Dunia musik tidak mengenal batas wilayah, usia, ras dan sebagainya. Musik bisa dinikmati oleh siapapun juga. Saat ini, musik berkembang mengikuti perkembangan pola pikir manusia. Ini yang menyebabkan jenis musik menjadi lebih beragam. Begitu pula perkembangan dunia musik di Indonesia yang menarik untuk diikuti. Karena perkembagan musik di Indonesia dewasa ini selalu mengikuti perkembangan waktu yang ada di Indonesia. Industri musik di Indonesia tidak bisa dipungkiri apabila dalam proses perkembangannya memiliki andil dalam perkembangan seni pula di Indonesia. Dari perkembangan musik ini muncul artis – artis atau penyanyi dan band yang menciptakan karya mereka. Tidak hanya artis, penyanyi, atau band saja yang muncul akibat pesat perkembangan musik, bahkan aliran musik pun menjadi lebih bervariasi dalam berkarya dari dangdut hingga jazz. Semua berkembang sesuai perkembangan kondisi dan waktu saat ini. Sebagai ungkapan rasa hati, musik juga digunakan sebagai arus perjuangan bagi minoritas kelompok untuk menyuarakan keberadaan mereka, tujuan, atau apa yang sedang terjadi di sekitar lingkungan kita. Penggunaan musik sebagai penyuara perjuangan atau penggambaran apa yang sedang terjadi di sekitar lingkungan kita ini diperlihatkan oleh dua seniman dibidang musik yaitu Frau dan The PanasDalam Band. Mereka ini menyuarakan apa yang sedang terjadi di lingkungan kita melalui lirik dilagu – lagu mereka dengan balutan aliran musik dan keunikan cara mereka bermain musik. Satu lagu yang sangat menarik untuk dibahas dimana kedua seniman ini melihat perjuangan gender secara unik dengan sudut pandangan yang berbeda. Frau dengan lagu berjudul I’m a Sir sedangkan The PanasDalam Band dengan judul lagu Cita – citaku merupakan cara dua seniman ini menyuarakan gender dengan cara mereka masing.

Apa itu Musik, Gender, dan Bentuk Perjuangannya?

Secara harfiah kata musik berasal dari bahasa Yunani yaitu Mousal yang memiliki arti sembilan dewi yang menguasai seni, seni murni dan seni pengetahuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musik diartikan sebagai ilmu atau seni penyusunan nada atau suara di urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Musik merupakan bagian kesenian dan kesenian merupakan kebudayaan sehingga dapat dimaknai bahwa musik merupakan salah satu kebudayaan manusia dimana keterkaitan antara musik dan manusia selalu menjadi fokus kajian karena kebudayaan musik adalah produk konseptual (cognitive) dan perilaku (behavior) masyarakat. Terkadang musik merupakan sebuah gambaran dari kehidupan masyarakat pada saat itu seperti yang diungkapakan oleh Merriam pada buku “The Anthropology of Music” (1962: 32 – 33), musik merupakan suatu lambang yang berkaitan dengan hal – hal ide, maupun perilaku masyarakat. Pada hakikatnya musik merupakan sebuah bagian dari seni yang menggunakan bunyi sebagai media penciptaannya dan merupakan ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran dimana dalam pengungkapannya merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat pada saat tertentu.

Gender itu berasal dari bahasa latin “genus” yang berarti jenis atau tipe. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Menurut Ilmu Sosiologi dan Antropologi, gender itu sendiri adalah perilaku atau pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yang sudah dikonstruksikan atau dibentuk di masyarakat tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan. Misalnya laki-laki mempunyai penis, memproduksi sperma dan menghamili, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui dan menopause. Dalam beberapa teori, definisi gender sendiri memiliki banyak pemahaman, misalnya saja menurut teori kodrat alam yang mengungkapkan bahwa teori ini melihat perbedaan biologis yang membedakan jenis kelamin dalam memandang jender (Suryadi dan Idris, 2004). Teori ini dibagi menjadi dua yaitu:

  • Teori Nature:  Teori ini memandang perbedaan gender sebagai kodrat alam yang tidak perlu dipermasalahkan.
  • Teori Nurture: Teori ini lebih memandang perbedaan gender sebagai hasil rekayasa budaya dan bukan kodrati, sehingga perbedaan gender tidak berlaku universal dan dapat dipertukarkan.

Pada hakikatnya gender merupakan perbedaan – perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan bukan berdasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas.

Dalam konteks bentuk perjuangan gender, antara musik dan gender juga memiliki keterkaitan yang saling support. Musik yang notabene sebagai media apresiasi dan refleksi dari kehidupan setiap manusia dapat dijadikan sebagai media perjuangan atas apapun pada umumnya dan perjuangan gender pada khususnya. Melalui tulisan yang dijadikan lirik dalam sebuah lagu, perjuangan gender itu disuarakan. Terdapat makna dan filosofi tersirat bahkan ada yang terus terang mendukung perjuangan gender melalui musik dan lirik lagu. Contohnya saja dua seniman musik yang akan kita bahas yaitu Frau dan The PanasDalam Band ini. Dua seniman yang memilik cara unik menyampaikan perjuangan atas gender dengan sudut pandang yang unik pula. Kita sering mendengarkan musik dengan lagu – lagu pop cinta yang mana dalam lirik lagu tersebut digambarkan seorang perempuan yang sedang jatuh cinta, patah hati, dan beberapa perasan hati mereka terhadap laki – laki. Hal tersebut menggambarkan dimana seorang perempuan terlihat inferioritas terhadap perasaan mereka dan menggambarkan bahwa laki – laki memiliki superioritas atas perasaan mereka. Gambaran seperti inilah yang sering kita dengar dibeberapa lirik lagu. Bukan sebuah perjuangan gender tetapi inferioritas perempuan terhadap laki – laki. Namun apabila kita melihat dua seniman unik yang akan kita bahas ini, maka kita akan melihat bagaimana seorang Frau yang berani lentangkan suara perjuangan gender dengan lagunya I’m A Sir dan The PanasDalam Band yang menyuarakan perjuang gendernya dalam lagu Cita – citaku, maka akan terlihat keunikkan tersendiri dalam apresiasi mereka berdua ini.

Siapakah Frau dan The PanasDalam Band?

Dalam dunia industri musik Indonesia kita sering mendengar penyanyi atau grup band seperti Ungu, Coklat, Andien, dan banyak lagi. Namun apabila kita ditanya siapa Frau dan The PanasDalam Band itu maka banyak dari kita jarang mendengar nama dua seniman ini. Sebenernya siapa kedua seniman musik ini? Dan seperti apa aliran musik mereka ini? Maka kita akan mengenal lebih dekat dengan kedua seniman musik ini.

Frau merupakan sebutan Nyonya atau panggilan Istri dalam bahasa Jerman. Kata yang dipilih oleh  Leilani Hermiasih yang merupakan lulusan SMA Stella Duce 1 Yogyakarta yang saat ini duduk di bangku Jurusan Antropologi UGM. Setelah sempat mengenyam karir di Anggisluka, mencabik bass di Essen Und Blood dan menjadi kibordis ‘tambahan’ di Southern Beach Terror, mahasiswi ini diam-diam merangkai beberapa komposisi lagu yang dimainkan dan dinyanyikan sendirian. Beberapa lagunya mengadopsi jurus maut Regina Spektor dan sisanya punya rasa lebih manis dikecap di segala cuaca dan suasana layaknya musik pop ampuh pada umumnya. Frau muncul ditengah maraknya solois-solois perempuan muda yang leluasa memainkan alat musik sambil bersenandung menjeritkan imajinasi, perasaan atau lika-liku hidupnya didepan mikrofon dan kamera mungil yang tertanam di laptopnya. Sebuah aktivitas privat diluar rutinitas yang tak jarang tersiar di situs-situs dunia maya hingga ajakan ajaib untuk unjuk gigi diatas panggung. Leilani ini juga terinspirasi oleh banyak musikal yang diproduksi oleh Cameron Macintosh dan ditulis oleh Andrew Lloyd Webber. Dengan latar belakang pemain piano klasik, Frau merupakan duet antara Leilani dengan pianonya yang bernama Oskar. Kemunculannya pada di industri musik pada 2008 memberikan warna yang berbeda dalam dunia musik Indonesia. Frau dengan beraliran musik klasiknya secara tersirat memberitahukan bagaimana seorang Leilani memandang kehidupan bermasyarkat melalui lirik lagunya di album Starlit Carousel.

Tidak jauh beda dengan Frau, The PanasDalam Band merupakan Band beraliran ballad yang berdiri sejak tahun 1995 ini sangatlah unik. The PanasDalam Band yang didirikan oleh tujuh mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa dan Desain – Institut Teknologi Bandung (FSRD – ITB) ini memiliki bahasa unik dalam menyebut personil atau instrumen dalam The PanasDalam Band. Perjalanan musik mereka sejak 1995 sehingga sekarang telah menerbitkan tiga album yaitu: Only Ninja Can Stop Me Now, Merunduk, dan Only Almarhum Ninja Can Stop My Tamborine. Keunikkan lain ialah mereka menganggap bahwa The PanasDalam Band ini adalah sebuah negara dan perangkatnya dengan menyebut Negara Kesatuan Republik The PanasDalam. Bukan bermaksud melenceng aturan yang ada di masyakarat, lirik The PanasDalam Band ini memiliki keberanian dalam menyuarakan hal yang marginal dalam masyarakat. Band yang dipersonili oleh Erwin, Nawa, Roy, Pidi, Alga Indria, dan Budi ini melalui lirik lagu mereka yang berani dan nakal, The PanasDalam Band yang menyukai Rolling Stone ini juga melihat bagaimana perjuangan gender tetapi dengan cara mereka sendiri.

Pejuangan Gender dan Perjuangan Gender Terbalik

Kita sering mendengar kata Gender di lingkungan kita. Banyak definisi akan kata Gender ini dimana pemahaman gender masih sangat kurang dan sering didiskusikan dalam berbagai forum. Lebih jauh dari itu, sebenarnya perjuangan gender di lingkungan kita sering kita jumpai walaupun terkadang masih ada perbedaan hak antara laki – laki maupun perempuan. Dalam konteks perjuangan gender dimana seorang perempuan memiliki hak sama tinggi dan sejajar dengan hak yang dimiliki oleh laki – laki. Tidak hanya hak saja yang menjadikan perjuangan pernyetaraan gender tetapi juga tugas atau kewajiban yang diberikan antara laki – laki dan perempuan haruslah sama. Namun di masa yang telah berkembang ini masih saja permasalahan gender yang belum terselesaikan secara tuntas walaupun memang ada pernyataan bahwa gender dibentuk oleh konstruksi sosial budaya. Tetapi hal itu tidak akan menghambat perjuangan gender yang dilakukan oleh para aktifis gender. Dalam lingkup yang luas, perjuangan gender sebenarnya sangat berkembang. Bahkan saat ini kita sering mendengar istilah Woman in Development, Woman and Development, dan Gender and Development dimana istilah – istilah ini merupakan perjuangan gender yang sedang dikembangkan diberbagai dunia. Lepas dari beberapa istilah tersebut masih banyak diskriminasi gender yang terjadi di sekitar kita seperti marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasaan terhadap perempuan. Memperjuangkan gender bukanlah berarti mempertentangkan dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Tetapi, ini lebih kepada membangun hubungan (relasi) yang setara. Kesempatan harus terbuka sama luasnya bagi laki – laki dan perempuan.

Lalu apa yang dimaksud perjuangan gender terbalik? Seperti apa bentuk perjuangannya? Apakah pernah dilakukan? Pertanyaan seperti itu yang akan muncul ketika bertanya definisi perjuangan gender terbalik. Memang masih agak sulit memberikan pemaham akan perjuang gender terbalik ini. Melihat dari perjuangan gender pada umumnya dimana kebanyakaan memperjuangan hak dan kewajiban dari perempuan yang ingin sejajar dengan laki – laki. Namun beda dengan perjuangan gender terbalik ini, dimana perjuangan ini dilakukan oleh seorang laki – laki yang memiliki keinginan layaknya seorang perempuan. Apabila dikata seorang laki – laki ini sebagai transeksual mungkin belum bisa dikategorikan seperti itu melainkan dalam konteks perjuangan gender terbalik ini bagaimana seorang laki – laki yang memiliki peranan yang sama dilakukan layaknya perempuan (kecuali secara biologis) atau mungkin memiliki kesamaan dengan konsep Fatherhood. Dimana dalam konsep tersebut seorang laki – laki juga melakukan apa dilakukan perempuan pada umumnya (kecuali secara biologis).

Representasi Perjuangan Gender dan Gender Terbalik pada Lagu Frau – I’m A Sir dan The PanasDalam – Cita – Citaku

Layaknya perjuangan tanpa lelah, ini yang dilakukan oleh beberapa aktifis atau seseorang dalam memperjuangan gender. Frau menyuarakan perjuangan gendernya melalui lagu berbahasa inggris yang berjudul I’m A Sir. Sengaja atau tidak sengaja, Frau secara langsung ikut serta memperjuangkan gender dengan cara pandang Frau sendiri melalui musik klasik dan lirik lagu yang dibawakannya. Leilani yang dikenal sebagai Frau ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan berjuang dalam memperoleh pengakuan dari seluruh dunia. Dalam lirik lagu digambarkan oleh Frau bahwa perlu upaya yang kuat untuk seorang perempuan memperoleh pengakuan. Hal ini dapat kita lihat makna dari liriknya yaitu “I’d dress up like a sir, I’d dress up as asir, Stick on a mustache, a beard, and some speckles and put on a hat like a sir”. Perjuangan memperoleh pengakuan untuk seorang perempuan yang harus berpenampilan layaknya seorang Tuan (laki – laki). Representasi perjuangan ini tidak lepas bagaimana sosok perempuan yang masih dipandang sebagai yang kedua atau dimarginalkan akibat konstruksi struktur budaya dan sosial yang telah mendarah daging di masyarakat. Penggambaran perjuangan gender yang dilakukan oleh Frau tidak hanya pada lirik itu saja. Lirik berikutnya yaitu “ I’d step up like a sir, I’d step up as a sir, My queen shall lay her sword on my shoulders as I say my prayers to bless her”, dimana dapat digambarkan pula bahwa Frau ingin memberitahukan layaknya Sir (Tuan) seorang perempuan akan diakui lalu akan diberkati oleh Ratu layaknya Ratu memberkati seorang satria dengan meletakkan pedang dibahunya. Dalam realitas yang terjadi saat ini khususnya di budaya Jawa dimana Frau ini dibesarkan, sulit untuk perempuan mendapatkan kesetaraan yang sama dengan laki – laki. Bahkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi masih banyak perempuan di budaya Jawa yang di marginalkan. Hal ini juga representasi akan perjuangan Kartini pada saat penjajahan Belanda dimana Kartini berjuang untuk mendapatkan kesetaraan pendidikan dengan laki – laki namun apa dikata beliau harus berdiam diri dirumah dinikahkan oleh orang tuanya walaupun perjuang beliau tidak berhenti untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki – laki.

Belum selesai Frau menggambarkan perjuangan gendernya dilirik lagu I’m A Sir. Lirik berikutnya yaitu “The world would bloom as thye shout out my name loud and clear, The skies would cheer for my life and the cloud would appear to see me, just to see me, And I’d be quite a legend for the next hundred years, My life would never be ever so sad and no tears would trickle down my cheeks and my eyes”, dalam lirik ini digambarkan oleh Frau bahwa  kebahagiaan seorang perempuan yang sangat luar biasa ketika dia (perempuan) mendapatkan pengakuan dari lingkungannya bahkan dunia pun menyambut dengan ria gembira dan perempuan ini akan menjadi legenda atau dikenang hingga ratusan tahun. Dalam representasi perjuangan gender, apa yang digambarkan Frau pada bait lagu ini dapat kita lihat dalam kehidupan nyata dimana telah banyak perempuan yang meraih prestasi yang gemilang atau bahkan prestasi mereka (perempuan) lebih baik dibandingkan laki – laki. Inilah cara Frau menggambarkan perjuangan gender melalui musik klasiknya dan penggambaran lirik yang imajinatif. Seorang seniman musik yang memiliki cara tersendiri dalam merefleksikan apa yang terjadi pada dirinya atau pun masyarakat. Begitu pula Frau yang merefleksikan perjuangan gender ini sesuai apa yang dia rasa dan lihat di kehidupan sosial budaya Frau dibesarkan.

Berbeda pula cara pandang Frau (Leilani) melihat perjuangan gender dengan The PanasDalam Band ini. Bila Frau melihat perjuangan gender dari budaya jawa yang mengeduakan perempuan, The PanasDalam Band melihat perjuangan gender dari sisi laki – laki yang ingin menjadi sosok perempuan. Penggambaran yang unik dilakukan oleh The PanasDalam Band ketika dominasi laki – laki masih superior atas perempuan dimana muncul sosok laki – laki yang menginginkan dirinya terlahir sebagai perempuan. Penggambaran ini dapat kita bait lagu Cita – citaku.

Cita – cita ku ingin menjadi polwan

mana mungkin aku hanya lelaki
oh Tuhan…. , tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi bapak polwan

cita – citaku ingin jadi bu ahmad
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu…., jangan paksa aku
aku tak sudi jadi bapak ahmand

Reff:

sedih, hatiku sedih
terlahir sebagai seorang lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
terlahir sebagai seorang lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
ini bukan zaman siti nurbaya……

lagi….

seandainya…

aku boleh memilih sebelum dilahirkan,

betapa enak menjadi perempuan,
tinggal membuka aurat,

lelaki bekerja keras untuk mendapatkannya

cita – citaku ingin menjadi tomboy
mana mungkin aku hanya lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi lelaki tomboy

cita – citaku ingin jadi lesbian
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
aku tak sudi menjadi homo sex

ingat perjuangan belum selesai maka dari itu…..

dimana ada kemauan disana ada jalan
dimana ada kemaluan disini ada persoalan

 

Dari lirik tersebut dapat kita lihat bagaimana The PanasDalam Band menggambarkan suatu kejadian yang tidak biasa terjadi pada masyarakat umum yaitu seorang laki – laki yang mencita – citakan menjadi seorang perempuan. Bahkan laki – laki tersebut memohon pertolongan kepada Tuhan untuk laki – laki keperempuanan (seperti Bapak Polwan, Lelaki Tomboy). Dalam reff lagu Cita – citaku ini juga menggambarkan perasaan laki – laki tersebut yang sedih karena terlahir menjadi lelaki bahkan laki – laki ini tidak mau dipaksa menjadi laki – laki. Representasi perjuangan gender terbalik dari lirik ini ialah pada saat ini banyak perjuangan gender yang menyuarakan hak dan kewajiban perempuan harus setara dengan laki – laki, muncul sosok laki – laki yang menyuarakan bahwa laki – laki pun tidak salah apabila dapat melaksanakan hak dan kewajiban yang dibebankan kepada perempuan.

Melihat lebih dalam dan luas lagi dari lirik The PanasDalam Band yang berani dan nakal, kita dapat mengetahui pemaknaan perjuangan gender terbaliknya tidak hanya sekedar dalam hal hak dan kewajiban yang sama dibebankan kepada laki – laki, namun pemaknaannya juga menggambarkan sifat perempuan yang kelaki – lakian (Tomboy) dan penjalinan hubungan antar jenis kelamin. Sifat tomboy dapat dikaitan dengan perjuangan gender terbalik bahwa banyak penggambaran laki – laki menjadi Transeksual, namun laki – laki ini tidak ingin transeksual tetapi dia (laki – laki) menjadi perempuan yang maskulin bukan perempuan yang feminim. Untuk hubungan antar jenis kelamin masih terlalu sulit dimasukkan dalam kaitannya perjuangan gender dan perjuangan gender terbalik walaupun ada pendapat bahwa hubungan antar homosex atau heterosex itu tidak jadi permasalahan karena pandangan hubungan tersebut merupakan salah satu konstruksi sosial juga.

Lepas dari masalah tersebut, The PanasDalam secara jelas memberikan beberapa argumen yang agak kontrofersial namun dalam penggambaran kehidupan yang terjadi memang seperti hal tersebut yaitu perempuan dilihat hanya sebagai dalam lingkup jenis kelamin saja tetapi bukan karena peran dan tugas mereka (perempuan). The PanasDalam juga menambahkan bahwa perjuangan untuk melawan ketidaksamaan perilaku dalam gender belum berakhir walaupun dalam lirik tersebut terpotong sehingga memberikan yang multi-makna untk mengartikannya.

Melalui lirik yang berani dan aliran musik balladnya, The PanasDalam Band menyuarakan perjuangan gender terbalik mereka. Bahwa tidak hanya perempuan yang harus setara hak dan kewajibannya dengan laki – laki tetapi laki – laki juga memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan apa yang telah dibebankan kepada perempuan selama ini tanpa harus dipaksa kalau laki – laki hanya boleh melakukan apa yang dikatakan oleh konstruksi kategorikan sebagai laki – laki.

Dalam Bingkai Atribusi Sosial

Frau dan The PanasDalam Band merrupakan dua seniman musik yang unik dalam mengungkapan apa yang mereka rasa dan apa yang sedang terjadi pada sekitar mereka. Melalui bait – bait dalam lagu mereka, kita diberikan gambaran dengan sudut pandang yang tidak biasa sehingga terkadang terlihat aneh dan lucu. Lebih dari itu apa yang telah diungkapkan kedua seniman ini merupakan refleksi kehidupan sosial atau pun budaya yang telah dikonstruksi sebelumnya. Gambaran tersebut memberikan kepada kita cara pandang yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan.

Dalam bingkai atribusi sosial, dimana dalam definisinya bahwa memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu menjadikan kita dapat mengetahui alasan kedua seniman ini membuat lirik yang unik sehingga menimbulkan tafsir yang tidak umum tentang gender pada umumnya. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain atau kejadian. Atribusi juga merupakan posisi tanpa perlu disadari pada saat melakukan sesuatu menyebabkan orang-orang yang sedang menjalani sejumlah tes bisa memastikan apakah perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan orang lain dapat merefleksikan sifat-sifat karakteristik yang tersembunyi dalam dirinya, atau hanya berupa reaksi-reaksi yang dipaksakan terhadap situasi tertentu. Dalam kerterkaitan perjuangan gender dan gender terbalik yang dilakukakn oleh Frau dan The PanasDalam Band, dimana suatu situasi yang tanpa disadari oleh kita sepenuhnya dijadikan oleh Frau dan The PanasDalam Band memberikan refleksi terhadap situasi gender melalui media musik sebagai tempat pengungkapannya. Tekanan situasi yang terjadi di sekitar Frau dan The PanasDalam terhadap gender secara langsung menyebabkan kedua seniman ini untuk bersuara dan mengungkapkan apa yang terjadi atau menkonter sosialkan kondisi yang terjadi.

Dari Bingkai Semiotika

Dari sudut pandang semiotika, dalam penyusunan teks atau kalimat yang  digunakan oleh Frau dan The PanasDalam memiliki makna tersendiri. Bahkan pilihan kata yang digunakan untuk menyusun teks dalam juga memiliki makna tersendiri. Menurut Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal) (Yusita Kusumarini,2006). Sejalan dengan oleh Barthes ini, dalam makna lirik dari Frau dapat dijelaskan bahwa apa yang dilukisan Frau dalam lirik I’m A Sir – perempuan berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari sekitarnya haurs berpenampilan layaknya laki – laki. Representasi yang hadir dalam lirik itu merupakan perjuangan gender di budaya Jawa dan pada saat zaman R.A. Kartini. Sedangkan makna yang muncul dalam lirik Cita – citaku ialah seorang laki – laki pada umumnya harus berperan sesuai apa yang disampaikan konstruksi sosial tentang laki – laki. Laki – laki tidak boleh berperan diluar konteks tersebut. Namun dibalik oleh The PanasDalam Band bahwa peran keibuaan yang dilakukan perempuan juga bisa dan layak dilakukan oleh laki – laki karena hal tersebut merupakan sebuah pilihan bukan paksaan sehingga muncul konsep FatherHood.

Kesimpulan

Setelah mengurai makna bait lagu Frau dan The PanasDalam Band, kita melihat bagaimana penggambaran yang dilakukan kedua seniman ini untuk gender. Frau merepresentasikan gender dengan sosok perempuan yang berdandan layaknya laki – laki untuk mendapatkan pengakuan. Hal ini tidak lepas dari kultur dan histori yang mengelilingi kehidupan Frau yaitu kebudayaan Jawa.  Kondisi tersebut menyebabkan Frau merefleksikan perjuangan gender yang sangat sulit untuk perempuan guna mendapatkan pengakuan atau kesetaraan.

Berbeda halnya dengan The PanasDalam Band walaupun sama – sama mengusung gender tetapi mereka melihat dari sisi yang terbalik dari umumnya yaitu laki – laki juga boleh peran layaknya peran keibuaan yang dilakukan oleh perempuan. Representasi seperti itu merupakan penyebab adanya kondisi konstruksi sosial dimana seorang laki – laki harus berperan layaknya konstruksi yang telah definisikan terhadap laki – laki. Sehingga apabila terjadi maka walaupun dia berkelamin laki – laki tetapi dia bukan laki – laki. Namun kondisi tersebut dilawan oleh The PanasDalam Band dengan menciptakan lagu Cita – citaku sebagai upaya bahwa laki – laki juga boleh berperan layaknya peran keibuan dari perempuan dengan mengusung konsep FatherHood.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://widagdosenimusik.blogspot.com/2009/07/pengertian-musik-musik-pada-

hakikatnya.html. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://cahisisolo.com/artikel/seni-musik/pengertian-seni-musik.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://carapedia.com/pengertian_definisi_musik_info2091.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://yunaysbloggerroom.blogspot.com/2011/02/arti-musik-menurut-para-ahli.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://ahli-definisi.blogspot.com/2011/02/definisi-musik.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://ochanbhancine.wordpress.com/2009/12/05/pengertian-musik/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://stiebanten.blogspot.com/2011/10/pengertian-musik-dari-berbagai-tokoh.htm

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://yudhie78.wordpress.com/2012/02/20/gender-adalah-definisi-pengertian-jender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://pramareola14.wordpress.com/2009/03/10/memahami-arti-gender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://paramadina.wordpress.com/2007/03/16/pengertian-gender/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://id.shvoong.com/society-and-news/gender/2220358-pengertian-gender-menurut-para-

ahli/. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://aryabimantara.wordpress.com/2006/01/25/merekonstruksi-paradigma-gender-upaya-

meluruskan-pemahaman-tentang-gender1/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

https://www.facebook.com/notes/the-panasdalam/profil-the-panasdalam-band/473410631838

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://www.myspace.com/ffrau/blog (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://frau-bio.blogspot.com/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://idhamputra.wordpress.com/2008/10/21/pengantar-teori-representasi-sosial/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://teddykw1.wordpress.com/2008/03/07/teori-representasi-sosial/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://akhfa14.wordpress.com/2012/02/06/representasi-sosial/. (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://kangarul.com/tiga-subyek-stuart-hall/ (diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://susisitisapaah.blogspot.com/2011/09/atribusi-sosial.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://solehamini.blogspot.com/2010/05/atribusi-memahami-penyebab-perilaku.html

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://mbokmenik.wordpress.com/2011/11/12/tentang-semiotika-roland-barthes/

(diunduh tanggal 27 Juli 2012)

http://junaedi2008.blogspot.com/2009/01/teori-semiotik.html (diunduh tanggal 27 Juli 2012)