang secara tidak langsung melepaskan ketergantungannya dengan bekerja, belajar, dan membuktikan diri bahwa mereka setara dengan laki – laki. Sehingga, satu-satunya cara bagi perempuan untuk menjadi Diri dalam masyarakat seperti masyarakat sekarang adalah ia harus memanfaatkan waktunya dengan melakukan kegiatan yang kreatif dan berorientasi kepada pemberian pelayanan.

    Apapun yang menjadi kekurangan dari pandangan feminisme eksistensialis ini harusnya tidak membuat para perempuan beranggapan bahwa apa yang telah dilakukan itu merupakan keinginan yang diharapkan oleh seorang laki – laki. Tetapi mereka (perempuan) harus memiliki pandangan bahwa apa yang dilakukan untuk membuktikan dirinya itu ada bagi dirinya dan ada untuk yang lain dengan memegang prinsip sebagai subjek bukan objek.

 

 

Majalah Kartini edisi 28 Juli – 11 Agustus 2011, halaman 10 – 11.

Apriani, Fajar. 2008. Berbagai Pandangan Mengenai Gender dan Feminisme.,

http://
isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/15108115130.pdf

(diunduh tanggal 26 Oktober 2011).

Wibowo, Arif. 2008. Simon De Beauvoir: Feminisme Eksistensialis.,

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/28/simon-de-beauvoir-feminisme-eksistensialis/ (diunduh tanggal 21 Oktober 2011).

 

Karawang. 2010. Teori Feminisme Eksistensialis., http://karawang.blogdrive.com

(diunduh tanggal 21 Oktober 2011).

Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada

Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

KELOMPOK MINORITAS DALAMKETERASINGAN MASYARAKAT DUNIA

Tinggalkan komentar

KELOMPOK MINORITAS DALAM

KETERASINGAN MASYARAKAT DUNIA

 

Apa itu Kelompok Minoritas?

    Kelompok minoritas mungkin sering kita artikan dengan suatu kumpulan manusia yang dikucilkan oleh masyarakat karena sesuatu perbedaan yang tidak diterima oleh masyarakat tersebut. Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 258-259), kelompok minoritas (minority groups) adalah kelompok-kelompok yang diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau
sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat prasangka (prejudice) dan
diskriminasi. Dalam kehidupan bermasyarakat di seluruh belahan dunia pasti terdapat kelompok minoritas yang menjadi korban prasangka dan diskriminasi. Permasalahan prasangka dan diskriminasi kelompok minoritas ini akan saya bahas dalam artikel ini.

 

Prasangka dan Diskriminasi di Beberapa Negara

    Prasangka dan diskriminasi dapat diibaratkan sebuah senjata. Bukan seperti senjata yang digunakan untuk membunuh musuh dalam pertempuran. Melainkan sebuah senjata yang dapat langsung dapat menghancurkan sekelompok tertentu. Prasangka dan diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia sejak penjajahan Belanda. Lamanya masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia yang hampir 3,5 abad membuat prasangka dan diskriminasi terhadap kaum minoritas semakin mendarah-daging pada kaum pribumi.

    Prasangka dan diskriminasi dimulai dengan pembagian kelompok oleh pihak Belanda. Belanda sebagai kelompok pertama, kaum china sebagai kelompok kedua, dan kelompok ketiga oleh kaum pribumi. Pendiskriminasikan ini bertujuan agar Belanda dapat berkuasa karena sebagai kelompok minorritas. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia terjadi perubahan yang sangat drastis dimana kelompok pribumi saat waktu penjajahan menjadi kelompok mayoritas yang sangat didiskriminasikan berubah menjadi kelompok mayoritas yang berkuasa. Sedangkan kaum china berubah menjadi kaum yang didiskriminasikan karena mereka dianggap tidak loyal dan mencari keuntungan sendiri.

    Pada saat Orde lama pendiskriminasian terhadap kaun china juga terjadi dengan bentuk pendiskriminasian memilih untuk menjadi WNI atau kembali ke China. Pendiskriminasian menjadi sangat ekstrim setelah terjadinya peristiwa G-30S PKI tahun 1965 yang beranggapan didalangi oleh RRC dan saat Orde baru tahun 1967 dimana pendiskriminasian ini berbentuk larangan adanya ritual, tulisan, dan yayasan yang berbau pada etnis china.

    Selain di Indonesia, pendiskriminasian dan prasangka juga dialami oleh bangsa Afrika Selatan yang sering kita sebut dengan politik aparthiednya. Tujuan tercetusnya aparthied tidak jauh – jauh dari masalah politik. Hal ini juga dikarenakan kaum minoritas (Inggris) yang berkuasa takut apabila kaum mayoritas (bangsa Afrika) merebut kekuasaannya. Jadi bangsa Inggris membuat peraturan politis untuk membatasi hak – hak kaum Afrika agar kekuasaan Inggris tidak jatuh pada kaum pribumi (bangsa Afrika).

    Di Amerika prasangka dan diskriminasi terjadi hampir sama seperti di Afrika Selatan hanya saja prasangka dan diskriminasi terjadi lebih dahulu. Prasangka dan diskriminasi di Amerika terjadi saat sebelum terjadinya perang kemerdekaan. Warga kulit putih yang sebenarnya migran dari Eropa datang ke Amerika. Setelah itu mereka membuat koloni – koloni. Pada saat itu merupakan zaman impresialisme, negara dari para migran itu kebanyakan penjajah. Mereka membawa orang dari jajahannya untuk dijadikan sebagai budak mereka. Kebanyakan orang yang dibawa adalah warga kulit hitam yang dari Afrika. Dari latar belakang sejarah itu terjadinya prasangka dan diskriminasi yang terjadi.

 

Pemahaman Prasangka dan Diskriminasi

    Terjadinya hal seperti pendiskriminasian berawal dari adanya prasangka. Dimana prasangka adalah sebuah keyakinan yang terbentuk sebelumnya, pendapat, atau penilaian terhadap sekelompok orang atau satu orang karena ras, kelas sosial, gender, etnisitas, orientasi seksual, usia, cacat, keyakinan politik, agama, jenis pekerjaan atau karakteristik pribadi lainnya
atau prasangka sering juga disebut sikap negatif terhadap suatu kelompok. Dari sebuah keyakinan dapat menjadi sebuah prasangka. Walaupun prasangka tidak selalu bersifat negatif tetapi dapat mengubah cara pandang menjadi rasa takut dan antipati terhadap suatu kelompok tertentu atau perorangan. Prasangka sering timbul dari jalan pikiran yang singkat atau hanya mendengar saja. Dari hal seperti itulah timbul rasa prasangka yang tidak mendasar atau rasa curiga yang berujung pada tindakan mendiskriminasikan.

    Pada dasarnya diskriminasi adalah suatu tindakan mengucilkan kelompok tertentu akibat adanya isu – isu miring yang beredar yang dilakukan kelompok dominan. Menurut Theodorson & Theodorson, (1979: 115-116): Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Pendek kata diskriminasi adalah sebuah tindakan melemahkan kelompok tertentu yang bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis.

    Dalam terjadinya prasangka dan diskriminasi dapat dilihat sisi hubungan antar kelompok (intergroup relation) dimana keterkaitan hubungan antar kelompok merupakan suatu awal akan terjadinya atau tidak terjadinya permasalahan sosial. Prasangka dapat dikatakan sebagai faktor awal timbulnya diskriminasi.

 

Penyebab Terjadinya Prasangka dan Diskriminasi

    Prasangka dan diskriminasi terjadi dimasyarakat disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

  • Latar belakang sejarah

    Prasangka dan diskriminasi ada karena pengalaman masa lalu. Hal ini terjadi di Negara Amerika Serikat dimana prasangka dan diskriminasikan dilakukan oleh warga kulit putih terhadap warga kulit hitam. Berdasarkan sejarahnya bahwa warga kulit hitam sebagai budak dan warga kulit putih sebagai tuannya. Walaupun sekarang pandangan mereka telah berubah terhadap kulit hitam tetapi terkadang masing terdapat anggapan bahwa warga kulit hitam sebagai biang keonaran apabila terjadi sebuah kerusuhan.

  • Perkembangan Sosial – kultural dan Situasional

    Di Indonesia prasangka dan diskriminasi diberlakukan kepada etnis tionghoa. Walaupun sekarang prasangka dan diskriminasi terhadap etnis tionghoa dapat dikatakan berkurang, namun sebelum reformasi prasangka dan diskriminasi terhadap kelompok ini sangat ekstrim. Hal ini disebabkan faktor sosial – kultural dan situasional berubah. Pada saat penjajahan kolonial Belanda, etnis tionghoa ini menguasai berpihak pada penjajah. Jadi timbul perasaan benci dan membalas dendam dari kaum pribumi. Hal ini tambah parah saat tahun 1965 dimana diskriminasi terhadap etnis tionghoa semakin ekstrim karena RRC dianggap sebagai sponsor utama PKI. Sejalan dengan itu semua yang berbau China dilarang bahkan dibrantas sampai puncaknya kerusuhan 14 Mei 1998 etnis tionghoa sebagai korban yang paling banyak dan dirugikan.

  • Faktor Kepribadian

    Keadaan emosional seseorang seperti frustasi sering menjadikan tingkah laku agresif dan mudah berprasangka terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena banyaknya tekanan sehingga tidak dapat berpikir jernih. Menurut para ahli tipe orang yang authorian personality merupakan tipe orang yang penuh prasangka dengan sifat konveratif dan tertutup. Namun, semua ini dikembalikan pada diri masing – masing.

  • Perbedaan keyakinan, kepercayaan serta agama

    Prasangka dan diskriminasi dapat terjadi dari adanya perbedaan pandangan ideologi, agama, ekonomi, dan politik. Perbedaan hal ini dapat dikatakan sebagai akar permasalahan terjadinya prasangka dan diskriminasi yang bersifat universal. Beberapa contohnya yaitu setelah Perang Dunia II selesai banyak berdiri kelompok – kelompok ekonomi dan fakta – fakta pertahanan antar negara adi kuasa. Hal ini terlihat jelas sekali bahwa ada prasangka antar negara adi kuasa.

    Dari faktor penyebab timbulnya prasangka dan diskriminasi ini terlihat di beberapa kasus yang terjadi di belahan dunia faktor penyebabnya adalah latar belakang sejarah, perubahan sosial – kultur, dan adanya perbedaan pandangan ideologi, agama, ekonomi, dan politik. Ketiga faktor itu sangat dominan dan kuat pengaruhnya terhadap terjadinya masalah sosial ini yaitu prasangka dan diskriminasi.

 

Mungkinkah Berakhir?

    Permasalahan prasangka dan diskriminasi yang terjadi di beberapa bagian dunia walaupun sudah agak menghilang dari permukaan, terkadang masih ada beberapa peristiwa yang terjadi. Contoh yang sering terjadi di Amerika adalah warga kulit sering mempersulit warga kulit hitam untuk berkembang. Mungkin tidak semua seperti itu terjadi di Amerika karena sekarang kita bisa melihat warga kulit hitam menjadi Presiden Amerika (Barrack Obama). Namun, proses perjalanan menuju kesuksesan warga kulit hitam itu yang sulit. Karena jalan mereka dihalangi oleh warga kulit putih yang beranggapan bahwa warga kulit hitam yang dahulunya budak tidak pantas berkembang lebih baik. Begitu pula di Indonesia, etnis Tionghoa dihalang – halangi kaum pribumi untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Latar belakangnya karena sejarah dan perubahan situasional di Indonesia. Kecenderungan berakhirnya masalah seperti ini di seluruh dunia sangatlah kecil. Ini disebabkan hubungan antar kelompok yang saling berlawanan dan keterbukaan masih kurang antar anggota kelompok untuk dapat menerima pembaharuan bersama. Apabila tidak ada upaya dari tiap anggota kelompok untuk saling terbuka, maka akan sukar permasalahan ini berakhir, karena ada pada pandangan mereka untuk saling balas dendam.

 

Upaya Penyelesaian

    Memang semua masalah itu telah didiskusikan dan dibahas. Bahkan telah disetujui beberapa perjanjian internasional untuk penyelesaian masalah ini. Tetapi semua itu tidak mengakhiri permasalahan yang terjadi. Untuk mengakhirinya kita perlu mengubah cara pandang, menghapus latar belakang sejarah, dan penyesuaian diri akan perubahan yang terjadi sebagai upaya pencapaian tujuan bersama dan keterbukaan bukan sebagai balas dendam di masa lalu.

 

Kesimpulan

    Pada akhirnya kelompok minoritas yang tersaingkan dari masyarakat dunia karena adanya perbedaan yang sulit diterima bisa berbaur menjadi masyarakat dunia. Hak – hak mereka pun sama seperti layaknya masyarakat pada umumnya tidak ada yang membedakan dengan masyarakat umum di dunia. Apa pun ada perbedaan yang timbul jangan dijadikan sebagai faktor prasangka dan diskriminasi tetapi perbedaan itu diterima sebagai keragaman masyarakat yang harus dijaga, lesatarikan, dan dipelajari agar tidak menuai tindakan saling menjatuhkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Danandjaja, James. 2003. Diskriminas Terhadap Minortas Masih Merupakan Masalah Aktual di Indonesia Sehingga Perlu Ditanggulangi Segera., http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Diskriminasi%20terhadap%20minoritas%20-%20james%20danandjaja.pdf, (diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

Ju Lan, Thung. 2007.
Prasangka dan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa., www.kippas.com, (diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab10prasangka_ diskriminasi_dan_etnosentrisme.pdf, hlm 222.,(diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Prejudice, (di unduh tanggal 26 Desember 2009).

PARTAI POLITIK

Tinggalkan komentar

PARTAI POLITIK

 

  • SEJARAH PERKEMANGAN PARTAI POLITIK

    Pertama kali partai politik muncul di Eropa Barat akibat meluasnya pemikiran bahwa rakyat harus dikut sertakan dalam proses berpolitik. Partai politik saat itu terbentuk secara spontan kemudian berkembang sebagai penghubung antara rakyat dengan pemerintah.

    Di akhir dekade abad ke-18an di Inggris dan Perancis, pusat kegiatan politik berada pada parlemen yang bersifat elitis dan aristokratis. Dalam perkembangannya partai politik tidak hanya berada di parlemen tetapi juga terbentuk partai politik di luar parlemen disebabkan meluasnya hak pilih. Dengan hal tersebut pada abad ke-19 terbentuklah partai politik yang selanjutnya berkembang sebagai penghubungan antara rakyat dengan pemerintah atau sebaliknya. Partai yang terbentuk di luar parlemen kebanyakan memiliki pandangan pada suatu azaz atau ideologi tertentu.

    Menjelang Perang Dunia I muncul klasifikasi partai berdasarkan ideologi dan ekonomi yang sering disebut partai “Kiri” dan partai “Kanan”. Hal ini terjadi karena disebabkan pada saat Revolusi Perancis tahun 1879 waktu parlemen mengadakan sidang. Pihak “Kanan” adalah para pendukung raja yang duduk disebelah kanan kursi ketua sidang dan pihak “Kiri” adalah mereka yang menginginkan perubahan di Perancis.

    Seusai Perang Dunia II keseluruhan partai politik yang terbentuk di Negara – Negara Barat mulai meninggalkan pandangan perbedaan jenis partai. Hal ini akibat adanya keinginan partai – partai kecil menjadi sebuah partai besar dan memenangkan pemilu. Masa tahun 60an di negara barat yang telah maju terjadi pergeseran paham ekstrim “Kiri” secara sentripetal ke sisi tengah dan begitu juga terjadi pada paham ekstrim “Kanan”. Pergeseran antara “Kiri” dan “Kanan” oleh Otto Kircheimer disebut de-ideologi partai – partai.

    

  • DEFINISI PARTAI POLITIK

    Parati politik pada dasarnya merupakan suatu organisasi sebagai wadah menyatukan pendapat rakyat sehingga dapat dikonsolidasikan. Secara umum partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir anggota – anggotanya serta mempunyai tujuan dan nilai – nilai yang sama yaitu memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan programnya. Berikut ini merupakan definisi partai politik yang dibuat oleh para ahli ilmu klasik dan kontemporer:

    • Carl J. Friedrich, Constitutional Goverment and Democracy

      Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan pengusaan ini, memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil dan materiil.

    • Sigmund Neumann dalam buku karyanya, Modern Political Parties

      Partai politik adalah organisasi dari aktivis – aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan – golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.

    • Giovanni Sartori, Parties and Party System

      Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan melalui pemilihan umum itu mampu menempatkan calon – calonnya untuk menduduki jabatan – jabatan publik.

    • R.H. Soltau

      Partai politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan dengan menmanfaatkan kekuasaannya untuk memilih yang bertujuan menguasai pemerintahan dan melaksanakan kebijaksanaan umum mereka.

    Partai berbeda dengan gerakan (movement). Gerakan merupakan kelompok atau golongan yang ingin mengadakan perubahan di lembaga-lembaga politik atau ingin menciptakan suatu tata masyarakat yang baru dengan menggunakan jalan politik. Dibandingkan dengan partai politik, sebuah gerakan mempunyai tujuan tertentu yang bersifat fundamental atau ideologis. Pemahaman ini merupakan ikatan yang kuat di tiap anggota-anggotanya serta menumbuhkan suatu identitas kelompok yang kuat. Gerakan (movement) kurang ketat dibandingkan dengan partai politik.

    Partai politik juga berbeda halnya dengan kelompok penekan atau kelompok kepentingan. Kelompok penekan bertujuan untuk memperjuangkan sesuatu “kepentingan” serta memengaruhi lembaga politik agar memperoleh keputusan yang menguntungkan bagi kelompok penekan tersebut. Kelompok kepentingan tidak berusaha untuk menempatkan wakilnya di DPR, melainkan cukup memengaruhi satu atau beberapa partai.

     

  • FUNGSI PARTAI POLITIK
    • Fungsi di Negara Demokratis
  1. Sebagai Sarana Komunikasi Politik

    Partai politik merupakan wadah menampung aspirasi masyarakat agar aspirasi tersebut tidak hilang dan dapat tersampaikan. Disinilah fungsi dari partai politik sebagai sarana komunikasi politik, karena pada masalah ini umumnya partai politik sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah dalam suatu bursa ide. Namun, partai politik sebagai sarana komunikasi juga memiliki peranan yang berbeda bagi masyarakat dengan pemerintah. Bagi masyarakat partai politik sebagai penyampai aspirasi (“pengeras suara”) dan sebagai pemerintah sebagai pemberi saran atau kritik dari masyarakat (“alat dengar”). Disisi lain bagi pemerintah, partai politik juga berfungsi menyerbarluaskan rencana dan kebijakan pemerintah. Dengan demikian terjadi arus informasi dan dialog dua arah antara pemerintah dengan masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah dan partai politik sebagai penghubungnya.

  2. Sebegai Sarana Sosialisasi Politik

    Fungsi partai politik dalam hal ini sebagai tempat pembelajaran politik dengan mendidik anggota partai memiliki kesadaran tanggungjawab akan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi, menyelenggarakan integrasi warga negara ke dalam masyarakat umum, dan peningkatan hak dan kewajiban bagi masyarakat. Bagi partai politik sebagai pembuat citra (image) partai bahwa partai tersebut memperjuangkan kepentingan umum. Hal ini penting fungsinya bagi partai politik bila meninginkan menguasai pamerintahan dengan memenangkan pemilihan umum.

  3. Sebagai Sarana Rekrutmen Politik

    Fungsi partai politik ini memiliki peranan yang sangat penting bagi internal partai itu sendiri. Karena partai politik membutuhkan kader – kader yang berkualitas. Dengan demikian memberikan kesempatan yang luas bagi partai politik masuk dalam bursa kepemimpinan nasional. Selain itu partai politik juga berkepentingan meluaskan kaenggotaannya. Perekrutan ini berikan jaminan berkelanjutan dan konsistensi partai serta merupakan cara menjaring dan melatih calon – calon pemimpin.

  4. Sebagai Sarana Pengatur Konflik

    Peranan partai politik sebagai pengatur konflik adalah menjembatani psikologis dan organisasional antara warga negara dengan pemerintahnya agar tidak terjadi perbedaan pendapat atau persepsi. Selain itu juga pada fungsi ini partai politik melakukan konsolidasi serta artikulasi pendapat dari berbagai kelompok masyarakat.

  • Fungsi di Negara Otoriter

    Fungsi partai politik di Negara Otoriter dibagi menjadi dua macam menurut paham komunis. Fungsi partai yang politik yang berkuasa dalam negara itu adalah sebagai partai dominan atau partai tunggal dengan kedudukan monopoistis dan berkebebasan persaingan antar partai politik ditiadakan seperti yang terjadi di Uni Soviet (pada masa kejayaannya), China, dan kawasan negara eropa timur. Partai politik seperti ini atau yang sering disebut partai komunis juga melaksanakan fungsinya tetapi berbeda dengan partai yang berada di negara demokrasi.

    • Sebagai sarana komunikasi politik, partai menyalurkan informasi untuk mempengaruhi masyarakat dengan informasi menunjang usaha pimpinan partai. Arus informasi bersifat searah dari atas ke bawah.
    • Sebagai sarana sosialisasi politik lebih dititik beratkan pada aspek pembinaan warga negara ke arah kehidupan dan cara berfikir yang sesuai dengan pola yang ditentukan partai. Proses ini dilakukan ketat disemua media sosialisasi.
    • Sebagai sarana rekrutmen politik, dalam fungsi ini partai lebih mengutamakan merekrut anggota yang mempunyai kemampuan untuk mengabdi kepada partai, menguasai ideologi Marxisme – Leninisme, dan memiliki kemampuan menduduki pimpinan untuk mengawasi kegiatan diberbagai aspek kehidupan masyarakat.

    Fungsi partai politik dimana partai ini tidak berkuasa adalah mencari dukungan seluas – luasnya dengan cara memupuk rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Apabila kegiatan partai ini dilarang maka mereka akan melakukan bergerak di bawah tanah melalui kerja sama dengan partai lain membentuk Front Rakyat atau Front Nasional.

  • Fungsi di Negara – Negara Berkembang

    Fungsi partai politik di negara – negara berkembang masih belum jelas fungsinya walaupun pada dasarnya fungsi partai politik di negara berkembang sama dengan fungsi di negara demokrasi. Namun, banyaknya tantangan serta halangan yang ada sering dijadikan sebuah pertanyaan di masyarakat yang menanyakan fungsi dan kinerja partai politik di keadaan yang sedang berkembang dan belum stabil. Satu peran yang diharapkan pada partai politik di negara berkembang sebagai sarana untuk perkembangan integrasi nasional dan memupuk identitas nasional.

     

  • KLASIFIKASI SISTEAM KEPARTAIAN
  1. Sistem Partai Tunggal

    Beberapa pengamat berpendapat bahwa istilah partai tunggal merupakan penyangkalan pada diri sendiri sebab suatu sistem merupakan gabungan dari berbagai bagian atau unsur. Namun, istilah ini telah tersebar luas di masyarakat dan telah digunakan untuk sebutan partai yang benar – benar berkuasa tunggal atau partai yang dominan dalam suatu negara. Sistem partai tunggal terdapat di beberapa negara seperti: Afrika, China, dan Kuba, sedangakan untuk Uni Soviet terjadi sampai tahun 1991 sebelum Uni Soviet pecah serta beberapa negara di Eropa bagian timur. Sistem partai tunggal ini sering terjadi atau mudah terjadi di negara yang baru saja melepaskan diri dari kolonialisme. Hal ini disebabkan lebih mudah untuk pimpinan negara mengintegrasikan berbagai golongan, suku, dan daerah yang berbeda corak pandangan hidupnya. Pada sistem partai tunggal, fungsi partai ialah menyakinkan atau memaksa masyarakat untuk menerima persepsi pimpinan partai mengenai kebutuhan utama dari masyarakat keseluruhan. Di Uni Soviet sebelum tahun 1991, Partai Komunis Uni Soviet bekerja dalam suasana yang non kompetitif, tidak diperbolehkan partai lain bersaing, dan oposisi dianggap sebagai pengkhianat. Oraganisasi bernaung dibawah partai sebagai pembimbing dan penggerak masyarakat serta menekan perpaduan dari kepentingan partai dengan kepentingan rakyat keseluruhan. Itu merupakan salah satu contoh dari Sistem Partai Tunggal yang berjaya hingga tahun 1991. Di Indonesia sempat akan dibentuk sebuah partai tunggal tetapi dihentikan karena tidak sesuai dengan konteks Indonesia yang Bhineka dan berbau fasisme.

  2. Sistem Dwi Partai

    Sistem Dwi Partai biasanya diartikan ada dua partai di antara beberapa partai, yang berhasil memenangkan dua tempat teratas dalam pemilihan umum secara bergiliran mempunyai kedudukan dominan. Beberapa negara yang memakai sistem dwi partai adalah: Inggris, Amerika Serikat, Filipina, Kanada, dan Selandia Baru. Sistem dwi partai disebut oleh Maurice Duverger khas Anglo Saxon. Pada sistem Dwi Partai penguasa pemerintahan adalah partai yang memenangkan pemilihan umum dan yang kalah dalam pemilihan umum menjadi oposisi bagi partai yang memenangkan pemilu serta yang memegang kekuasaan. Sistem dwi partai dapat berjalan baik apabila memenuhi tiga syarat yaitu: masyarakat bersifat homogenitas, ada konsesus yang kuat dalam masyarakat mengenai asas dan tujuan sosial serta politik, dan kontinuitas sejarah. Negara yang paling cocok sebagai contoh adalah Inggris. Dimana terdapat 2 partai (Partai Burah dan Partai Konservatif) yang mendominasi dalam penguasaan pemerintahan dan hanya satu perbedaan diantara kedua partai itu adalah cara cepat dan lambat mencapai tujuan. Namun, di Inggris juga terdapat partai yang krusial fungsinya apabila 2 partai (Partai Burah dan Partai Konservatif) mendapatkan perolehan suara yang tipis, contohnya ialah Partai Liberal Demokrat. Sistem dwi partai lebih kondusif dan terpelihara stabilitasnya karena jelas perbedaan tugas antara partai pemerintah dan oposisi. Sistem dwi partai pada umumnya diperkuat dengan sistem distrik dimana setiap daerah pilihan hanya ada satu wakil. Sistem pemilihan seperti ini membuat ruang gerak partai kecil semakin sempit karena tidak ada kesempatan bagi partai kecil berkembang.

  3. Sistem Multi Partai

    Sistem Multi Partai lebih mudah terjadi di negara yang memiliki perbedaan dan pluralitas yang tinggi. Sistem multi partai terdapat di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Belanda, Australia, Perancis, Swedia, dan Rusia (setelah pecahnya Uni Soviet pada tahun 1991). Sistem multi partai jika dikaitkan dengan sistem parlementer mempunyai kecenderungan menitikberatkan kekuasaan pada badan legislatif sehingga peran eksekutif sering lemah dan ragu – ragu. Hal itu dikarenakan tidak ada partai yang mendominasi kuat untuk membentuk pemerintahan sendiri sehingga diperlukan koalisi dengan partai lainnya. Namun, hal itu tidak menjamin lama pedeknya masa pmerintahan karena koalisi sewaktu – waktu bisa berubah sebagai oposisi pemerintah. Di sisi lain, pihak oposisi kurang bisa memberi masukkan atau alternatif kepada pemerintah terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai pada saat kegentingan. Pola multi partai ini umumnya diperkuat dengan sistem pemilihan berimbang yang memberikan kesempatan luas bagi semua partai berkembang serta setiap partai memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan kursi di parlemen tergantung banyak sedikitnya suara yang diperoleh partai tersebut dalam pemilihan umum.

 

  • BENARKAH PENGARUH PARTAI POLITIK TURUN???

    Anggapan bahwa pengaruh partai politik mulai turun disebabkan kehidupan politik yang modern telah begitu kompleks dengan diikuti kemajuan teknologi diberbagai bidang kehidupan khususnya dibidang ekomoni. Akibatnya partai tidak bisa menyelesaikan masalah yang timbul. Bersamaan timbulnya masalah seperti itu banyak dari para pemilih menanyakan apakah partai masih bisa dikatakan mewakili rakyat banyak karena pada kenyataannya partai lebih mementingkan kepentingan mencari untung sendiri dibanding kepenting rakyat yang memilihnya serta banyak wakil rakyat yang korup dalam parlemen. Walaupun banyak anggapan seperti itu terhadap partai politik tetap saja partai politik merupakan pilar yang penting dalam kehidupan demokrasi. Bahkan pernah dikatakan: “Seandainya tidak ada partai politik, maka terpaksa kit harus menciptakannya.”

     

  • PARTAI POLTIK DI INDONESIA
    • Zaman Kolonial Belanda

      Kemunculan partai politik di zaman kolonial Belanda merupakan sebauh manifestasi terhadap kebangkitan nasionalisme. Awal kebangkitan tersebut ditandai dengan berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. Se telah itu diikuti oleh organisasi lainnya seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan sebagainya. Pada tahun 1918 Belanda mendirikan Volksraad yang berfungsi sebagai Badan Perwakilan. Berdirinay Volksraad mendapatkan beberapa tanggapan. Ada yang menfaat Volksraad dan ada yang menolak diberdirikannya Volksraad. Sejalan dengan berlangsungnya waktu, muncul prinsip mayoritas pribumi (anggota dari kalangan pribumi lebih banyak jumlahnya) pada tahun 1931. Pada tahun 1939 Fraksi Pribumi dalam Volksraad merupakan gabungan dari beberapa fraksi. Pada tahun 1939, GAPI (Gabungan dari partai – partai beraliran nasional) dan MIAI (Gabungan partai beraliran Islam tahun 1937) bergabung serta sepakat membentuk Komite Rakyat Indonesia (KRI). Namun, KRI dianggap kurang efektif, maka tahun 1941 dibentuk Majelis Rakyat Indonesia yang mewakili seluruh organisasi yang terbentuk saat itu. Sepanjang zaman kedudukan kolonial Belanda ini, organisasi kemasyarakatan dan partai politik sangat sukar bergabung dalam sebuah front untuk melawan kolonialisme Belanda. Hal ini dikarenakan setiap organisasi kemasyarakatan dan partai politik memikirkan tujuan dari organisasi dan partai masing – masing. Di samping pihak pemerintahan kolonialisme Belanda sendiri juga melakukan penangkapan tokoh partai dan pembubaran partai yang dianggap oleh pemerintah kolonial Belanda dapat membahayakan pemerintahan kolonial.

    • Zaman Pendudukan Jepang (1942 – 1945)

      Pada sama pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun, kegiatan berpolitik ditiadakan. Hal ini dikarenakan keinginan Jepang memenangkan perang dan menguasai wilayah Asia Timur. Saat pendudukan Jepang banyak para tokoh politik yang ditarik Jepang untuk duduk di dalam organisasi yang dibuat oleh Jepang. Tujuan Jepang merekrut para tokoh politik agar mendapatkan dukungan dari rakyat jajahannya. Golongan Islam saja yang mendapatkan kebebasan untuk membentuk organisasi sosial (Masyumi) yang pada akhirnya organisasi sosial ini (Masyumi) menjadi partai politik setelah kemerdekaan Indonesia.

    • Zaman Demokarasi Indonesia
      • Masa Perjuangan Kemerdekaan (1945 – 1949)

        Pada masa perjuangan kemerdekaan terjadi beberapa tahapan sebelum akhirnya dibentuk sebuah Badan Pekerja. Setelah dibentuknya Badan Pekerja muncul usulan agar dibuka kesempatan mendirikan partai politik dan usulan itu disetujui oleh pemerintah dengan dikeluarkanya Maklumat Pemerintah 3 November 1945. Dengan disetujuinya usulan itu, disambut gembira oleh masyarakat luas dan setelah itu banyak partai atau organisasi politik yang terbentuk. Maka pada saat itu berkembanglah sistem multi – partai dengan koalisi. Seiring berjalannya waktu terdapat beberapa partai besar yang terbentuk dan beberapa kejadian. Salah satunya kejadian Muso (PKI) pada September tahun 1948. Dengan terjadinya pemberontakan tersebut konstelasi politik Indonesia berubah dan partai yang mendominasi seperti PNI dengan Masyumi.

      • Zaman Republik Indonesia Serikat (1949 – 1950)

        Pada masa RIS ini keseluruhan partai politik secara aktif berperan dan mendukung pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari negara bagian. Tidak ada banyak perubahan konstelasi partai politik pada masa Republik Indonesia Serikat ini.

      • Masa Pengakuan Kedaulatan (1949 – 1959)

        Setelah diakui kedaulatan Indonesia secara de jure pada Desember tahun 1949 dan digunakannya UUD Sementara 1950, pola kabinet koalisi masih berlangsung dengan menggunakan koalisi partai PNI dan Masyumi. Pada tahun 1955 atau saat kabinet Burhanudin Harahap dari Masyumi mengadakan pemilu pertama di Indonesia yang hasilnya 4 partai besar memperoleh suara banyak yaitu PNI (57 suara), Masyumi (57 suara), NU (45 suara), dan PKI (39 suara). Pada awalnya pelaksanaan pemilu diharapkan dapat menyelesaikan kondisi politik yang kacau. Namun, semua itu tidak terjadi sama sekali. Melainkan terjadi pergantian kabinet berulang kali. Hinnga pada kabinet Ali II berakhir dan digantikan dengan Kabinet Djuanda yang dibentuk dari non parpol. Berakhirnya masa kabinet Ali II maka berakhirlah Demokrasi Parlementer. Setelah berakhirnya Demokrasi Parlementer muncullah Demokrasi Terpimpin. Pada masa ini parlemen yang terbentuk dari parpol memberikan banyak jasa yaitu dibidang legilasi dalam pembuatan Undang – Undang lebih baik dibandingkan parpol hasil pemilu tahun 1977.

      • Zaman Demokrasi Terpimpin (1959 – 1965)

        Masa Demokrasi Terpimpin ditandai dengan diperkuat kedudukan Presiden melalui pengangkatan Presiden seumur hidup (TAP MPR No III/1963), pengurangan peranan partai politik (kecuali PKL), dan peningkatan peranan militer sebagai kekuatan sosial politik. Pada masa ini merupakan perebutan tiga kekuasaan antara Soekarno, PKI, dan ABRI. Dalam pelaksanaan konsep Demokrasi Terpimpin, Soekarno membentuk alat – alat kenegaraan seperti MPR dan DPA. Di samping itu dibentuk juga Dewan Nasional yang terdiri dari 40 anggota dengan mewakili tiap golongan. Hal ini dimaksudkan semua golongan partai maupun non partai perlu didengar aspirasi atau pendapat mereka dalam proses politik. Soekarno mengeluarkan Penper No.7/1959 untuk mengurangi partai politik sebagai tujuan memperkuat badan eksekutif. Berpedoman pada Maklumat Pemerintah 3 November 1945 yang menganjurkan pambentukan partai politik dicabut dan ditetapkan syarat yang harus dipenuhi oleh partai politik untuk diakui oleh pemerintah. Kemudian pada tahun 1960 hanya tersisa sepuluh partai akibat penyeleksian partai sesuai syarat yang telah ditetapkan. Pada tahun 1960 Soekarno membentuk NASAKOM sebagai wadah untuk mengawasi mobilitas kekuatan politik. Anggapan umum dari terbentuknya NASAKOM ini untuk memperlemah kedudukan dan peranan partai politik. Terbentuknya NASAKOM ini dimanfaatkan PKI untuk berkembang serta mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan politik. Sehingga terjadi pemberontakan G30S PKI dengan membunuh Perwira Tinggi Angkatan Darat. Dengan terjadinya pemberontakan tersebut berakhir pula masa Demokrasi Terpimpin yang bertahan selama enam tahun.

      • Zaman Demokrasi Pancasila (1965 – 1998)

        Di masa Demkrasi Pancasila merupakan masa dimana Orde Baru mulai berkuasa setelah di lengserkannya Soekarno dari jabatan Presiden karena MPRS mencabut Ketetapan No. III/1963 tentang penetapan Presiden seumur hidup setelah itu digantikan oleh Soeharto. Pemerintahan Orde Baru mengajukan usulan penyerdehanaan partai politik dengan dapat meningkatkan stabilitas politik. Akhirnya pada tanggal 27 Juli 1967 pemerintah dan partai – partai politik mencapai suatu kompromi dengan kedua belah pihak memberikan konsesi. Namun terjadi kegagalan setelah diberlakukan di beberapa daerah. Setelah itu diadakan penggolongan partai politik yang diharapkan pada pemilu 1971 bisa terjadi tetapi baru terjadi pada pemilu 1977. Penggabungan partai itu pun terjadi pada tahun 1973 dengan Golkar, PDI, dan PPP. Pada tahun 1982 sampai 1987 pemilu dimenangkan Golkar dan pada tahun 1997 Golkar mengalami kemenangan besar –besaran. Jadi pada dasarnya dari enam kali pemilu saat masa Orba dapat ditarik kesimpulan banyak anggota masyarakat yang terwakili oleh tiga partai.

      • Evaluasi Partai Politik 1945 – 1998 dan Rekomendasi

        Dari awal pembentukan partai politik pada masa kolonial sebagai manifestasi kesadaran nasional hingga masa demokrasi pancasila yang berlangsung selama 40 tahun dengan keadaan non demokratis. Sepanjang perjalanan pasang surutny partai politik di Indonesia perlu adanya penyederhanaan partai politik untuk kestabilan politik dalam rangka membangun sistem multi partai yang kuat dan demokratis. Usulan penyerdehanaan sebagai berikut:

  1. Mengurangi jumlah partai – partai politik untuk peningkatan stabilitas politik.
  2. Terbatasnya jumlah partai akan mempermudah partai mencapai mayoritas atau setidaknya dapat menyusun koalisi yang relatif kuat.
  3. Terbatasnya jumlah partai akan mengurangi fragmentasi dan kecenderungan sentrifugal dari partai – partai.
  4. Partai – partai kecil sebaiknya bergabung atau setidaknya bekerja sama untuk memperoleh kursi dalam parlemen.
  5. Membatasi jumlah partai misalnya dengan menentukan beberapa syarat.
  6. Penggabungan partai menjadi tiga partai seperti Orde Baru dihapuskan.
  7. Massa mengambang dihapuskan dalam pemilihan umum.

 

  • Zaman Reformasi (1998 – Sekarang)

    Jatuhnya masa Orba pada tanggal 21 Mei 1998 dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Saat itulah digantikan dengan B.J Habibie sampai tahun 1999. Setelah itu diadakan pemilu yang diikuti banyak partai baru saat masa Orba dilarang adanya selain 3 partai. Pemilu 1999 diikuti 48 parpol dengan dimenangkan oleh PDI-P, Golkar, PPP, PKB, PAN. Dari hasil pemilu ini terpilihlah Abdulrahman Wahid sebagai Presiden dan Megawati sebagai Wakil Presiden. Menjelang Pemilu 2004 yang memperoleh suara yang memadai dalam pemilu 199 tidak dapat mengikuti pemilu 2004 karena ditetapkan UU No. 31/2002 tentang Partai Politik dan UU No. 12/2003 tenteng pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD. Oleh karena itu partai yang 1999 memperoleh suara tetepi tidak bisa mengikuti pemilu 2004, mereka bergabung dengan partai lain. Pada pemilu 2004 banyaknya partai politik yang mengiktui pemilu sebanyak 24 partai dan hasilnya dimenangkan oleh Golkar. Pada 2004 juga dipilih Presiden dan Wakil Presiden langsung dengan hasil terpilihlah Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden terpilih) dari Partai Demokrat dan Jusuf Kalla (Wapres terpilih) dari Golkar. Pada tahun 2009 ini telah berlangsung pemilu legeslatif dan Pilpres yang diikuti 38 partai nasional dan 4 partai lokal dari Aceh. Dan hasilnya dimenangkan oleh Partai Demokrat dengan hampir memperoleh lebih dari 30% suara. Untuk pilpresnya dimenangkan SBY lagi dengan pasangan wapres terpilih Boediono.

 

  • KESIMPULAN

    Dapat disimpulkan bahwa perkembangan partai politik di dunia memberikan sumbangsih yang banyak bagi kehidupan berpolitik di seluruh negara di dunia dengan semua kebaikan dan keburukan pengaruhnya. Begitu pula perkembangan partai politik di Indonesia, semua dipengaruhi berbagai faktor dari luar dan dalam negara. Dengan gejolakan situasi politik di Indonesia membawa banyak perubahan. Salah satunya selama hampir 32 tahun orba berkuasa hanya 3 partai yang memenangkan pemilu. Tetapi setelah hancurnya Orba pada tahun 1998 banyak bermuncullan partai politik untuk tahun 1999 dengan diikuti 48 partai kemudian 24 partai pada tahun 2004 dan tahun 2009 ini pemilu diikuti 38 partai nasional dengan 4 partai lokal di Nangroe Aceh Darrusalam.

Contoh Press Release Event

Tinggalkan komentar

 

 

PRESS RELEASE:

 

DUA KELINCI DUKUNG PEMKAB PATI ADAKAN CAR FREE DAY LAGI

 

Dalam rangka menjadi bagian kebanggaan masyarakat kabupaten Pati, PT. Dua Kelinici mendukung Pemkab Pati untuk mengadakan Car Free Day lagi pada hari minggu tanggal 2 Oktober 2011 sebagai upaya pengurangan emisi gas di daerah Kabupaten Pati. Acara Car Free Day akan dilaksanakan pada minggu pertama dan minggu ketiga setiap bulan. Lokasi Car Free Day sepanjang jalan Panglima Sudirman (mulai dari alun – alun sampai kantor samsat pati) yang akan dimulai dari pukul 06.00 WIB – 09.00 WIB. Selaku pendukung dalam kegiatan tersebut PT. Dua Kelinci akan memberikan dukungan berupa bentuk kegiatan seperti senam SKJ, hiburan musik jalan, dan kumpul komunitas yang ada di Kabupaten Pati.

 

Diungkapkan oleh Factory Manager PT. Dua Kelinci Ir Djuli Murtadho,”Pada mulanya acara Car Free Day di Kabupaten Pati ini telah digiatkan, namun sayang kegiatan yang diadakan sebelumnya kurang efektif sehingga Kami selaku pihak yang mempunyai andil untuk memajukan daerah Pati ini siap mendukung acara Car Free Day tersebut.” Kegiatan awal yang akan dilakukan oleh Dua Kelinci adalah mengkomunikasikan kembali Car Free Day kepada masyarakat agar kesadaran akan pentingnya acara seperti ini untuk dilakukan. Karena PT. Dua Kelinci menilai acara Car Free Day sebelumnya kurang mendapatkan antusias dari masyarakat Pati.

 

Selain itu PT. Dua Kelinci juga akan mengajak pihak – pihak terkait seperti jajaran SKPD Kabupaten Pati, Satlantas Pati, radio, dan komunitas yang ada di Pati untuk ikut serta berpartisipasi di acara ini bukan hanya pada awal kegiatan saja tetapi juga diharapkan memiliki tanggung jawab dan kesadaran pada acara Car Free Day selanjutnya, ungkap Public Relations Manager PT. Dua Kelinci. Car Free Day ini diharapkan dapat menjadikan sebagai tempat dan acara yang positif bagi masyarakat Pati dan PT. Dua Kelinci selaku pendukung acara ini.

MUNAS GOLKAR

Tinggalkan komentar

  • PENDAHULUAN

        Sejak didirikan empat puluh lima tahun yang lalu Partai Golkar selalu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah yang berkuasa. Setelah terjadinya Reformasi pada tahun 1998, Partai Golkar menunjukkan sekali adanya militansi dari kadernya dalam rangka untuk mendapatkan dukungan suara dalam pemilu di era reformasi. Hal ini terlihat masih mengandalkannya konstituen lama yang mendukung Partai Golkar selama masa pemerintahan orde baru. Kurang idealis dan militansi kader Partai Golkar juga dapat diperhatikan banyak tokoh dan kader Partai Golkar yang menjadi “kutu loncat” dengan berpindah menjadi kader partai lain dan atau mendirikan partai sendiri untuk memperoleh kekuasaan.

        Sementara itu para tokoh serta kader Partai Golkar yang masih duduk dalam kepengurusan Partai Golkar lebih banyak yang bersikap pragmatisme dibandingkan yang mempunyai jiwa idealisme. Dalam MUNAS VIII Partai Golkar di Pekanbaru yang baru saja dilaksanakan, tokoh serta kader Partai Golkar yang mempunyai jiwa atau semangat idealisme berhadapan dengan tokoh serta kader Partai Golkar yang memiliki jiwa atau semangat pragmatisme untuk memperebutkan menjadi pucuk pimpinan tertinggi dari Partai Golkar (Ketua Partai). Hasil dari MUNAS VIII Golkar bahwa kelompok pragmatismelah yang menang dan di lain pihak kelompok idealisme kalah dalam pertarungan.

        Sebagai sebuah partai yang besar Partai Golkar harus berpikir panjang dan berjuang dalam menghadapi persaingan antar partai yang lebih berat di era reformasi ini, mengingat unggulnya kelompok pragmatisme dalam MUNAS VIII Golkar.

     

  • PERMASALAHAN

        Memperhatikan latar belakang tersebut di atas, timbul suatu pertanyaan “Mampukah Partai Golkar Mengembalikan Kejayaannya di Masa Lalu dan Eksistensinya dalam Pemilu yang Akan Datang (2014)?”. Hal ini perlu mendapatkan tanggapan atau jawaban yang lebih mendasar, mengingat ekses pertarungan di MUNAS VIII Golkar mempunyai dampak yang masif di tingkat daerah.

     

  • PEMBAHASAN

        Dalam memberikan tanggapan serta jawaban permasalahan dapat ditinjau dari beberapa hal yang meliputi:

    • Sistem Pelaksanaan Pemilu
    • Rekruitmen Anggota atau Kader Partai Politik
    • Pembinaan Anggota Partai
    • Pendanaan Partai

    

  1. Sistem Pelaksanaan Pemilu

        Pelaksanaan pemilu di Indonesia diatur dalam Undang – Undang Pemilihan Umum. Undang – Undang Pemilihan Umum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan. Terakhir pelaksaan Pemilu diatur pada UU No. 10 Tahun 2008. Pada Undang – Undang tersebut sistem pemilu di Indonesia adalah sistem distrik dengan skala daftar. Penghitungan perolehan suara adalah calon yang memperoleh suara 30% dari suara yang sah. Bagi calon legislatif yang kurang mendapatkan 30% suara yang sah walaupun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Calon tersebut berada pada nomor urut bawah tidak akan menjadi anggota legislatif tetapi yang menjadi anggota legislatif adalah yang memiliki nomor urut kecil. Hal ini dikarenakan masuk perhitungan perolehan partai peserta pemilu. Dari permasalahan di atas berdampak tokoh dan kader partai kurang militansinya dalam rangka mendapatkan dukungan pemilihnya.

        Dengan adanya Keputusan Makamah Konstitusi tahun 2009 dari sistem distrik menggunakan skala daftar berubah menjadi sistem distrik dengan suara terbanyak yang akan menjadi anggota legislatif membuat para tokoh dan kader partai peserta pemilu menjadi kalang kabut. Akibat dari perubahan sistem perolehan suara pada pemilu ini, banyak tokoh partai politik peserta pemilu yang gagal menjadi anggota legislatif karena perolehan suaranya kalah dari tokoh lokal atau tokoh lainnya yang mendapat suara terbanyak.

        Perubahan sistem perolehan suara, mau tidak mau pucuk pimpinan partai dan tokoh partai untuk berpikir ulang agar mendapatkan dukungan suara dari masyarakat. Dengan menempatkan kader sebagai caleg yang benar – benar idealis dan militansi untuk memperbesar dan kejayaan partai. Hal tersebut di atas juga berlaku pada Partai Golkar selaku peserta pemilu agar pada pemilihan yang akan datang pada tahun 2014 Partai Golkar dapat meraih kemenangan dan kejayaannya kembali melihat pada pemilu 2009 ini Golkar berada pada urutan kedua dibawah Partai Demokrat dengan selisih perolehan suaranya hampir 9% suara. Oleh sebab itu Partai Golkar harus bisa menempatkan caleg yang berpengaruh di masyarakat agar tidak terulang kembali penurunan suara seperti pemilu sebelumnya.

     

  2. Rekruitmen Anggota atau Kader Partai Politik

        Memperhatikan sistem pemilu di atas, perlu kiranya Partai Golkar menata ulang pola rekruitmen anggota dan kader – kadernya. Selama ini pola rekruitmen Partai Golkar masih menggunakan pola lama yaitu dengan menggunakan sistem rekruitmen pada masa orde baru dan berusaha mempertahankan pemilih tradisional (lama).

        Tantangan ke depan sangat berat bagi Partai Golkar karena sistem pemilu yang berlaku mendorong untuk mengubah pola rekruitmen anggota partai. Kalau selama ini Partai Golkar selalu mengandalkan tokoh – tokoh lama, dalam rekruitmen yang akan datang Golkar harus melibatkan berbagai elemen yang ada di masyarakat dan awal rekruitmen harus di mulai dari “akar rumput” yang secara berjenjang dapat menduduki jabatan kepengurusan partai. Waktu yang dipergunakan untuk rekruitmen anggota dan kader harus berkesinambungan yang dimulai sejak ditetapkan hasil pemilu.

        Dalam pelaksanaan rekruitmen diperlukan adanya transparasi komunikasi yang berupa penyampaian visi dan misi dari partai. Termasuk di dalam rekruitmen itu adalah konsolidasi internal dalam tubuh Partai Golkar. Dalam pelaksanaan konsolidasi partai harus dihindari adanya “unggulan egoisme”, hal ini perlu sekali dilaksanakan agar tidak terjadi vaksi – vaksi yang saling bertentangan sehingga berdampak melemahkan tujuan partai.

        Untuk menjadi sebuah partai modern, pola evaluasi rekruitmen dan kaderisasi harus dilaksanakan secara periodik untuk mendapatkan feedback dari anggota dan kader. Dalam evaluasi tersebut juga harus bersifat netral dan adil agar tidak terjadi saling menjatuhkan antar kader. Hasil setiap evaluasi dipergunakan untuk perencanaan pembinaan kader.

        Jadi untuk rekruitmen Partai Golkar yang akan datang perlu melihat dari situasi Golkar pada saat ini memerlukan sosok yang mau bekerja keras membesarkan partai bukan sekadar mencari kekuasaan pada 2014. Karena itu sosok yang dipilih dalam Munas semestinya bukan sosok yang berorientasi kekuasaan atau mencari kursi untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

     

  3. Pembinaan Anggota Partai dan Pemeliharaan Konstituen

        Memperhatikan penurunan suara Golkar pemilu sejak reformasi menunjukkan terabaikannya pembinaan dan pemeliharaan kader serta konstituen. Bila dikaitkan dengan hasil MUNAS VIII Golkar maka pembinaan dan pemeliharaan konstituen sangat menentukan sekali keberadaan partai Golkar pada pemilu – pemilu yang akan datang.

        Berdasarkan pada kenyataan di lapangan selama ini, para elit Partai Golkar di setiap tingkatan sangat kurang sekali melaksanakan kegiatan pembinaan dan pemeliharan konstituen partai. Di era sekarang dengan banyaknya partai peserta pemilu merupakan ancaman bagi kader dan konstituen Partai Golkar untuk tidak lagi mendukung Partai Golkar. Mereka memindahkan dukungan dan pilihannya pada partai – partai lain.

        Pembinaan dan pemeliharaan konstituen tidak dapat dilaksanakan dengan ibarat “mendorong mobil mogok, dan saat mobil berjalan pendorongnya ditinggal”. Dari ibarat tersebut dapat dilihat yang menikmati hasil pemilu hanya elit partai saja. Pembinaan dan pemeliharaan seperti ini lebih banyak dilakukan Partai Golkar pada saat menjelang pemilu.

        Seharusnya pola pembinaan dan pemeliharaan konstituen dilaksanakan seiring dengan berjalannya rekruitmen anggota dan kader segera setelah penetapan hasil pemilu. Dalam pembinaan dan pemeliharaan konstituen, seluruh jajaran elit dan kader Partai Golkar melakukan kegiatan sesaui dengan daerah pemilihan masing – masing. Jadwal waktu pelaksanaan pembinaan dan pemeliharaan tersebut harus teratur secara periodik. Salah satu bentuk pembinaan konstituen adalah penggunaan Kartu Tanda Anggota Partai (KTA). Hal ini dimaksud untuk mengukur secara nyata kekuatan yang dimiliki oleh Partai Golkar. Dengan penggunaan KTA tersebut pelaksanaan dan pembinaan konstituen akan mendukung perolehan suara pada setiap pemilu. Kepemilikan KTA Partai selama ini masih terabaikan karena takut pada trauma pada peristiwa G-30S PKI. Pemilikkan KTA dalam setiap organisasi merupakan suatu kewajiban dan kebanggaan untuk setiap intern partai. Dengan KTA anggota dapat memudahkan untuk dibina militansinya.

        Jadi mulai saat ini Partai Golkar harus mampu menarik kembali konstituen yang sekarang sudah tercerai-berai dan direkrut Parpol lain agar kejayaan dapat diraih kembali serta penurunan suara pada pemilu yang lalu tidak terjadi lagi walaupun Golkar memangkan pemilu.

     

  4. Pendanaan Partai

        Salah satu pendukung eksistensi keberadaan organisasi adalah faktor finansial atau pendanaan. Dana organisasi diperoleh dari iuran anggota, subsidi pemerintah, dan sumbangan – sumbangan yang sah. Dengan semakin banyaknya anggota organisasi akan memudahkan penggalangan dana bagi organisasi untuk mempertahankan keberadaan organisasi.

        Pada kenyataan yang ada pendanaan Partai Golkar tidak seperti yang diharapkan sebagai yang diuraikan di atas. Pendanaan partai di Indonesia secara umum termasuk Partai Golkar sangat tergantung pada pemerintah yang berupa bantuan pada Parpol. Dana dari pemerintah tersebut bersumber dari APBN atau APBD. Besarnya dana dari pemerintah dihitung dari jumlah kursi di legislatif. Bantuan yang bersumber dari pemerintah baik langsung maupun tidak langsung menjadi beban masyarakat. Sedangkan kontribusi parpol pada masyarakat kurang dapat dirasakan.

        Untuk Partai Golkar sendiri keuangan partai mengandalkan iuran dari anggota partai yang duduk dalam legislatif di semua tingkatan daerah maupun nasional dan juga bantuan dari pengurus partai atau simpatisan partai dari kalangan pengusaha. Sedangkan dari anggota dan konstituen partai tidak dapat dipungut karena tidak diketahui secara pasti jumlah anggota dan konstituen.

        Berkaitan dengan pendanaan yang sangat terbatas dalam setiap kegiatannaya, Partai Golkar lebih bersikap pragmatis dalam arti kata membebani para menteri, anggota legislatif, dan meminta bantuan lain dari pengusaha yang menjadi simpatisan Golkar. Hal ini menunjukan bahwa Partai Golkar tidak dapat mandiri sebagai yang besar.

        Apabila hal tersebut dikaitkan dengan MUNAS VIII Golkar dengan kemenangan di kelompok pragmatisme (Aburizal Bakrie) kemandirian Partai Golkar menjadi taruhan yang besar. Hal ini disebabkan dalam era saat ini ada anggapan atau penilaian dari masyarakat untuk memilih anggota legislatif dari Partai Golkar hanya merupakan sarana pengembalian modal.

        Untuk masa yang akan datang penggalian dana dalam Partai Golkar seyogyanya harus diubah pula dengan perbandingan iuran anggota harus lebih besar dari bantuan pemerintah dan sumbangan lain yang sah. Untuk mendapatkan dana dari anggota dapat didata dari jumlah anggota yang mempunyai KTA.

     

  • KESIMPULAN

        Dari pembahasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan:

    • Bahwa berdasarkan hasil MUNAS VIII Golkar, Partai Golkar akan menghadapi tantangan yang besar dalam upaya menjaga eksistensi sebagai partai besar di Indonesia. Hal ini terlihat dari terpilihnya “kelompok tua” sebagai Ketua Partai Golkar yang lebih bersifat pragmatisme (Aburizal Bakrie). Sementara itu figur pucuk pimpinan Partai Golkar mempunyai masalah sosial yang belum terselesaikan secara tuntas.
    • Bahwa kekalahan kelompok idealisme (Surya Paloh: 27,43% suara) dan generasi muda (Yudhi Chrisnandi: 8% suara dan Hutomo Mandala Putra: 9,71% suara) atas kelompok pragmatisme (Aburizal Bakrie: 54,86% suara) diakibatkan adanya pengkhianatan di dalam kelompok idealis dan generasi muda dengan terjadinya pelemahan secara sistematik dalam aturan pelaksanaan MUNAS VIII yang dilakukan oleh panitia MUNAS yang didominasi oleh kelompok pragmatisme.
    • Bahwa agar supaya Partai Golkar dapat bertahan sebagai partai besar serta tidak mengalami penurunan suara lagi pada pemilu yang akan datang, pola rekruitmen anggota dan kader harus diubah dari pola yang mengandalkan mantan pejabat pemerintah dan pemilih tradisional menjadi pola rekruitmen melibatkan semua elemen masyarakat mulai dari “akar rumput” sampai ke atas melalui metode penyampaian visi dan misi partai. Pelaksanaan rekruitmen harus dilaksanakan secara langsung oleh elit partai dan fungsionaris Partai Golkar.
    • Bahwa dalam konsolidasi internal Partai Golkar, kelompok pragmatisme harus dapat merangkul kelompok idealisme untuk menghindari perpecahan partai Golkar itu sendiri.
    • Pembinaan kader dan pemeliharaan konstituen harus dilaksanakan lebih awal dan terencana oleh para jajaran kader Golkar di setiap tingkatan agar terpeliharanya konstituen dan kader dari Partai Golkar. Partai Golkar harus berani meninggalkan pola lama dalam pembinaan kader dan pemeliharaan konstituen yang di ibaratkan sebagai “mendorong mobil mogok”. Partai Golkar harus berani mengeluarkan KTA bagi kader dan konstituennya untuk lebih mudahkan pelaksanaan pembinaan kader dan pemeliharaan konstituen.

    Bahwa untuk menjaga keberadaan dan kemandirian, Partai Golkar harus mempunyai dana yang cukup besar sebagai salah satu penopang tulang punggung yang kuat. Penggalian dana harus lebih banyak bersumber dari iuran anggota daripada bantuan pemerintah dan sumbangan lain yang sah.

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.