FEMINISME EKSISTENSIALIS: EMPAT SRIKANDI PIMPIN KABUPATEN BANTUL

Apa itu Gender dan Seks?

    Apa yang dimaksud dengan gender? Mengapa selalu dikaitkan dengan isu emansipasi perempuan? Istilah gender sesungguhnya tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia tetapi dalam kamus bahasa Inggris, kata “gender” diartikan sebagai jenis kelamin yang sama artinya dengan “sex”. Sehingga perlu pemahaman yang jelas tentang kaitan antara konsep gender dan konsep sex yang memunculkan sistem ketidakadilan sosial secara luas serta kaitan antara konsep gender dengan kaum perempuan, dan hubungannya dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya.

    Pemahaman mengenai gender pada hakekatnya adalah pemahaman yang pekat dengan nuansa barat (western invention – Connnell, 1993). Konsep gender tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia secara mentah – mentah tanpa melihat esensi kebudayaan lokal mengenai dinamika relasi – relasi seksual. Pada dasarnya gender adalah suatu konsep yang bertumpu pada aspek biologis seperti yang dikatakan oleh Cucchiari (1994) bahwa gender memiliki dua kategoari biologis yang berbeda namun saling mengisi (laki – laki dan perempuan) yang keduanya memiliki pemahaman yang bervariasi dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain. Gender ini dibentuk oleh faktor – faktor sosial maupun budaya, sehingga muncul anggapan tentang peran sosial dan budaya atas laki – laki dan perempuan di masyarakat. Berbeda dengan gender, seks merupakan sebuah pembagian jenis kelamin yang diberikan oleh Tuhan secara biologis kepada laki –laki dan perempuan. Oleh sebab itu memiliki pemahaman yang berbeda antara gender dengan seks. Gender dibentuk oleh faktor – faktor sosial maupun budaya (kontruksi sosial) sedangkan seks merupakan hal kodrati pemberian dari Tuhan.

    Sebelum terjadinya perkembangan mengenai gender, perempuan selalu tersubordinasi atau menjadi hal yang kedua oleh faktor – faktor yang dikontruksikan secara sosial. Banyak mitos dan kepercayaan yang menjadikan kedudukan wanita lebih rendah dari laki – laki sehingga perempuan tidak memiliki nilai tawar. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa laki – laki merasa diri mereka sebagai subjek yang dapat berbuat apa saja terhadap objek (perempuan) tersebut sehingga perempuan hanya dilihat dari segi seks saja dan memunculkan ketidaksetaraan terhadap perempuan dari berbagai aspek.

Bagaimana Perkembangan Gender Saat ini?

    Perkembangan gender berawal pada abad 15 dimana Christine de Pizan menulis ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Pada tahun 1800-an Susan dan Elizabeth memperjuangkan hak – hak politik perempuan untuk memilih. Pergerakan gender terus dilakukan hingga pada abad ke – 20 (1949) lahir karya Simone de Beauvoir “Le Deuxieme Sexe” dan ditemukan isitilah kesetaraan antara laki – laki dan perempuan. Perjalanan pergerakan gender terus berkembang hingga pada tahun 1960 – 1980an menjadikan pergerakan gender sebagai isu penting untuk diberdebatkan di Amerika Latin, Asia, dan negara dunia ketiga pada umumnya. Perkembangan gender tidak berhenti begitu saja, sampai sekarang pergerakan gender masih dilakukan oleh para feminis – feminis di dunia untuk melawan konsep patriaki yang menindas kaum perempuan.

    Melalui beberapa tahapan gelombang pergerakan feminisme, tidak menjadikan para feminis ini patah semangatnya untuk berjuang. Hal tersebut menjadikan para feminis ini lebih baik lagi dan dapat menjadikan para feminist lebih memiliki pandangan yang luas serta sesuai kondisi yang ada untuk melakukan pergerakan. Seperti permasalahan yang diangkat yaitu EMPAT SRIKANDI PIMPIN KABUPATEN BANTUL salah satu dari bberapa pergerakan gender yang dilakukan oleh para perempuan. Dari artikel tersebut dapat kita lihat bahwa perempuan juga memiliki kemampuan yang sama seperti laki – laki untuk memimpin.

Empat Srikandi dari Sudut Pandang Eksistensialis

    Kemampuan perempuan saat ini telah memiliki harga tawar yang sama dengan laki – laki. Mungkin pernyataan tersebut dapat digunakan untuk empat srikandi yang memimpin sebuah kabupaten di daerah Yogyakarta ini. Empat srikandi ini merupakan Muspida Plus untuk daerah Kabupaten Bantul, bukan sebagai istri Muspida Plus melainkan unsur dari Muspida Plus tersebut. Beliau adalah Bupati Bantul (Hj. Sri Surya Widati), Kapolres Barntul (Dra. Sri Suari, M.Si), Kajari Bantul (Retno Harjantari Iriani, S.H), dan Ketua DPRD Bantul (Tustiyani, S.H.). Keempat srikandi tersebut dapat dikatakan sebagai perempuan yang luar biasa, karena beliau – beliau secara langsung menjadi orang nomor satu di intansi masing – masing serta menjadi orang – orang yang memimpin Kabupaten Bantul saat ini.

    Pada sudut pandang gender, usaha yang telah dilakukan oleh empat srikandi ini merupakan bentuk kesadaran perempuan bahwa mereka mampu bersaing dengan laki –laki. Emansipasi wanita yang sedang gencar – gencarnya disuarakan di Indonesia telah sedikit terjawab dengan adanya empat srikandi ini. Seperti yang telah diungkapkan tentang teori eksistensialis adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) dalam Being and Nothingness yang dalam Tong (1999:174) dijelaskan sebagai berikut:

  • Being (ada) terdiri dari:
  1. Being in it self : ada pada dirinya, keberadaan yang tidak berkesadaran, ada begitu saja, keberadaan yang utuh.
  2. Being for it self : ada untuk dirinya, keberadaan yang berkesadaran, kesadaran yang bercelah hingga ada kritisisme yang bisa meniadakan. Ada pada manusia yang mempunyai akal dan bisa melakukannya, karena kritisisme itu maka manusia dihadapi pilihan akibat dari kutukan kebebasannya.
  3. Being For other : ada untuk orang lain, keberadaan bersama orang lain, hubungan subjek-subjek yang penuh dengan konflik.

    Selain itu feminis yang merupakan murid, teman dekat, dan juga patner kerja Sartre adalah Simone Beauvoir dengan buku terkenalnya The Second Sex. Simone Beauvoir menjelaskan keberadaan perempuan adalah sebagai objek dalam hubungan dengan subjek. Didunia ini tidak ada perempuan yang bebas mengekspresikan dirinyatanpa tergantung pada subjek yaitu laki-laki. Perempuan digambarkan sebagai manusia yang tidak memiliki kesadara, yang tergantung pada manusia lain (laki-laki), tidak memiliki kebebasan sehingga disebut the other. Feminisme eksistensi menekankan agar perempuan itu ada dalam hubungannya dengan manusia lain (laki-laki). Menjadi subjek bukan objek.
Tidak ada cara yang mudah untuk menjauh dari pandangan Beauyoir itu. Untuk menuju proses trandensi, menurut Beauvoir ada empat strategi yang dapat dilancarkan oleh manusia, yaitu:

  • Perempuan dapat bekerja

    Meskipun berarti berperan ganda, tetapi perempuan akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki yang bekerja disektor publik. Kesempatan ini menjadi nilai tambah jika perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Karena dengan bekerja perempuan dapat merebut transendensinya dan secara konkret menegaskan status perempuan sebagai subjek yaitu sebagai seseorang yang aktif menentukan arah nasibnya sehingga tidak dilihat sebagai objek.

  • Perempuan dapat menjadi anggota intelektual

    Aktifis intelektual akan membawa perubahan pada perempuan. Perempuan akan menjadi subjek dan bukanlah nonaktivitas ketika seseorang objek pemikiran, pengamatan, dan pendefinisian.

  • Perempuan bekerja untuk mentransformasikan sosialis masyarakat.

    Self-Other di dalam hubungan manusia secara umum dan hubungan laki-laki dan perempuan secara khusus. Pendapat Sartre bahwa salah satu kunci membebaskan perempuan dari ketergantungan pada laki-laki adalah dengan kekuatan ekonomi.

  • Perempuan menolak untuk menginternalisasikan status other-nya dan mengidentifikasikan diri sendiri melalui pandangan kelompok dominan dalam masyarakat. Karena dengan menerima status other maka perempuan menerima sebagai objek.

    Pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul bahwa beliau – beliau ini telah menjadikan dirinya sebagai subjek dan bukan objek lagi sehingga kaum laki – laki yang ada disekitar mereka tidak bisa begitu saja menjadikan mereka sebagai objek. Walaupun memiliki peran ganda dalam kehidupan sehari –hari mereka, empat srikandi ini secara tidak langsung dapat melepaskan ketergantungan mereka pada kaum laki – laki dan tentunya beliau – beliau ini tetap memandang adanya kesetaraan antara perempuan dan laki – laki.

Masih Adakah Ketidaksetaraan?

    Melihat dari sejarahnya pembedaan antara laki – laki dan perempuan terjadi melalui kontruksi sosial dan budaya yang dibentuk oleh masyarakat tersebut. Seiring dengan berkembang zaman dan teknologi menjadikan adanya perubahan dari cara sikap memandang kesetaraan antara laki – laki dan perempuan melalui gender.

    Dalam kaitannya kedudukan perempuan dari berbagai sudut pandang mungkin masih banyak ketidaksetaraan yang terjadi antara laki – laki dan perempuan. Namun pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul ini, kita dapat melihat bahwa ketidaksetaraan perempuan atas laki – laki telah berkurang melalui adanya refleksi gender yang ada di masyarakat. Pada perspektif ekonomi dimana subordinasi perempuan di bawah laki – laki melalui ketergantungan ekonomi. Sedangkan yang terjadi pada saat ini ketergantungan perempuan terhadap laki – laki atas ekonomi mereka telah berkurang. Perempuan saat ini dapat bekerja untuk menghidupi kehidupannya sehari – hari. Kita lihat saja contoh pada artikel Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul, dimana pada awal karier beliau – beliau ini dirintis sejak mereka lulus sekolah dan melanjutkan untuk bekerja sehingga seperti saat ini. Hal inilah yang membuat mereka mampu bersaing dengan laki – laki dari sudut pandang ekonomi dengan cara bekerja.

    Begitu pula pada sudut pandang politis, awalnya perempuan tidak memiliki hak suara untuk memilih namun dengan adanya pergerakan pada tahun 1800an menjadikan perempuan memiliki hak memilih. Lambat laun perempuan tidak hanya memiliki hak memilih tetapi juga memiliki hak dipilih. Contohnya saja pada Bupati Bantul (Hj. Sri Surya Widati) periode 2010 – 2015 dan Ketua DPRD Bantul (Tustiyani, S.H.) periode 2009 – 2014, beliau – beliau adalah contoh perempuan yang dipercaya dan dipilih masyarakat Bantul untuk memimpin mereka (masyarakat Bantul).

    Dalam perspektif budaya menurut Margaret L. Anderson (1983 : 47) bahwa budaya sebagai sebuah pola harapan tentang perilaku dan kepercayaan pada apa yang pantas bagi anggota masyarakat. Dari definisi tersebut dapat sedikit disimpulkan bahwa budaya menyedia sebuah struktur atau bentuk bagi perilaku sosial. Begitu pula gender, dimana gender tersebut merupakan sebuah produk dari konstruksi sosial dan budaya daripada produk biologis. Sistem kepercayaan, norma, dan peran yang berkembang membuat adanya stereotip untuk pembagian kerja antara laki – laki dengan perempuan. Seperti yang telah dituliskan pada persepktif ekonomi yang mana perempuan bergantung pada laki – laki atas ekonomi mereka, hal tersebut merupakan hal dari konstruksi budaya yang tumbuh di masyarakat. Namun sejalan dengan perkembangan gender, perspektif budaya mengenai perempuan telah berubah. Salah satu dari banyak contoh adalah beliau – beliau ini empat srikandi yang memimpin daerah Kabupaten Bantul. Anggapan masyarakat luas bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin dipatahkan mereka dengan menjadi pucuk pimpinan di intansi masing – masing. Ini merupakan satu dari beberapa contoh yang terjadi pada masyarakat dimana seorang perempuan yang dinilai tidak bisa, tidak layak, dan tidak mampu untuk melakukan suatu hal yang sering dilakukan oleh laki – laki ternyata dapat dilakukan dengan baik atau bahkan lebih baik dibanding laki – laki yang melakukannya.

Kesimpulan

    Walaupun mendapat kritik dari Lloyd bahwa transendensi dari feminisme eksistensialis ini merupakan gambaran ideal perempuan dari sudut pandang laki – laki sehingga menimbulkan anggapan bahwa merendahkan perempuan dan menghancurkan perempuan. Tetapi feminisme eksistensialis ini dapat memberikan dampak bagi para perempuan untuk dapat berkeselarasan dan berkesetaraan dengan menghilangkan anggapan Nothingness perempuan. Seorang perempuan yang pada umumnya dinilai kurang bisa oleh masyarakat ternyata dapat merubah penilaian tersebut dengan cara “dia” ada sebagai subjek bukan sebagai objek dari yang lain. Hal tersebutlah yang diangkat oleh para feminis eksistensialis dimana “kesadaran” dan “keberadaan” perempuan menjadi subjek dan bukan objek.

    Sesuai dengan artikel yang penulis analisis yaitu “Empat Srikandi Pimpin Kabupaten Bantul” dimana keberadaan empat sosok perempuan yang menjadi pucuk pimpinan di intansi masing – masing dan merupakan Muspida Plus dalam Kabupaten Bantul. Kemampuan beliau – beliau ini bukan berarti menyingkir secara langsung laki – laki yang ada di sekitar mereka tetapi harus dilihat bahwa perempuan layak di sejajarkan dengan laki – laki dan perempuan juga dapat melakukan apa yang dilakukan oleh laki – laki. Tidak terlepas dari peran ganda yang dimiliki oleh empat sosok srikandi ini, yaitu sebagai ibu untuk anak – anak, istri dari suami mereka, dan peran yang mereka miliki diluar peran di keluarga. Beliau – beliau ini memiliki keberadaan bagi dirinya, untuk dirinya, dan bagi orang lain layaknya Being yang dimaksudkan oleh Beauvoir. Beliau – beliau ini menjadi perempuan yang secara tidak langsung melepaskan ketergantungannya dengan bekerja, belajar, dan membuktikan diri bahwa mereka setara dengan laki – laki. Sehingga, satu-satunya cara bagi perempuan untuk menjadi Diri dalam masyarakat seperti masyarakat sekarang adalah ia harus memanfaatkan waktunya dengan melakukan kegiatan yang kreatif dan berorientasi kepada pemberian pelayanan.

    Apapun yang menjadi kekurangan dari pandangan feminisme eksistensialis ini harusnya tidak membuat para perempuan beranggapan bahwa apa yang telah dilakukan itu merupakan keinginan yang diharapkan oleh seorang laki – laki. Tetapi mereka (perempuan) harus memiliki pandangan bahwa apa yang dilakukan untuk membuktikan dirinya itu ada bagi dirinya dan ada untuk yang lain dengan memegang prinsip sebagai subjek bukan objek.

 

 

Majalah Kartini edisi 28 Juli – 11 Agustus 2011, halaman 10 – 11.

Apriani, Fajar. 2008. Berbagai Pandangan Mengenai Gender dan Feminisme.,

http://
isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/15108115130.pdf

(diunduh tanggal 26 Oktober 2011).

Wibowo, Arif. 2008. Simon De Beauvoir: Feminisme Eksistensialis.,

http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/28/simon-de-beauvoir-feminisme-eksistensialis/ (diunduh tanggal 21 Oktober 2011).

 

Karawang. 2010. Teori Feminisme Eksistensialis., http://karawang.blogdrive.com

(diunduh tanggal 21 Oktober 2011).

Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada

Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.