Apakah Definisi dan Katagori Selebritis?

    Sering kita mendengar istilah selebritis setiap hari di berbagai media. Mereka (selebritis) selalu mengisi media dengan pemberitaan yang miring atau kehidupan mereka sehari – hari. Hal apa saja yang dilakukan oleh setiap selebritis ini akan disorot oleh media dari hal negatif sampai hal positif. Dalam buku International
Journal of Communication 3, celebrities are mass idols, venerated and celebrated by the media (selebritis adalah idola orang banyak, dihormati, dan diperkenalkan oleh media). Pada intinya seorang selebritis merupakan seseorang yang menjadi idola banyak orang dan diperkenalkan oleh media.

    Sejatinya seorang selebritis hanyalah orang biasa seperti orang lain pada umumnya. Namun akibat seorang selebritis diperkenalkan oleh media, maka banyak orang yang tahu dan mereka (selebritis) menjadi idola. Menurut Chris Rojek selebritis dibagi menjadi beberapa kategori yaitu ascribed celebrity, achieved celebrity, dan attributed celebrity. Ascribed celebrity sebutan selebritis yang telah melekat sejak lahir akibat kekayaan orang tuanya, seperti Paris Hilton, keluarga kerajaan Inggris, keluarga cendana. Achieved celebrity merupakan sebutan selebritis yang sukses dalam berbagai bidang. Achieved celebrity ini cenderung dari orang biasa yang memiliki prestasi yang bagus dalam bidang hiburan, olahraga, atau bakat di bidang tertentu, seperti Mike Tyson, Bruce Lee, Anggun Sasmi yang sukses dibidangnya. Sedangkan attributed celebrity
di mana ketenaran dicapai melalui representasi media atau tontonan, seperti dalam skandal atau fitur tabloid, seperti Sinta – Jojo yang terkenal akibat video unik mereka di youtobe.

 

Apakah Politik Selebritis atau Politisi Selebritis itu?

    Pada awalnya politik selebritis telah muncul di Amerika Serikat dimana pada saat itu terpilihnya Ronald Reagen sebagai Gubernur California ke – 33, setelah itu dia menjadi presiden Amerika yang ke – 40 pada tahun 1981 sampai 1989. Selain Reagen ada beberapa selebritis yang masuk dalam ranah politik di Amerika seperti George Murphy terpilih menjadi Senator, dan Sonny Bono bertugas di Kongres. Mereka merupakan selebritis dunia yang masuk dalam ranah politik di Amerika.

    Pada saat ini, politik selebritis juga telah merambah politik di Indonesia bahkan dunia. Banyak selebritis Indonesia maupun dunia mencoba dunia politik. Salah satu selebritis dunia yang telah merambah politik adalah Arnold Schwarzenegger sebagai Gubernur California sampai saat ini. Di Indonesia pun banyak selebritis yang telah merambah dunia politik, seperti Rano Karno sebagai Wakil Bupati Tangerang dan Dede Yusuf sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Istilah politik selebritis mulai terdengar umum di telinga kita. Mungkin arti dari politik selebritis secara umum bahwa seorang selebritis yang masuk ranah politik, namun lebih jauh kita mengamati arti istilah politik selebritis mulai berubah. Bukan seorang selebritis yang menjadi politikus melainkan seorang biasa atau politikus yang bergaya seperti selebritis atau dijadikan selebritis oleh media. Kasus yang dapat dijadikan contoh ialah pada saat pemilihan Presiden Amerika tahun 2008 yang dimenangkan oleh Barrack Obama. Barrack Obama dan pesaingnya John McCain saling menggunakan politik selebritis sebagai kampanye mereka. Media memberitakan mereka dan mereka menggunakan media sebagai alat kampanye yang mana seolah – olah mereka seorang selebritis bukan seorang politikus.

 

Sosok Selebritis, Dukungan, dan Politisi Selebritisnya

    Setelah perang dunia II dimana televisi mulai ada, banyak perubahan yang terjadi pada cara memperoleh informasi. Televisi muncul sebagai jalan komunikasi utama pada saat itu menjadikan televisi sumber utama dalam memperoleh informasi di masyarakat. Hal ini terjadi di Amerika Serikat dimana perkembangan media elektronik yang pesat dibandingkan media cetak menjadikan adanya “batas yang kabur” antara Hollywood dengan Washington dimana para selebritis lebih mendapatkan dukungan di masyarakat dibandingkan politikus. Hal ini disebabkan selebritis mahir dalam menggunakan media untuk mendapatkan dukungan. Selain itu, selebriti sangat cocok untuk era politik kontemporer karena kekayaan dan kapasitas penggalangan dana mereka. Dengan tingginya biaya ras politik dan jumlah besar uang yang dibutuhkan untuk menyiarkan iklan, penggalangan dana sangat penting untuk menjamin keberhasilan politisi selebritisnya dalam pemilu.

    Dana yang dimiliki oleh para selebritis ini menjadikan diri mereka mampu dalam membiayai kampanye yang membutuhkan dana yang cukup besar. Dari hal inilah selebritis memiliki dan mendapatkan kekuatan dalam sistem politik. Selain itu, selebritis juga memiliki nama dan citra yang telah dikenal oleh masyarakat sehingga mereka mudah mendapatkan dukungan dari pemilih dan dana untuk kampanye mereka. Faktor ketenaran, glamor, dan kekayaan merupakan modal selebritis untuk menjadi kandidat yang berhasil.

    Pada akhirnya, selebritis menjadikan dirinya sebagai calon kandidat yang baik karena fenomena “ksatria putih”. Maksudnya ialah sinisme warga yang luas tentang politisi konvensional, menjadikan pemilih sering melihat selebriti sebagai ksatria putih dari luar proses politik sehingga pemilih memiliki kepercayaan bahwa selebritis pantas untuk dipilih. Hal tersebut memberikan selebriti semacam dukungan kredibilitas yang normal dimana para politisi tidak punya dukungan yang sama dengan selebritis.

 

Citra Selebritis di Masyarakat

    Sorotan media yang setiap hari kepada kegiatan selebritis menjadikan selebritis ini dikenal oleh masyarakat luas. Penilaian masyarakat terhadap selebritis juga dipengaruhi oleh media dimana pemberitaan tersebut negatif atau positif. Selain itu, peran selebritis merupakan faktor yang mempengaruhi penilaian dan citra diri mereka masing – masing. Apabila seorang selebritis dikenal memiliki peran antagonis, maka citra mereka cenderung jelek di masyarakat. Begitu pula seorang selebritis yang dikenal berperan baik, maka citra mereka akan cenderung baik juga di masyarakat.

    Tak lepas dari peran yang dibawakan oleh selebritis, pemberitaan media tentang kehidupan selebritis juga menjadi faktor yang cukup mempengaruhi terhadap citra selebritis. Hal ini terjadi apabila sosok selebritis yang dikenal memiliki citra baik tetapi pemberitaan terhadap kehidupannya “miring”, maka citra baik yang dimiliki selebritis menjadi buruk akibat pemberitaan “miring” kepadanya. Begitu pula sebaliknya terjadi pada selebritis yang awalnya dianggap citra diri mereka buruk.

 

Pemanfaatan Sosok Selebritis dalam Kampanye

    Arnold Schwarzenegger adalah selebriti yang paling terkenal yang pernah mencalonkan diri untuk jabatan politik di Amerika Serikat. Dia berhasil menjadi Gubernur California hingga saat ini. Arnold memanfaatkan keselebritisannya untuk terjun dalam dunia politik. Dia dapat dibilang berhasil dalam awal terjun ke dunia politik. Suara yang didapatkan dalam pemilihan Gubernur California cukup banyak. Hal ini tidak terlepas dari sosok selebritisnya yang bagus dalam dunia perfilman. Dia dikenal oleh banyak orang dan memiliki citra serta nama yang baik. Selain itu juga, dia adalah seorang komunikator yang efektif dan cerdas tentang self-presentasi.

    Tidak semua yang dilakukan Arnold dalam meraih Gubernur California mulus. Pada saat pencalonannya dalam pemilihan Gubernur juga mendapatkan hambatan. Mencuatnya masa lalu Arnold salah satu dia terlibat dalam kelompok sex dan penggunaan narkoba. Namun semua itu hanyalah bumbu dalam kampanye agar para pemilih memiliki simpati pada Arnold yang mana dibuktikan dengan kemenangan Arnold dalam pemilihan dan menjadi Gubernur California.

    Contoh kasus Arnold juga terjadi di Indonesia, dimana banyak para selebritis dari dunia hiburan menjadi anggota parlemen atau menjadi kepala pemerintahan. Hal ini juga tidak terlepas dari sosok selebritis mereka di masyarakat. Para selebritis ini menggunakan ketenaran dan citra mereka untuk masuk dalam dunia politik. Misalnya saja Dede Yusuf yang sekarang menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat.

    Dede Yusuf pada tahun 70-an merupakan seorang selebritis yang diidolakan para remaja pada saat itu. Bukan karena menjadi idola pada masa lalunya saja, Dede Yusuf juga merupakan aktor senior dan kawakan sehingga banyak dari masyarakat mengenal kiprah dari seorang Dede Yusuf ini. Begitu pula Rano Karno, dia menjadi Wakil Bupati Tangerang. Rano Karno yang akrab dengan sebutan Si Doel ini melenggang menjadi Wakil Bupati dengan memanfaatkan sosok selebritisnya yang dikenal baik serta banyak masyarakat yang tahu, sehingga dia mendapatkan dukungan dari masyarakat dalam memenangkan pemilihan sebagai Wakil Bupati Tangerang.

    Pemanfaatan sosok selebritis dalam kampanye terkadang efektif untuk meraih suara dan dukungan dari masyarakat sehingga memenangkan pemilihan untuk menduduki jabatan politik. Layaknya Arnold, Dede Yusuf, dan Rano Karno, mereka merupakan contoh yang berhasil dalam memperoleh suara dan dukungan dari masyarakat untuk memenangkan jabatan politik. Namun tidak semua pemanfaatan sosok selebritis berhasil untuk terjun ke ranah politik. Hal ini akibat citra yang mungkin kurang baik dimata masyarakat dan selera masyarakat terhadap siapa yang pantas untuk dipilih.

 

Politisi Dijadikan Sosok Selebritis dalam Kampanye

    Pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2008 kemarin dapat dijadikan study kasus dimana Barrack Obama dan John McCain bersaing merebutkan kursi kepresidenan. Setelah Obama memangkan kandidat dari partai Demokrat, dia bertarung lagi dengan McCain. Dalam pertarungan tersebut banyak cara – cara yang dilakukan oleh kedua pihak. Antara Barrack Obama dengan McCain sama – sama menggunakan media sebagai alat kampanye mereka. Obama sendiri memiliki account di jejaring sosial seperti facebook, twitter, myspace dimana semua itu digunakan untuk mendapatkan dukungan dari rakyat Amerika dan sebagai alat kampanyenya. Tidak hanya di situs web atau jejaring sosial, kedua kandidat ini juga bertarung melalui video bahkan film. McCain membuat suatu acara televisi dan film tentang dirinya. McCain bermaksud mencari simpati dari rakyat Amerika yang banyak telah mendukung Obama. Terlebih parahnya lagi, McCain dalam kampanyenya selalu menyerang pidato atau kebijakan yang akan dilakukan Obama apabila terpilih. Namun Obama tidak menanggapi serangan McCain tersebut. Tidak beda dengan McCain, Obama sendiri membuat sebuah video yang diupload youtobe. Video tersebut berisikan ajakan Obama untuk melakukan perubahan bersama – sama di rakyat Amerika. Tidak cukup dengan itu saja, pertarungan politik antara Obama dan mcCain juga terjadi dalam pidato – pidato kampanye mereka dalam berbagai bidang. McCain dalam pidato kampanyenya menganggap kebijakan yang akan dilakukan Obama tersebut salah dan tidak baik untuk Amerika. Berbeda dengan Obama yang tidak menganggapi McCain dan terus memberikan “udara perubahan” bagi Amerika.

    Terlepas dari yang dilakukan Obama dengan McCain semua itu dilakukan oleh media dan tim kampanye kedua pihak agar Obama dan McCain dikenal oleh warga Amerika dan memberikan dukungan kepada mereka. Faktor lain yang mempengaruhi ialah dimana tim kampanye ini menjadikan kedua kandidat ini seperti layaknya selebritis yang dikenal akibat sorotan media yang berlebihan. Dengan kata lain dimana politisi dijadikan sosok selebritis ini akan dapat memperoleh dukungan dari pemilih. Hal ini terjadi akibat adanya anggapan bahwa citra seorang selebritis akan lebih mendapatkan dukungan dibanding politisi. Maka dari anggapan tersebut muncul dimana politisi dengan sengaja dijadikan selebritis dadakan agar dikenal publik dan memperoleh dukungan dari publik.

 

Publikasi dan Budaya

    Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Obama, McCain, atau selebritis dalam menarik dukungan dengan istilah politisi selebritis tidaklah salah. Karena pada dasarnya politk adalah dunia ekspektasi dan representasi warga sehingga terbuka bagi partisipasi aktif seluruh elemen sehingga terdapat keterbukaan akses bagi siapa saja untuk menuju panggung politik. Di tengah mainstream kepolitikan yang serba terbatas popularitas sebagai selebritis menjadi nilai tambah bagi kandidat yang maju dalam pemilihan. Tidak lepas dari peran media, seorang politisi memiliki perbedaan dengan selebritis. Seorang politisi konvensional yang mana hanya dikenal beberapa kalangan saja akan sulit mendapatkan dukungan dari rakyat dibandingan seorang selebritis kawakan yang dikenal baik di masyarakat. Hal ini terjadi karena para selebritis diuntungkan oleh budaya konsumen, di mana kesan memainkan peranan utama dalam mencari dukungan di masyarakat.

    Kesan budaya konsumen pada dasarnya bersifat modernis, sepanjang mengenai ganti-mengganti tata nilai dan meruntuhkan titik acuan tradisional, dalam usahanya meramu paduan baru yang mampu membangkitkan kembali kenangan dan merangsang keinginan. Di titik itu, publikasi besar – besaran terhadap seorang selebritis membuka akses dan sukses mereka di politik. Akibat dari kesan budaya konsumen ini menjadikan seorang politisi menjadikan dirinya seorang selebritis dadakan agar para politisi ini mudah mendapatkan dukungan. Publikasi dari media digunakan dengan luas dan besar dari media massa sampai media cetak untuk alat publikasi politisi tersebut agar dikenal rakyat. Langkah publikasi yang besar – besaran yang dilalukan oleh para politisi ini tidak terlepas dari kecenderungan sebagian besar masyarakat dipengaruhi kesan yang ditampilkan media walaupun ada sebagian masyarakat yang masih rasional dan mengagumi kharisma tokoh politisi. Kesan -kesan dari publikasi media ini yang memainkan peranan utama pada perilaku memilih dalam pemilu atau pilkada, maka banyak dari politisi ini membuat kesan pada diri mereka agar mereka memiliki dukungan dari masyarakat dimana hal tersebut sebagai modal untuk mememangkan atau menjadikan kalah dalam pemilihan.

 

Kesimpulan

    Penggunaan sosok selebritis dalam pemilu dapat dikategorikan hal yang baru dalam dunia politik saat ini. Adanya mainstream dimana kesan dari publikasi yang memerankan media menjadikan suatu perubahan yang cukup unik dalam para politisi melakukan kampanyenya. Mereka (politisi) ini menjadikan dirinya seorang sosok selebritis dadakan untuk menarik perhatian publik kepada mereka. Hal yang dilakukan para politisi ini dapat dikategorikan sebagai attributed celebrity, karena mereka cenderung menjadi sosok selebritis akibat dari representasi atau tontonan di media. Publikasi media terhadap politisi yang berlebihan dan selalu berulang – ulang menjadikan politisi tersebut memiliki kesan di masyarakat, sehingga mereka mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat.

    Dapat kita ambil contoh kasus pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008. Dalam kasus tersebut terlihat jelas dimana peran media yang membantu kedua kandidat bertarung untuk memperebutkan kursi pemerintahan di Amerika. Obama dan McCain menggunakan semua media yang ada untuk berkampanye kepada rakyat Amerika. Dibalik penggunaan semua media yang ada dalam proses kampanye di Amerika tersebut, dengan secara tidak langsung kedua kandidat ini menjadi sosok selebritis “dadakan” sehingga mereka dikenal di Amerika bahkan hampir di seluruh dunia. Dari hal ini dapat kita lihat bahwa media menjadi kunci dan peran utama dalam menjadikan kedua kandidat seolah bak superselebritis.

    Berbeda halnya bila selebritis terjun dalam politik seperti Reagen dan Arnold. Seringnya tampil di media sebelum masuk dalam dunia politik membuat mereka mudah mendapatkan dukungan dari rakyat. Sebagai konsekuensinya mereka melenggang mudah menduduki jabatan politik walaupun ada beberapa sedikit hambatan yang menghadangnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Prihatmoko, Joko J. 2008. Politisi Selebritis dan Budaya Massa.

http://www.wawasandigital.com, (diunduh tanggal 13 November 2010).

 

West, Darrell M. Arnold Schwarzenegger dan Politik Selebriti,

http://www.insidepolitics.org/heard/westreport903.html,

(diunduh tanggal 13 November 2010).

 

Kellner, Douglas. 2009. International Journal Communication 3.

 

http:// id.wikipedia.org, (diunduh tanggal 13 November 2010).