Apa Itu Penyimpangan Sosial (Deviation) dan Konsensus Publik?

Pengertian Penyimpangan Sosial

    Sebelum membahas kasus – kasus yang diatas terlebih dahulu kita pahami pengertian dari penyimpangan sosial (Deviation) adalah bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan sosial tidak dititik beratkan pada baik atau buruknya untuk menyimpang namun lebih didasarkan pada benar atau salah dari penyimpangan tersebut.

    Penyimpangan itu sendiri terjadi akibat beberapa faktor. Faktor yang mungkin sangat dominan pengaruhnya adalah kecerdasan tiap individu, usia, jenis kelamin, dan kedudukan dalam keluarga. Hal ini sangat berperan penting, karena dari faktor itu keberhasilan sosialisasi terhadap norma dan nilai dimasyarakat seutuhnya dapat dipahami. Selain itu faktor dari luar adalah lingkungan. Lingkungan mendukung individu untuk melakukan atau tidaknya penyimpangan.

Penyimpangan Akibat Konsensus Publik

    Konsensus ialah suatu bentuk kesepakatan atau anggapan bersama yang telah disetujui oleh semua pihak yang berkaitan. Konsensus Publik bisa diartikan sebagai kesepakatan umum atau masyarakat, bisa dikatakan juga bahwa konsensus publik sama seperti penilaian masyarakat. Cara pandang kita terhadap sesuatu yang tidak wajar, jarang dilihat, atau kurang sesuai dapat kita katakan sebagai penyimpangan. Padahal tidak semua bisa dikatakan penyimpangan, mungkin saja itu hal baru yang jarang kita lihat. Penilaian awal yang langsung mengatakan sebagai penyimpangan sosial bisa dipengaruhi adanya prasangka dalam diri kita. Pada dasarnya pengertian penyimpangan adalah perilaku individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyaraka. Dapat kita lihat bahwa pengertian penyimpangan lebih pada tindakan akan nilai dan norma, alasannya lebih disebabkan karena nilai dan norma merupakan hasil kesepakatan masyarakat (rekayasa sosial) dan harus dipatuhi. Penggambaran terjadinya penyimpangan adalah bila ada pria tetapi gerakan tubuhnya lebih dominan seperti perempuan (waria) dianggap suatu penyimpangan oleh masyarakat, karena masyarakat menganggap tindakan pria itu lebih berani, tidak lemah gemulai, tegas, dan tidak cengeng. Untuk lebih jelasnya akan saya berikan contoh kasus dan penjelasan masalah penyimpangan sosial yaitu tindakan kekerasan yang terjadi pada masyarakat umum khususnya yang terjadi pada Institusi Pendidikan dewasa ini.

Beberapa Kasus Penyimpangan Sosial di Masyarakat

    Masih teringat dalam ingatan kita sebuah kekerasan yang dilakukan oleh senior terhadap yuniornya disalah satu Institusi Pendidikan yang mencetak pamong praja bagi negara ini. Kekerasan dan penyiksaan ini bermula karena ada yang bentuk hukuman terhadap pelanggaran peraturan. Namun, disayangkan sekali tindakan itu menelan nyawa yang seharusnya menjadi masa depan keluarganya. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali melainkan telah terjadi sejak angkatan lama hingga sekarang. Bahkan semua itu telah menjadi hal yang mentradisi di lembaga pendidikan ini.

    Contohnya saja di STPDN (sekarang IPDN), kematian Wahyu Hidayat, mahasiswa STPDN itu meniggal karena dihajar oleh seniornya karena suatu hal. Selain peristiwa itu masih ada perploncoan yang dilakukan oleh mahasiswa senior terhadap juniornya dalam masa basis. Tidak tanggung – tanggung semua junior “dihajar” oleh seniornya tanpa ada perlawanan.

    Tidak hanya di IPDN saja hal ini terjadi. STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) misalnya saja, ada film berdurasi pendek yang menontonkan “aksi heroik” seniornya memukul junior – juniorny secara “berjamaah”. Bahkan ada senior bangga melakukan hal itu terhadap jumiornya. Mereka merasa puas melakukan tindakan itu karena mereka beranggapan telah memberikan “pembelajaran” tradisi di kampus antar angkatan. Dan tidak terbantahkan lagi bila hal itu terjadi lagi terhadap junior yang baru masuk tahun ajaran baru berikutnya.

    Ironisnya lagi kekerasan seperti ini tidak saja di Sekolah Tinggi atau Universitas. Bahkan ditingkatan sekolah menegah keatas (SMA) juga terjadi seperti hal ini. Walaupun tidak sampai menghilangkan nyawa seseorang tetapi sangat disayangkan hal seperti ini terjadi di SMA. Kejadian kekerasan seperti ini sering terjadi pada saat MOS (Masa Orientasi Sekolah) yang sering disebut juga Ospek. Walaupun pihak sekolah mengaku tidak ada kekerasan saat Ospek tersebut tetapi ada beberapa siswa baru yang complain telah terjadinya kekerasan itu. Para siswa baru mengunkapakan kekerasan seperti itu terjadi diluar pengawasan guru. Jadi dapat disimpulkan kalau kejadian itu diluar jam Ospek.

    Kekerasan yang terjadi pada tingkat SMA tidak berhenti disitu saja, tapi kekerasan antara senior dan junior terjadi setelah masa Ospek. Contohnya saja di SMA ternama di Jakarta, anak kelas satu menjadi bulan – bulanan anak kelas tiga karena anak kelas satu ini melewati jalur “kramat” yang hanya boleh dilewati kelas 3 saja. Sungguh kejadian yang sangat diluar bayangan kita, kekerasan terjadi karena masalah sepele, dendam, atau “tradisi” yang ada.

    Contoh yang mengejutkan lagi peristiwa dimana seorang santri di pondok pesantren hilang nyawanya akibat dihajar santri seniornya. Kekerasan pun terjadi di Pondok Pesantren yang notabene merupakan lembaga pembelajaran agama Islam dimana agama itu melarang adanya kekerasan antar manusia. Bahkan bukan hanya di Pondok Pesantre kekerasan itu terjadi tetapi kekerasan itu dilakukan seorang Ustadz yang merupakan Ketu MUI di salah satu daerah Jawa Timur. Ustadz tersebut tega menyiramkan air keras kepada empat muridnya karena bukan kesalahan muridnya, melainkan mereka dituduh mencuri telepon seluler milik anak ustadz yang sebelumnya kehilangan telepon seluler.

    Apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa kekerasan seperti ini? Lembaga pendidikan yang harusnya memiliki cara pikir yang kritis berubah menjadi hal yang brutal. Seorang yyang harusnya jadi panutan malah melakukan tindakan yang seperti ini. Penyimpangan sosial yang tidak sesuai kaidah yang berlaku sering terjadi dengan sengaja atau tidak sengaja. Mungkinkah penyimpangan itu terjadi akibat konsensus publik terhadap tindakannya hingga melakukan penyimpangan atau penyimpangan itu terjadi karena hilangnya kontrol sosial dan ketidaksesuaian norma lagi?

 

Bagaimana Kasus – Kasus Penyimpangan Ini Dapat Terjadi?

Latar Belakang Penyebab Kasus Tindakan Penyimpangan

    Semua peristiwa yang terjadi pasti terdapat latar belakang dan faktor – faktor yang mempengaruhi. Latar belakangan penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat dan yang terjadi pada kasus – kasus di atas akan dijelaskan sebagai berikut:

  • Proses sosialisasi yang tidak sempurna.

    Proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak berhasil karena seseorang mengalami kesulitan dalam hal komunikasi ketika bersosialisasi. Artinya individu tersebut tidak mampu mendalami norma- norma masyarakat yang berlaku. Ketidakmampuan individu untuk memahami konsep – konsep norma di masyarakat membuat individu itu menyimpang. Hal ini dikarenakan tindakan yang dilakukan disesuai dengan kebiasaan di masyarakat.

  • Telah terjadi atau sudah ada subkultural yang menyimpang

    Penyimpangan terjadi karena telahh terjadi penyimpangan sebelumnya, sehingga membuat individu atau kelompok ikut juga melakukan penyimpangan. Dalam konteks ini dapat dilihat bahwa keadaan yang terjadi adalah anomine (kekosongan norma). Dalam keadaan ini bukan berarti masyarakat bebas melakukan apa saja, namun kondisi anomine yang berlaku masih ada norma yang berlaku tetapi tidak bisa menjadi pegangan atau kepastian dalam melakukan tindakan. Jadi individu atau kelompok leluasa bertindak karena kekuatan norma yang berlaku tidak dapat mengatur tindakan mereka.

    Kedua latar belakang di atas merupakan garis besar yang menyebabkan kasus kekerasan yang terdapat di atas dapat terjadi walaupun tidak menutup kemungkinan ada latar belakang lain yang menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial tersebut.

    Latar belakang pertama yaitu proses sosialisasi yang tidak sempurna, dalam kasus diatas dapat kita lihat bahwa penyimpangan sosial dalam bentuk kekerasan itu terjadi akibat tidak adanya keberanian dari junior untuk bertanya kepada senior tentang kenapa senior melakukan tindakan kekerasan terhadap junior tanpa alasanan yang jelas. Hal ini dikarenakan senioritas yang terjadi dalam lembaga pendidikan tersebut yang menyebabkan tidak adanya komunikasi yang baik antara senior dan junior.

    Diluar hal itu adanya rasa takut dari junior untuk menentang senior. Perasaan sebagai anggota baru yang ingin diterima oleh kelompoknya, jadi para junior menerima saja perlakuan kasar dan keras dari seniornya berulang kali.

    Hal kedua adalah telah ada subkultural yang menyimpang sehingga terjadi penyimpangan dan telah dianggap biasa dalam lingkungan tersebut. Maksudnya kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan seperti IPDN, STIP, dan SMA pada dewasa ini bukan hal baru. Semua tindakan kekerasan yang terjadi merupakann “warisan” dari angkatan atau generasi sebelumnya. Para pelaku ini sebelumnya juga korban kekerasan begitu pula para korban akan menjadi pelaku pada saat memiliki junior. Tindakan ini berputar tidak terputus karena kondisi lingkungannya anomine. Norma masih ada dan berlaku, namun norma itu tidak dapat mengendalikan tindakan kekerasan seperti pemukulan yang kita lihat pada rekaman video yang ditayangkan di televisi.

    Perlu ditegaskan yaitu norma yang saya maksud bukanlah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga pendidikan tersebut, namun norma yang saya maksud adalah kaidah yang berlaku dimasyarakat tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan tindakan tersebut. Hal ini terjadi karena pihak yang melakukan merasa apa yang dilakukannya merupakan hal yang wajar dan biasa. Sedangkan peraturan yang dibuat oleh lembaga pendidikan masih berlaku dan dipatuhi. Penyimpangannya terjadi pada pelaksanaan dan pemberian hukuman atau sanksi terhadap pelanggarnya.

Faktor – Faktor Penyebab Kasus Tindakan Penyimpangan

    Adanya tindakan penyimpangan seperti penyalahan penggunaan narkoba, pelacuran, perampokan, dan kekerasan yang terjadi di Institusi Pendidikan terdapat faktor – faktor yang mempengaruhinya. Pada kasus diatas faktor yang mempengaruhi sebagai berikut:

  • Longgar/tidak adanya nilai dan norma. Ukuran perilaku menyimpang bukan pada ukuran baik buruk atau benar salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran longgar tidaknya norma dan nilai sosial suatu masyarakat. Norma dan nilai sosial masyarakat yang satu berbeda dengan norma dan nilai sosial masyarakat yang lain. Faktor tersebut yang terlihat sekali pada contoh kasus kekerasan yang terjadi. Pukulan, tendangan, tendangan, dan tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap juniornya seperti hal yang wajar. Padahal mereka mengetahui apa yang dilakukan itu tidak sesuai norma dan nilai yang berlaku tetapi masih tetap dilakukan bahkan mereka merasa bangga melakukannya karena mereka beranggapan telah menyampaikan “pembelajaran tradisi” kepada juniornya yang mana hal itu telah menyimpang dan akan selalu begitu.
  • Penyalahgunaan Peran, Otoritas Kekuasaan, dan Status yang dimilik oleh seseorang atau kelompok tertentu di masyarakat yang seharusnya menjadi contoh yang baik tetapi melakukan tindakan penyalahgunaan dengan megabaikan norma. Faktor penyalahgunaan peran, otoritas kekuasaan, dan status dimana pelaku penyimpangan ini merasa apa yang dilakukannya itu benar walaupun tidak sesuai norma dan nilai di masyarakat. Hal ini terjadi pada contoh kasus ustadz yang menyiram tangan muridnya dengan air keras. Menurut ustadz, dia merasa melakukan hal yang benar karena tindakannya memberikan hukuman pada muridnya yang dituduh mencuri. Selain itu dia beranggapan kalau yang dilakukannya diakan menjadi masalah karena dia memiliki status yang terpandang di masyarakat apalagi di seorang ustadz dan ketua MUI. Namun semua itu tetap dinilai salah dan menyimpang terhadap masyarakat. Karena perbuatan itu tidak dibenarkan dalam norma masyarakat bahkan norma agama yang mana ustadz itu melakukan tindakan kekerasan, penganiayaan, dan main hakim sendiri.
  • Psikologis
    Menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian retak atau kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan. Dapat juga karena pengalaman traumatis yang dialami seseorang. Keadaan trauma yang dialami dapat membuat tidak ingin melakukan penyimpangan, namun pada keadaan trauma ini sering muncul rasa dendam untuk membalas perbuatan yang telah terjadi. Hal yang perlu disayangkan adalah pembalasan dendam ini tidak pada senior melainkan kepada junior barunya yang tidak mengetahui apa – apa sehingga hal ini terjadi terus menerus.
  • Kurangnya kontrol sosial atau pengawasan terhadap pelaksanaan norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat. Tindakan penyimpangan pada dasarnya adalah sebuah tindakan menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang. Tindakan ini biasanya dilakukan beberapa kelompok atau individu yang merasa tidak cocok terhadap norma yang berlaku. Oleh sebab itu, mereka yang berwenang seharusnya tidak hanya pembuatan norma saja tetapi juga ikut mengawasi dan mengontrol nilai dan norma agar tidak terjadi penyimpangan. Khusus keterkaitannya dengan contoh kasus adalah kekerasan yang terjadi tidak diketahui oleh pihak institusi atau pun sekolahan. Karena tindakan kekerasan ini dilakukan pada saat tidak adanya pengawasan dan korban kekerasan diancam agar tidak berbicara yang terjadi kepada pihak institusi atau sekolah. Jadi perlunya kontrol dan pengawasan harus lebih ketat agar tidak adanya tindakan penyimpangan.

        Tindakan penyimpangan sosial khususnya kekerasan tidak mungkin terjadi apabila faktor – faktor diatas dapat di atasi oleh setiap individu. Namun kita tidak bisa mempersalahkan tiap individu karena mereka memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam pemahaman nilai dan norma. Tetapi setidaknya kita bisa saling mengawasi dan mengontrol nilai dan norma yang digunakan agar tidak disimpangkan atau menjadi alasan untuk melakukan penyimpangan.

Dampak Akibat Penyimpangan Sosial

    Tindakan penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan apa yang berlaku di masyarakat memberikan dampak yang drastis dalam kehidupan masyarakat. Keterkejutan masyarakat yang melihat tindakan kekerasan dalam pendidikan dan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang panutan merupakan hal yang tidak wajar. Namun untuk lebih jelasnya akan saya uraikan pada dampak dari segi positif saja dari contoh kasus di atas, karena untuk dampak negatifnya kita dapat mengetahuinya.

  • Dampak Positif
  1. Tindakan kekerasan yang cenderung menyimpang dan negatif di masyarakat sangat di tentang sekali. Namun kita harus sadari dari hal itu mengingatkan agar berbenah diri. Ada yang salah sehingga terjadi hal seperti itu. Evaluasi untuk memperbaiki apa yang kurang sesuai lebih difokuskan supaya tidak terjadi peristiwa seperti itu.
  2. Sosialisasi dan kontrol sosial akan norma dan nilai dilakukan setiap individu. Proses penyampaian nilai dan norma tidak hanya sekedar proses, namun harus ada kelanjutannya. Khususnya untuk kontrol sosial, tanpa adanya kontrol terhadap tindakan penyimpangan maka akan menimbulkan penyimpangan juga dan dapat menjadi kebiasaan.
  3. Pemahaman akan status dan peran individu di masyarakat. Peran dan status juga memberikan dampak yang cukup mengejutkan. Pada contoh kasus ustadz yang menyiksa muridnya dengan air keras, itu merupakan adanya peran dan status yang disalahgunakan. Oleh sebab itu peran dan status dari yang kecil sampai yang besar harus mengerti fungsi masing – masing di masyarakat serta semua itu saling mendukung antara satu dan lainnya.

Kesimpulan

    Terjadinya kasus kekerasan diatas merupakan suatu yang bisa dibilang penyimpangan. Hal ini dikarenakan adanya perilaku yang tidak sesuai oleh norma dan nilai di masyarakat. Misalnya yang terjadi pada IPDN, STIP, atau SMA saat masa Ospek. Mereka melakukan tindakan seperti itu karena ada tujuannya yaitu untuk menaikkan posisi tawar dalam dinamika kehidupan kampus yang pada akhirnya juga menaikkan posisi tawarnya di masyarakat nantinya. Sehingga terdapat kecenderungan penyimpangan ini untuk menunjukan “kekuasaan”. Apalagi dalam tata pergaulan, dalam suatu kelompok, nilai-nilai pribadi yang baik itu akan sangat mudah terkooptasi. Jadi ada perbedaan perilaku di lingkungan rumah dan pergaulan. Selain itu kekerasan terjadi juga dipengaruh keberadaan kelompok sosial dimana lebih mengutamakan indentitas kelompoknya daripada jati diri.

    Lebih diperparah lagi karena adanya penyalahgunaan peran dan status yang dimiliki. Pada contoh kasus ustadz yang menyiksa muridnya dengan air keras, itu merupakan adanya peran dan status yang disalahgunakan. Dia beranggapan tidak menjadi permasalah bila melakukan tindakan itu karena dia orang yang memiliki peran dan status yang terpandang di masyarakat. Namun anggapan itu ditolak oleh masyarakat karena kesewang – wenangan dalam penggunaan “kekuasaan” yang diperoleh dari peran dan statusnya.

    Anggapan penyimpangan dalam kasus ini atau diluar kasus ini karena adanya bentuk tindakan yang tidak sesuai menurut masyarakat. Yang mana seorang siswa atau mahasiswa yang seharusnya menjadi penerus bangsa malah menjadi perusak bangsa. Tindakannya pun tidak sesuai dengan status yang disandangnya. Memiliki tingkat kecerdasaan yang bisa dikatakan tinggi namun perilakunya seperti orang yang tidak berpendidikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Windu. 2009. Penyimpangan Sosial Dalam Masyarakat., http://ips-mrwindu.blogspot.com,

(diunduh tanggal 12 Januari 2010).

 

mhs_new. 2007. Contoh Kasus Penyimpangan Pemuda Beserta Solusinya., http://one.indoskripsi.com, (diunduh tanggal 12 Januari 2010).

 

Modul Online. Penyimpangan Sosial., http://www.modulonline.com,

(diunduh 12 Januari 2010).