KELOMPOK MINORITAS DALAM

KETERASINGAN MASYARAKAT DUNIA

 

Apa itu Kelompok Minoritas?

    Kelompok minoritas mungkin sering kita artikan dengan suatu kumpulan manusia yang dikucilkan oleh masyarakat karena sesuatu perbedaan yang tidak diterima oleh masyarakat tersebut. Menurut Theodorson & Theodorson ( 1979: 258-259), kelompok minoritas (minority groups) adalah kelompok-kelompok yang diakui berdasarkan perbedaan ras, agama, atau
sukubangsa, yang mengalami kerugian sebagai akibat prasangka (prejudice) dan
diskriminasi. Dalam kehidupan bermasyarakat di seluruh belahan dunia pasti terdapat kelompok minoritas yang menjadi korban prasangka dan diskriminasi. Permasalahan prasangka dan diskriminasi kelompok minoritas ini akan saya bahas dalam artikel ini.

 

Prasangka dan Diskriminasi di Beberapa Negara

    Prasangka dan diskriminasi dapat diibaratkan sebuah senjata. Bukan seperti senjata yang digunakan untuk membunuh musuh dalam pertempuran. Melainkan sebuah senjata yang dapat langsung dapat menghancurkan sekelompok tertentu. Prasangka dan diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia sejak penjajahan Belanda. Lamanya masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia yang hampir 3,5 abad membuat prasangka dan diskriminasi terhadap kaum minoritas semakin mendarah-daging pada kaum pribumi.

    Prasangka dan diskriminasi dimulai dengan pembagian kelompok oleh pihak Belanda. Belanda sebagai kelompok pertama, kaum china sebagai kelompok kedua, dan kelompok ketiga oleh kaum pribumi. Pendiskriminasikan ini bertujuan agar Belanda dapat berkuasa karena sebagai kelompok minorritas. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia terjadi perubahan yang sangat drastis dimana kelompok pribumi saat waktu penjajahan menjadi kelompok mayoritas yang sangat didiskriminasikan berubah menjadi kelompok mayoritas yang berkuasa. Sedangkan kaum china berubah menjadi kaum yang didiskriminasikan karena mereka dianggap tidak loyal dan mencari keuntungan sendiri.

    Pada saat Orde lama pendiskriminasian terhadap kaun china juga terjadi dengan bentuk pendiskriminasian memilih untuk menjadi WNI atau kembali ke China. Pendiskriminasian menjadi sangat ekstrim setelah terjadinya peristiwa G-30S PKI tahun 1965 yang beranggapan didalangi oleh RRC dan saat Orde baru tahun 1967 dimana pendiskriminasian ini berbentuk larangan adanya ritual, tulisan, dan yayasan yang berbau pada etnis china.

    Selain di Indonesia, pendiskriminasian dan prasangka juga dialami oleh bangsa Afrika Selatan yang sering kita sebut dengan politik aparthiednya. Tujuan tercetusnya aparthied tidak jauh – jauh dari masalah politik. Hal ini juga dikarenakan kaum minoritas (Inggris) yang berkuasa takut apabila kaum mayoritas (bangsa Afrika) merebut kekuasaannya. Jadi bangsa Inggris membuat peraturan politis untuk membatasi hak – hak kaum Afrika agar kekuasaan Inggris tidak jatuh pada kaum pribumi (bangsa Afrika).

    Di Amerika prasangka dan diskriminasi terjadi hampir sama seperti di Afrika Selatan hanya saja prasangka dan diskriminasi terjadi lebih dahulu. Prasangka dan diskriminasi di Amerika terjadi saat sebelum terjadinya perang kemerdekaan. Warga kulit putih yang sebenarnya migran dari Eropa datang ke Amerika. Setelah itu mereka membuat koloni – koloni. Pada saat itu merupakan zaman impresialisme, negara dari para migran itu kebanyakan penjajah. Mereka membawa orang dari jajahannya untuk dijadikan sebagai budak mereka. Kebanyakan orang yang dibawa adalah warga kulit hitam yang dari Afrika. Dari latar belakang sejarah itu terjadinya prasangka dan diskriminasi yang terjadi.

 

Pemahaman Prasangka dan Diskriminasi

    Terjadinya hal seperti pendiskriminasian berawal dari adanya prasangka. Dimana prasangka adalah sebuah keyakinan yang terbentuk sebelumnya, pendapat, atau penilaian terhadap sekelompok orang atau satu orang karena ras, kelas sosial, gender, etnisitas, orientasi seksual, usia, cacat, keyakinan politik, agama, jenis pekerjaan atau karakteristik pribadi lainnya
atau prasangka sering juga disebut sikap negatif terhadap suatu kelompok. Dari sebuah keyakinan dapat menjadi sebuah prasangka. Walaupun prasangka tidak selalu bersifat negatif tetapi dapat mengubah cara pandang menjadi rasa takut dan antipati terhadap suatu kelompok tertentu atau perorangan. Prasangka sering timbul dari jalan pikiran yang singkat atau hanya mendengar saja. Dari hal seperti itulah timbul rasa prasangka yang tidak mendasar atau rasa curiga yang berujung pada tindakan mendiskriminasikan.

    Pada dasarnya diskriminasi adalah suatu tindakan mengucilkan kelompok tertentu akibat adanya isu – isu miring yang beredar yang dilakukan kelompok dominan. Menurut Theodorson & Theodorson, (1979: 115-116): Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Pendek kata diskriminasi adalah sebuah tindakan melemahkan kelompok tertentu yang bersifat tidak bermoral dan tidak demokratis.

    Dalam terjadinya prasangka dan diskriminasi dapat dilihat sisi hubungan antar kelompok (intergroup relation) dimana keterkaitan hubungan antar kelompok merupakan suatu awal akan terjadinya atau tidak terjadinya permasalahan sosial. Prasangka dapat dikatakan sebagai faktor awal timbulnya diskriminasi.

 

Penyebab Terjadinya Prasangka dan Diskriminasi

    Prasangka dan diskriminasi terjadi dimasyarakat disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

  • Latar belakang sejarah

    Prasangka dan diskriminasi ada karena pengalaman masa lalu. Hal ini terjadi di Negara Amerika Serikat dimana prasangka dan diskriminasikan dilakukan oleh warga kulit putih terhadap warga kulit hitam. Berdasarkan sejarahnya bahwa warga kulit hitam sebagai budak dan warga kulit putih sebagai tuannya. Walaupun sekarang pandangan mereka telah berubah terhadap kulit hitam tetapi terkadang masing terdapat anggapan bahwa warga kulit hitam sebagai biang keonaran apabila terjadi sebuah kerusuhan.

  • Perkembangan Sosial – kultural dan Situasional

    Di Indonesia prasangka dan diskriminasi diberlakukan kepada etnis tionghoa. Walaupun sekarang prasangka dan diskriminasi terhadap etnis tionghoa dapat dikatakan berkurang, namun sebelum reformasi prasangka dan diskriminasi terhadap kelompok ini sangat ekstrim. Hal ini disebabkan faktor sosial – kultural dan situasional berubah. Pada saat penjajahan kolonial Belanda, etnis tionghoa ini menguasai berpihak pada penjajah. Jadi timbul perasaan benci dan membalas dendam dari kaum pribumi. Hal ini tambah parah saat tahun 1965 dimana diskriminasi terhadap etnis tionghoa semakin ekstrim karena RRC dianggap sebagai sponsor utama PKI. Sejalan dengan itu semua yang berbau China dilarang bahkan dibrantas sampai puncaknya kerusuhan 14 Mei 1998 etnis tionghoa sebagai korban yang paling banyak dan dirugikan.

  • Faktor Kepribadian

    Keadaan emosional seseorang seperti frustasi sering menjadikan tingkah laku agresif dan mudah berprasangka terhadap orang lain. Hal ini disebabkan karena banyaknya tekanan sehingga tidak dapat berpikir jernih. Menurut para ahli tipe orang yang authorian personality merupakan tipe orang yang penuh prasangka dengan sifat konveratif dan tertutup. Namun, semua ini dikembalikan pada diri masing – masing.

  • Perbedaan keyakinan, kepercayaan serta agama

    Prasangka dan diskriminasi dapat terjadi dari adanya perbedaan pandangan ideologi, agama, ekonomi, dan politik. Perbedaan hal ini dapat dikatakan sebagai akar permasalahan terjadinya prasangka dan diskriminasi yang bersifat universal. Beberapa contohnya yaitu setelah Perang Dunia II selesai banyak berdiri kelompok – kelompok ekonomi dan fakta – fakta pertahanan antar negara adi kuasa. Hal ini terlihat jelas sekali bahwa ada prasangka antar negara adi kuasa.

    Dari faktor penyebab timbulnya prasangka dan diskriminasi ini terlihat di beberapa kasus yang terjadi di belahan dunia faktor penyebabnya adalah latar belakang sejarah, perubahan sosial – kultur, dan adanya perbedaan pandangan ideologi, agama, ekonomi, dan politik. Ketiga faktor itu sangat dominan dan kuat pengaruhnya terhadap terjadinya masalah sosial ini yaitu prasangka dan diskriminasi.

 

Mungkinkah Berakhir?

    Permasalahan prasangka dan diskriminasi yang terjadi di beberapa bagian dunia walaupun sudah agak menghilang dari permukaan, terkadang masih ada beberapa peristiwa yang terjadi. Contoh yang sering terjadi di Amerika adalah warga kulit sering mempersulit warga kulit hitam untuk berkembang. Mungkin tidak semua seperti itu terjadi di Amerika karena sekarang kita bisa melihat warga kulit hitam menjadi Presiden Amerika (Barrack Obama). Namun, proses perjalanan menuju kesuksesan warga kulit hitam itu yang sulit. Karena jalan mereka dihalangi oleh warga kulit putih yang beranggapan bahwa warga kulit hitam yang dahulunya budak tidak pantas berkembang lebih baik. Begitu pula di Indonesia, etnis Tionghoa dihalang – halangi kaum pribumi untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Latar belakangnya karena sejarah dan perubahan situasional di Indonesia. Kecenderungan berakhirnya masalah seperti ini di seluruh dunia sangatlah kecil. Ini disebabkan hubungan antar kelompok yang saling berlawanan dan keterbukaan masih kurang antar anggota kelompok untuk dapat menerima pembaharuan bersama. Apabila tidak ada upaya dari tiap anggota kelompok untuk saling terbuka, maka akan sukar permasalahan ini berakhir, karena ada pada pandangan mereka untuk saling balas dendam.

 

Upaya Penyelesaian

    Memang semua masalah itu telah didiskusikan dan dibahas. Bahkan telah disetujui beberapa perjanjian internasional untuk penyelesaian masalah ini. Tetapi semua itu tidak mengakhiri permasalahan yang terjadi. Untuk mengakhirinya kita perlu mengubah cara pandang, menghapus latar belakang sejarah, dan penyesuaian diri akan perubahan yang terjadi sebagai upaya pencapaian tujuan bersama dan keterbukaan bukan sebagai balas dendam di masa lalu.

 

Kesimpulan

    Pada akhirnya kelompok minoritas yang tersaingkan dari masyarakat dunia karena adanya perbedaan yang sulit diterima bisa berbaur menjadi masyarakat dunia. Hak – hak mereka pun sama seperti layaknya masyarakat pada umumnya tidak ada yang membedakan dengan masyarakat umum di dunia. Apa pun ada perbedaan yang timbul jangan dijadikan sebagai faktor prasangka dan diskriminasi tetapi perbedaan itu diterima sebagai keragaman masyarakat yang harus dijaga, lesatarikan, dan dipelajari agar tidak menuai tindakan saling menjatuhkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Danandjaja, James. 2003. Diskriminas Terhadap Minortas Masih Merupakan Masalah Aktual di Indonesia Sehingga Perlu Ditanggulangi Segera., http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Diskriminasi%20terhadap%20minoritas%20-%20james%20danandjaja.pdf, (diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

Ju Lan, Thung. 2007.
Prasangka dan Diskriminasi Terhadap Etnis Tionghoa., www.kippas.com, (diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/mkdu_isd/bab10prasangka_ diskriminasi_dan_etnosentrisme.pdf, hlm 222.,(diunduh tanggal 26 Desember 2009).

 

http://en.wikipedia.org/wiki/Prejudice, (di unduh tanggal 26 Desember 2009).